Sidrap, Katasulsel.com — Angkanya menarik perhatian.
Hanya dari lahan 2 hektare, pemuda asal Desa Sereang, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Fajar Abdul Azis, berhasil memanen 18.705 kilogram gabah.
Jika dibulatkan, hasilnya mencapai 18,7 ton.
Dengan luas lahan tersebut, produktivitasnya berada di kisaran 9,3 ton gabah per hektare.
Yang membuat angka itu semakin menarik adalah nilai ekonominya.
Dengan harga gabah Rp7.700 per kilogram, 18.705 kilogram gabah tersebut memiliki nilai sekitar Rp143,8 juta.
Jadi, dari dua hektare lahan, produksi Fajar menembus angka hampir Rp144 juta dalam satu kali panen.
2 Hektare, 18.705 Kilogram
Panen tersebut berlangsung di kawasan Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) Desa Sereang.
Fajar mengelola lahan tersebut bersama Kelompok Tani Harapan Tani.
Angka produksinya kemudian terlihat lebih jelas jika dihitung per hektare.
18.705 kilogram ÷ 2 hektare = 9.352,5 kilogram per hektare.
Atau sekitar 9,35 ton gabah per hektare.
Angka inilah yang menjadi salah satu catatan menarik dari panen tersebut.
Bukan lahan yang luas yang menjadi kekuatan utamanya, melainkan produktivitas.
Rp143,8 Juta dari Sekali Panen
Jika seluruh hasil panen dihitung menggunakan harga Rp7.700 per kilogram, maka:
18.705 kg × Rp7.700 = Rp143.818.500.
Nilai produksinya sekitar Rp143,8 juta.
Tentu angka tersebut merupakan nilai kotor hasil panen dan belum dikurangi biaya produksi.
Namun, dari sisi potensi ekonomi, hasil tersebut memperlihatkan bahwa lahan pertanian dua hektare dapat menghasilkan nilai produksi yang cukup besar ketika dikelola secara optimal.
Bukan Petani Tua
Ada satu angka lain yang tak kalah penting.
Fajar adalah anak muda.
Ia memilih mengelola lahan pertanian ketika sektor ini kerap dianggap kurang menarik bagi generasi muda.
Padahal, angka dari lahan yang dikelolanya justru menunjukkan cerita berbeda.
Dua hektare.
18,7 ton gabah.
9,3 ton per hektare.
Nilai produksi sekitar Rp143,8 juta.
Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa pertanian dapat dihitung sebagai sebuah usaha, bukan sekadar pekerjaan tradisional.
Ada Teknologi, Ada Pendampingan
Hasil tersebut juga tidak lahir begitu saja.
Fajar mendapat pendampingan dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Sereang), Sapriyadi, S.P.
Ia juga mendapat dukungan dari orang tuanya, H. Abdul Azis.
Pengelolaan lahan dilakukan dalam kawasan PM-AAS bersama Kelompok Tani Harapan Tani.
Teknologi dan sistem pertanian modern menjadi bagian dari proses produksi.
Dengan demikian, tingginya hasil panen tidak hanya berbicara tentang kemampuan lahan, tetapi juga tentang bagaimana teknologi, pengelolaan dan pendampingan diterapkan di lapangan.
Angka yang Berbicara
Panen Fajar akhirnya menghadirkan deretan angka yang sulit diabaikan:
2 hektare lahan.
18.705 kilogram gabah.
18,7 ton produksi.
Sekitar 9,3 ton per hektare.
Rp143.818.500 nilai produksi.
Di balik angka tersebut ada pesan yang lebih besar.
Bahwa pertanian masih memiliki ruang yang luas bagi generasi muda.
Dan di Sereang, Fajar sedang menunjukkan bahwa menjadi petani bukan berarti harus identik dengan hasil yang kecil.
Kadang, cukup dua hektare sawah untuk membuktikan bahwa pertanian bisa menghasilkan angka yang besar. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
