Bulukumba, Katasulsel.com – Di galangan kapal Bonto Bahari, kayu tidak sekadar disusun menjadi lambung. Ada ukuran yang diperhitungkan, bagian yang dirangkai, dan keterampilan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di tengah pekerjaan itu, ada panrita lopi, para ahli pembuat perahu yang menjadi bagian penting dalam tradisi pembuatan Pinisi di Bulukumba.
Kawasan pembuatan Pinisi berada di sejumlah wilayah pesisir Bonto Bahari, antara lain Ara, Tanah Lemo, Darubiah, dan Lembanna. Tradisi tersebut menjadikan Bulukumba lekat dengan sebutan Butta Panrita Lopi, tanah para ahli pembuat perahu.
Pinisi bukan sekadar kapal tradisional. UNESCO menetapkan seni pembuatan perahu Pinisi sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2017. Tradisi tersebut mencakup pengetahuan dan keterampilan masyarakat Sulawesi Selatan dalam membuat perahu, termasuk pembagian kerja antara panrita atau punggawa sebagai kepala tukang dan sawi sebagai para tukang.
Pengetahuan itu tidak berhenti pada bentuk kapal.
Ia mencakup cara memilih kayu, mengolah bahan, menyusun bagian kapal, hingga memahami tahapan pembuatannya. Keterampilan tersebut diwariskan melalui praktik dan pengalaman, sehingga proses belajar tidak hanya berlangsung lewat penjelasan, tetapi juga melalui keterlibatan langsung di galangan.
Kayu menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut. Bahan yang digunakan harus memiliki karakter tertentu agar mampu membentuk kapal yang kuat dan sesuai kebutuhan. Setelah bahan tersedia, pekerjaan berlanjut pada penyusunan bagian-bagian kapal secara bertahap.
Di sinilah peran panrita lopi menjadi penting. Ia mengawasi pekerjaan dan memastikan pembagian tugas berjalan. Sementara itu, sawi mengerjakan bagian-bagian kapal sesuai keahlian masing-masing.
Pembuatan Pinisi juga memiliki tahapan yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat pembuatnya. Salah satunya adalah annyorong lopi, prosesi mendorong atau meluncurkan perahu yang telah selesai dibuat.
Tradisi annyorong lopi di Bonto Bahari telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2018. Prosesi tersebut menjadi bagian dari rangkaian tradisi masyarakat dalam pembuatan dan peluncuran perahu.
Pinisi kemudian meninggalkan galangan dan berhadapan dengan laut. Namun, pengetahuan yang membuatnya dapat berdiri tidak ikut pergi.
Pengetahuan itu tetap berada di tangan para pembuatnya.
Di Bulukumba, tradisi tersebut juga terus bersentuhan dengan perkembangan zaman. Pembuatan Pinisi tidak lagi hanya berbicara tentang kebutuhan transportasi dan perdagangan seperti pada masa lalu. Kapal-kapal yang dibuat kini juga digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk pariwisata.
Perubahan fungsi tidak serta-merta menghapus pengetahuan lama. Justru di situlah keterampilan para pembuat kapal diuji: mempertahankan pengetahuan yang diwariskan sambil menyesuaikannya dengan kebutuhan yang terus berubah.
Pada Januari 2026, misalnya, sebuah Pinisi kembali diluncurkan di Desa Bira, Kecamatan Bonto Bahari. Pemerintah Kabupaten Bulukumba menyebut peluncuran tersebut sebagai bagian dari upaya mempertahankan budaya maritim dan mengembangkan potensi ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Dari kejauhan, Pinisi mungkin hanya terlihat sebagai kapal dengan layar yang menjulang. Namun, sebelum sampai ke laut, ada pekerjaan panjang yang berlangsung di daratan.
Kayu dipilih. Bagian kapal disusun. Tangan bekerja mengikuti ukuran dan pengalaman. Panrita lopi mengawasi, sementara sawi menyelesaikan bagian-bagian yang menjadi tanggung jawabnya.
Di galangan Bonto Bahari, kapal terus dibuat. Yang ikut bertahan bersamanya bukan hanya bentuk Pinisi, melainkan pengetahuan tentang bagaimana sebuah kapal dibuat oleh tangan manusia.(*)
