Bulukumba, Katasulsel.com — Tujuh batu tersusun di sebuah kawasan yang kini dikenal sebagai Dusun Batu Tujua, Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba.

Batu-batu tersebut bukan sekadar bagian dari bentang alam. Di tempat inilah jejak pemerintahan Bulukumpa Toa masih tersimpan. Situs yang dikenal sebagai Batu Tujua atau Batu Pallantikang itu dahulu digunakan sebagai tempat musyawarah adat dan pelantikan para pemangku adat atau gallarang.

Nama Batu Tujua sendiri merujuk pada keberadaan tujuh batu di lokasi tersebut. Dalam riwayat lokal yang dihimpun dalam sejumlah penelitian mengenai Desa Salassae, ketujuh batu itu dikaitkan dengan tujuh wilayah gallarang dalam pemerintahan Bulukumpa Toa.

Tujuh Batu dan Tujuh Gallarang

Catatan sejarah Desa Salassae yang dikutip dalam penelitian UIN Alauddin Makassar menyebut Batu Tujua sebagai lokasi pelantikan gallarang Bulukumpa Toa.

Tujuh wilayah gallarang yang disebut dalam catatan tersebut adalah Bulukumpa Toa, Bulo Lohe, Bingkarongo, Bulo-Bulo, Kambuno, Jojjolo, dan Bontoa.

Dalam struktur pemerintahan lokal pada masa tersebut, gallarang berperan sebagai pemangku adat dan pemimpin wilayah.

Karena itu, Batu Tujua tidak hanya berkaitan dengan pelantikan seseorang. Lokasi tersebut menjadi bagian dari sistem pemerintahan lokal yang pernah berkembang di wilayah Bulukumpa.

Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bulukumba juga mencatat Batu Tujua sebagai situs peninggalan sejarah yang dahulu berfungsi sebagai tempat musyawarah adat sekaligus lokasi pelantikan raja-raja dan pemangku adat dalam lingkup Kerajaan Bulukumpa Toa.

Tempat Musyawarah Sebelum Keputusan Diambil

Selain pelantikan, Batu Tujua juga memiliki fungsi sebagai ruang musyawarah.

Tujuh batu yang berada di lokasi tersebut digambarkan sebagai tempat duduk para tokoh ketika membahas persoalan bersama. Riwayat mengenai fungsi ini masih muncul dalam kehidupan masyarakat Salassae hingga sekarang.

Pada Agustus 2026, misalnya, situs Batu Tujua kembali digunakan sebagai tempat musyawarah pemuda Desa Salassae untuk membahas pengaktifan kembali organisasi Karang Taruna. Kepala Desa Salassae Gito Sukamdani menyebut pemanfaatan lokasi itu sebagai upaya menghidupkan kembali salah satu fungsi situs yang dikenal sejak masa Bulukumpa Toa.

Dengan begitu, penggunaan Batu Tujua sebagai ruang pertemuan tidak sepenuhnya berhenti pada masa pemerintahan lama.

Fungsi sosialnya kembali digunakan dalam konteks yang berbeda.

Berada di Salassae

Batu Tujua berada di Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa.

Desa Salassae memiliki lima dusun, yakni Maremme, Bonto Tangga, Batu Tujua, Bolongnge, dan Batu Hulang. Wilayah ini merupakan bagian dari kawasan yang dalam catatan sejarah lokal dikaitkan dengan Bulukumpa Toa.

Pemerintah Kabupaten Bulukumba memasukkan Situs Pallantikan Batu Tujua dalam daftar cagar budaya atau peninggalan purbakala di Kecamatan Bulukumpa. Data Profil Daerah Kabupaten Bulukumba juga mencatat situs tersebut bersama sejumlah peninggalan sejarah lainnya di wilayah Bulukumpa.

Dalam pendataan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bulukumba, Batu Tujua juga disebut sebagai situs yang masih dijaga dan digunakan dalam kegiatan adat atau budaya masyarakat Salassae.

Pernah Digunakan untuk Pelantikan di Masa Kini

Fungsi Batu Tujua sebagai lokasi pelantikan kembali dihidupkan pada 2021.

Pada 12 April 2021, Kepala Desa Salassae Gito Sukamdani melantik Sapri sebagai pelaksana kewilayahan atau kepala Dusun Batu Tujua. Pelantikan tersebut ditempatkan di Situs Batu Tujua atau Batu Pallantikang, berbeda dari pelantikan kepala dusun yang biasanya dilakukan di gedung pertemuan.

Penggunaan situs tersebut pada 2021 menjadi penanda bahwa tempat yang dahulu berkaitan dengan pelantikan gallarang masih dipakai untuk kegiatan pemerintahan dan sosial masyarakat, meski dalam bentuk yang berbeda.

Pada 2026, aktivitas di lokasi tersebut kembali muncul melalui kegiatan musyawarah pemuda Desa Salassae.

Batu Tujua dan Riwayat Bulukumpa Toa

Sejumlah sumber mengenai sejarah Salassae menempatkan Batu Tujua dalam riwayat pemerintahan Bulukumpa Toa. Dalam catatan tersebut, Salassae disebut pernah menjadi tempat pertemuan dan musyawarah, termasuk berkaitan dengan pelantikan gallarang.

Namun, sejarah Bulukumpa dan asal-usul penamaannya memiliki sejumlah versi dalam sumber lokal. Karena itu, riwayat mengenai hubungan Batu Tujua dengan pembentukan wilayah dan pemerintahan Bulukumpa perlu dibaca berdasarkan sumber masing-masing dan tidak disederhanakan menjadi satu versi tunggal.

Yang tercatat secara lebih konsisten adalah keberadaan Situs Pallantikan Batu Tujua di Desa Salassae sebagai peninggalan sejarah Bulukumpa, termasuk fungsinya sebagai lokasi musyawarah dan pelantikan pemangku adat atau gallarang.

Tujuh batu tersebut hingga kini tetap berada di Dusun Batu Tujua, Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba. Namanya terus digunakan untuk menyebut situs sekaligus dusun tempat peninggalan sejarah tersebut berada.(*)