Kepulauan Selayar, Katasulsel.com – Kalau perjalanan ke sebuah daerah biasanya dihitung dari berapa kilometer jaraknya, Kepulauan Selayar punya cara lain untuk mengukur perjalanan.
Ada jalan darat yang harus dituntaskan lebih dulu. Ada Pelabuhan Bira di Kabupaten Bulukumba yang menjadi salah satu pintu penting menuju Selayar. Setelah itu, perjalanan berubah wajah: kendaraan masuk ke kapal, garis pantai perlahan menjauh, dan laut menjadi jalan yang harus dilalui.
Di situlah perjalanan menuju Kepulauan Selayar terasa berbeda.
Selayar memang berada di bagian selatan Sulawesi Selatan. Namun bagi orang yang datang dari Makassar atau daerah lain di daratan Sulsel, perjalanan ke sana bukan sekadar berpindah dari satu kabupaten ke kabupaten lain. Ada bagian perjalanan yang benar-benar berlangsung di atas laut.
Dan justru bagian itulah yang membuat perjalanan ke Selayar punya cerita sendiri.
Dari Makassar, perjalanan menuju Selayar dimulai lewat daratan
Bagi wisatawan dari Makassar, perjalanan menuju Kepulauan Selayar umumnya membawa mereka ke arah selatan Sulawesi Selatan, melewati wilayah seperti Gowa, Takalar, Jeneponto hingga Bulukumba.
Bulukumba kemudian menjadi titik penting.
Di daerah inilah terdapat Pelabuhan Bira, salah satu simpul transportasi yang menghubungkan daratan Sulawesi Selatan dengan Pulau Selayar melalui lintasan Bira–Pamatata.
Lintasan ini bukan sekadar jalur wisata. Ia menjadi bagian dari mobilitas masyarakat, distribusi barang, kendaraan, hingga perjalanan pulang-pergi warga Selayar.
ASDP mencatat lintasan Bira–Pamatata sebagai salah satu lintasan penyeberangan komersialnya. Dalam periode Januari–Juni 2024 saja, lintasan Pamatata–Bira dan Pelabuhan Bira yang juga terhubung dengan sejumlah rute lain melayani puluhan ribu penumpang dan kendaraan.
Artinya, kapal yang terlihat bergerak meninggalkan Bira setiap hari bukan hanya membawa wisatawan yang ingin mencari pantai.
Ada orang yang sedang pulang kampung. Ada kendaraan yang membawa kebutuhan. Ada warga yang bepergian untuk urusan keluarga, pekerjaan, pendidikan, maupun keperluan lainnya.
Ketika jalan raya berhenti, laut mengambil alih
Inilah bagian yang membuat perjalanan ke Selayar berbeda.
Dari Bira, perjalanan tidak bisa lagi diteruskan dengan kendaraan di atas aspal.
Mobil, sepeda motor, bus, dan penumpang masuk ke kapal penyeberangan. Setelah kapal bergerak, pemandangan yang sebelumnya dipenuhi jalan, rumah dan pepohonan berganti menjadi laut terbuka.
Lintasan Bira–Pamatata selama bertahun-tahun menjadi urat nadi penting bagi hubungan Bulukumba dan Kepulauan Selayar.
ASDP bahkan menyebut lintasan tersebut berperan dalam memperkuat konektivitas sekaligus mendukung logistik masyarakat Selayar. Kapal penyeberangan bukan hanya alat untuk membawa orang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, tetapi juga menjadi penghubung aktivitas ekonomi dua wilayah.
Dalam konteks itu, perjalanan menuju Selayar sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum wisatawan tiba di pantai.
Perjalanannya dimulai ketika seseorang memilih meninggalkan daratan utama dan mempercayakan sebagian rute kepada laut.
Bira dan Pamatata, dua nama yang penting dalam perjalanan ke Selayar
Bagi orang yang baru pertama kali mencari informasi tentang cara ke Selayar, dua nama ini hampir pasti akan muncul: Bira dan Pamatata.
Bira berada di Kabupaten Bulukumba, sedangkan Pamatata berada di Kabupaten Kepulauan Selayar.
Keduanya dipisahkan oleh laut, tetapi terhubung melalui layanan penyeberangan.
ASDP sebelumnya mencatat waktu tempuh lintasan Bira–Pamatata sekitar 85 menit pada layanan KMP Takabonerate yang mulai beroperasi pada 2021. Durasi perjalanan tentu dapat dipengaruhi kondisi operasional dan cuaca, sehingga waktu keberangkatan maupun layanan yang tersedia sebaiknya selalu dicek kembali sebelum berangkat.
Bagi wisatawan, angka sekitar satu jam lebih di atas kapal mungkin terdengar singkat.
Namun bagi warga yang menjadikan jalur tersebut sebagai bagian dari rutinitas, laut punya arti yang lebih besar.
Ia adalah jalan yang setiap hari digunakan untuk menghubungkan kehidupan di pulau dengan daratan utama.
Perjalanan ke Selayar tidak selalu tentang mengejar tempat wisata
Salah satu kesalahan ketika membicarakan Kepulauan Selayar adalah langsung melompat kepada daftar pantai dan tempat wisata.
Padahal, sebelum sampai ke destinasi, ada cerita perjalanan yang tidak kalah menarik.
Selayar merupakan wilayah kepulauan. Karena itu, hubungan masyarakat dengan laut tidak berhenti di lintasan Bira–Pamatata.
Dalam dokumen tata ruang Sulawesi Selatan, sejumlah pelabuhan di Kepulauan Selayar tercatat memiliki hubungan dengan berbagai wilayah dan pulau, termasuk Pattumbukan, Kayuadi, Bonerate, Kalatoa dan Jampea. Pelabuhan Sinjai juga tercatat memiliki jalur menuju kawasan Kepulauan Sembilan dan Pasimaranu Selayar.
