SIDRAP β Dua tahun memang bukan waktu yang panjang. Namun, cukup untuk meninggalkan jejak.
AKBP Dr. Fantry Taherong memahami itu. Sebab, beberapa hari lagi ia tak lagi berdiri sebagai Kapolres Sidrap. Tongkat komando akan berpindah. Ia dipercaya mengemban amanah baru sebagai Kabag Binkar Polda Sulawesi Selatan.
Menjelang serah terima jabatan (Sertijab), Fantry memilih meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar laporan capaian, angka pengungkapan kasus, atau deretan penghargaan.
Ia meninggalkan pesan.
Pesan yang sederhana. Tetapi dalam.
Pesan yang tidak ditujukan kepada masyarakat. Melainkan kepada seluruh personel Polres Sidrap yang selama hampir dua tahun menjadi rekan seperjuangannya.
“Teruslah mengabdi kepada masyarakat.”
Kalimat itu terdengar biasa. Namun Fantry menambahkan satu kalimat yang justru menjadi penegas maknanya.
“Teruslah mengabdi walaupun tidak ada sorotan kamera wartawan.”
Di situlah letak pesannya.
Mengabdi bukan karena ingin viral.
Bekerja bukan demi masuk berita.
Melayani bukan agar dipuji.
Sebab sejatinya polisi bekerja bukan untuk mengejar tepuk tangan. Yang mereka kejar adalah rasa aman masyarakat.
Fantry tampaknya ingin mengingatkan bahwa tugas kepolisian sering kali berlangsung di ruang-ruang yang tidak pernah terlihat publik. Ada anggota yang berjaga hingga dini hari. Ada yang menenangkan keluarga korban kecelakaan. Ada yang mengatur lalu lintas di tengah hujan deras. Ada pula yang menyelesaikan persoalan warga tanpa pernah menjadi tajuk utama media.
Semua itu tetap bernilai, meski tak pernah direkam kamera.
Selama memimpin Polres Sidrap, Fantry dikenal cukup dekat dengan masyarakat. Ia beberapa kali turun langsung ke lapangan, menyambangi desa, berdialog dengan warga hingga mengawal berbagai agenda pemerintah daerah.
Kini, ketika masa tugasnya di Sidrap segera berakhir, ia tidak berbicara tentang dirinya sendiri.
Ia justru berbicara tentang keberlanjutan pelayanan.
Tentang bagaimana institusi harus tetap berjalan, siapa pun pemimpinnya.
Baginya, pergantian jabatan adalah hal biasa dalam organisasi Polri. Yang tidak boleh ikut berganti adalah semangat pengabdian.
Karena masyarakat tidak menunggu siapa yang menjabat.
Masyarakat hanya ingin dilayani.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa jabatan hanyalah amanah yang datang dan pergi. Tetapi integritas, loyalitas, dan keikhlasan dalam melayani adalah nilai yang harus tetap hidup.
Fantry juga berharap seluruh personel Polres Sidrap terus menjaga kekompakan, profesionalisme, disiplin, serta hubungan harmonis dengan masyarakat.
Menurutnya, kepercayaan publik tidak dibangun dalam semalam. Ia lahir dari ribuan tindakan kecil yang dilakukan dengan tulus setiap hari.
Mulai dari senyum kepada warga, respons cepat terhadap laporan, hingga keberanian mengambil keputusan yang benar meski tidak ada yang melihat.
Mungkin itulah warisan terbesar yang ingin ia tinggalkan.
Bukan sekadar prestasi di atas kertas.
Melainkan budaya kerja.
Budaya mengabdi tanpa menghitung siapa yang menyaksikan.
Sebab kamera bisa mati.
Lampu sorot bisa padam.
Berita hari ini pun akan tergantikan oleh berita esok.
Tetapi setiap kebaikan yang diberikan kepada masyarakat akan selalu hidup dalam ingatan mereka.
Dan mungkin, itulah bentuk penghargaan yang sesungguhnya bagi seorang anggota Polri.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