Gambaran tersebut menunjukkan sesuatu yang sederhana: semakin jauh masuk ke kawasan kepulauan, semakin penting pula transportasi laut.
Jalan tidak selalu berupa aspal.
Kadang jalan itu berupa dermaga, lambung kapal dan jalur laut yang sudah dikenal masyarakat dari generasi ke generasi.
Ada alasan mengapa perjalanan ini menarik bagi wisatawan
Bagi wisatawan, perjalanan menuju Selayar memberikan pengalaman yang tidak didapat ketika bepergian sepenuhnya lewat jalur darat.
Perubahan suasananya terasa bertahap.
Dari Makassar yang ramai, perjalanan bergerak menuju kawasan selatan Sulawesi Selatan. Ketika memasuki Bulukumba, suasana perjalanan mulai dekat dengan kawasan pesisir. Kemudian di Bira, perjalanan kembali berubah.
Kendaraan berhenti.
Penumpang menunggu.
Kapal menjadi moda berikutnya.
Setelah itu, laut mengambil porsi terbesar dari perjalanan.
Bagi sebagian orang, bagian ini mungkin dianggap sekadar perpindahan. Tetapi bagi wisatawan yang menikmati perjalanan, penyeberangan justru bisa menjadi bagian dari pengalaman menuju destinasi.
Selayar tidak langsung muncul begitu saja di depan mata.
Ada proses untuk mencapainya.
Dan proses itu membuat tujuan terasa lebih jauh, sekaligus lebih berkesan.
Tiket kapal kini bisa dibeli secara digital
Perjalanan menuju Selayar juga mengalami perubahan mengikuti perkembangan layanan transportasi.
ASDP meluncurkan pembelian tiket ferry secara online untuk rute Bira–Pamatata pada 2024 melalui sistem Ferizy. Digitalisasi ini ditujukan untuk memudahkan masyarakat mengakses layanan penyeberangan sekaligus mendukung mobilitas orang dan barang antara Selayar dan wilayah daratan Sulawesi Selatan.
Bagi wisatawan, perubahan seperti ini cukup penting.
Sebelum berangkat, perjalanan dapat direncanakan lebih baik. Namun jadwal, tarif, dan ketentuan perjalanan tetap perlu diperiksa melalui kanal resmi karena layanan penyeberangan dapat berubah mengikuti kondisi operasional dan cuaca.
Hal tersebut bukan perkara kecil.
Perjalanan laut sangat bergantung pada kondisi perairan. ASDP sendiri pernah menghentikan sementara layanan Bira–Pamatata ketika terjadi cuaca ekstrem dan ada peringatan terkait kondisi gelombang.
Jadi, ketika merencanakan perjalanan ke Selayar, jangan hanya bertanya, “Kapal berangkat jam berapa?”
Pertanyaan lainnya juga penting: bagaimana kondisi cuaca dan apakah layanan berjalan normal?
Sesampainya di Selayar, perjalanan belum tentu selesai
Ini yang sering terlupakan.
Tiba di Pamatata bukan berarti seluruh perjalanan wisata di Kepulauan Selayar telah selesai.
Justru dari sinilah karakter kepulauan mulai terasa.
Selayar memiliki wilayah daratan dan pulau-pulau lain yang membutuhkan konektivitas berbeda. Wisatawan yang datang dengan tujuan tertentu perlu menyesuaikan kembali perjalanan setelah tiba di wilayah Selayar.
Ada perjalanan menuju pusat kabupaten. Ada perjalanan menuju kawasan pesisir. Ada pula rute yang membutuhkan transportasi laut kembali jika tujuan berada di pulau lain.
Karena itu, Selayar lebih tepat dipahami sebagai perjalanan berlapis.
Makassar atau kota asal menjadi titik awal. Bulukumba menjadi gerbang darat. Bira menjadi titik keberangkatan. Pamatata menjadi pintu masuk Selayar. Setelah itu, perjalanan kembali bercabang sesuai tujuan.
Justru rangkaian itulah yang membuat Kepulauan Selayar menarik.
Selayar bukan terlalu jauh, hanya punya cara berbeda untuk dicapai
Bagi sebagian orang di Sulawesi Selatan, Selayar mungkin terasa jauh karena harus menyeberang laut.
Namun jarak geografis bukan satu-satunya ukuran sebuah perjalanan.
Ada daerah yang bisa dicapai berjam-jam dengan kendaraan tanpa pernah merasa benar-benar berpindah suasana. Selayar berbeda. Di sini, laut menjadi bagian nyata dari perjalanan.
Bahkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan pernah memasukkan Selayar sebagai salah satu tujuan dalam program mudik gratis dari Makassar, dengan penyeberangan Bira–Pamatata yang dijamin melalui layanan ASDP. Ini memperlihatkan betapa pentingnya jalur tersebut bagi hubungan masyarakat Selayar dengan daratan utama Sulsel.
Pada akhirnya, perjalanan menuju Kepulauan Selayar memang tidak sekadar soal naik kapal.
Ada Bulukumba yang menjadi pintu menuju laut.
Ada Bira dengan dermaganya.
Ada Pamatata sebagai pintu masuk ke Selayar.
Dan ada laut yang untuk sesaat menjadi jalan utama.
Mungkin itulah yang membuat perjalanan ke ujung selatan Sulawesi Selatan terasa berbeda.
Kita tidak hanya datang ke sebuah destinasi.
Kita mengalami proses untuk sampai ke sana.
Dan bagi Kepulauan Selayar, perjalanan itu sendiri sudah menjadi bagian dari cerita.
