Bulukumba, Katasulsel.com – Di pesisir selatan Sulawesi Selatan, ada sebuah desa yang menyimpan dua wajah sekaligus. Satu menghadap bentang alam berupa tebing dan laut lepas. Satu lagi tumbuh dari pengetahuan masyarakat yang sejak lama membangun kapal kayu untuk mengarungi lautan.

Tempat itu adalah Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba.

Desa Ara merupakan desa wisata rintisan yang memiliki sejumlah potensi, mulai dari Tebing Apparalang, Pantai Mandala Ria, hingga kawasan gua. Di sisi lain, Ara juga dikenal sebagai salah satu wilayah yang menjadi tempat tumbuhnya tradisi pembuatan kapal Pinisi.

Karena itu, perjalanan ke Ara tidak hanya menawarkan pemandangan.

Ada bentang pesisir yang bisa dijelajahi, sekaligus pengetahuan maritim yang masih diwariskan masyarakatnya.

Tebing Batu yang Berhadapan dengan Teluk Bone

Salah satu daya tarik Desa Ara adalah Tebing Apparalang.

Kawasan ini memiliki karakter berbeda dari pantai yang biasanya mengandalkan hamparan pasir. Apparalang justru menawarkan tebing batu yang berdiri di sisi laut dan menghadap ke Teluk Bone.

Lanskap tersebut menjadi salah satu potensi wisata utama Desa Ara. Selain Apparalang, pemerintah juga mencatat Pantai Mandala Ria dan Gua Passohara sebagai bagian dari potensi wisata desa.

Dari kawasan tebing, pengunjung dapat menikmati bentang laut dari ketinggian.

Karakter alam seperti ini membuat Apparalang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mencari lanskap pesisir, terutama untuk menikmati pemandangan dan fotografi.

Namun, tebing juga berarti pengunjung perlu memperhatikan keselamatan. Area yang berbatasan langsung dengan laut tidak seharusnya dijelajahi tanpa memperhatikan kondisi medan dan cuaca.

Ara Tidak Hanya Tentang Tebing

Menjadikan Apparalang sebagai satu-satunya alasan datang ke Ara berarti melewatkan bagian lain dari desa ini.

Desa Ara memiliki kawasan gua dan pantai yang melengkapi karakter wisatanya. Pemerintah pariwisata daerah juga mencatat keberadaan Gua Passohara sebagai salah satu potensi wisata alam di desa tersebut.

Kondisi ini membuat Desa Ara menarik untuk dijelajahi sebagai satu kawasan, bukan sekadar tempat singgah untuk berfoto.

Wisatawan dapat menikmati lanskap pesisir, kemudian melihat kehidupan masyarakat yang tumbuh di kawasan yang sama.

Sebab, cerita terbesar Ara justru berada di antara daratan dan laut.

Desa Para Pembuat Pinisi

Di Bulukumba, laut tidak hanya menjadi pemandangan.

Laut juga menjadi ruang hidup.

Desa Ara termasuk salah satu kawasan yang menjadi pusat pembuatan Pinisi di Kecamatan Bontobahari. UNESCO mencatat bahwa pusat pembuatan kapal Pinisi berada di kawasan Tana Beru, Bira, dan Batu Licin, dengan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam laporan UNESCO mengenai pelestarian tradisi tersebut, Desa Ara, Desa Bira, dan Tana Beru disebut sebagai tiga kawasan utama pembuatan kapal di Bontobahari. Masyarakat setempat masih mempertahankan teknik tradisional pembuatan kapal, termasuk melalui pelatihan langsung di galangan.

Di sinilah istilah panrita lopi menjadi penting.

Panrita lopi merupakan ahli dalam pembuatan kapal yang menguasai pengetahuan mengenai bentuk, bagian, konstruksi, hingga proses pembangunan kapal. UNESCO mencatat bahwa pengetahuan tersebut tidak hanya diwariskan dalam keluarga, tetapi juga diteruskan kepada orang lain melalui pembagian kerja dan proses belajar.

Jadi, ketika wisatawan melihat sebuah Pinisi berdiri di galangan, yang terlihat sebenarnya bukan hanya sebuah kapal.

Di baliknya terdapat pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.

Pinisi Diakui UNESCO

Keahlian pembuatan Pinisi dari Sulawesi Selatan telah mendapat pengakuan internasional.

Pada 2017, Pinisi, art of boatbuilding in South Sulawesi masuk dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity UNESCO. Organisasi tersebut menyebut pembuatan dan pengoperasian Pinisi sebagai bagian dari tradisi panjang pembuatan kapal dan navigasi masyarakat Austronesia.

UNESCO juga mencatat bahwa pembuatan kapal menjadi bagian penting dari kehidupan dan identitas masyarakat di kawasan pusat pembuatan Pinisi.

Pengetahuan itu tidak diwariskan melalui buku saja.

Para calon pembuat kapal belajar melalui praktik, pembagian kerja, dan keterlibatan langsung di galangan.

Itulah yang membuat perjalanan ke Desa Ara dapat memiliki pengalaman berbeda.

Wisatawan bukan hanya melihat hasil akhirnya, tetapi juga berada di wilayah tempat pengetahuan tersebut terus dipraktikkan.

Bagaimana Menuju Desa Ara dari Makassar?

Desa Ara berada di Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba.

Dari Makassar, perjalanan dapat ditempuh melalui jalur darat dengan jarak sekitar 190 kilometer dan waktu tempuh sekitar lima hingga enam jam, tergantung kondisi perjalanan. Pusat Kabupaten Bulukumba berjarak sekitar 40 kilometer dari Desa Ara.

Pilihan paling praktis adalah menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan sewaan.

Wisatawan dari Makassar dapat bergerak menuju Bulukumba, kemudian melanjutkan perjalanan ke Kecamatan Bontobahari dan Desa Ara.

Karena sejumlah objek berada dalam satu kawasan, perjalanan akan lebih efektif jika wisatawan tidak hanya menentukan satu titik tujuan.

Apparalang dapat menjadi salah satu titik utama, kemudian perjalanan dilanjutkan dengan mengeksplorasi potensi alam lain di Desa Ara dan kawasan sekitar Bontobahari yang berkaitan dengan pembuatan Pinisi.

Waktu yang Tepat untuk Menjelajah

Karakter Desa Ara sangat berkaitan dengan aktivitas luar ruang.

Karena itu, perjalanan sebaiknya disusun dengan memperhitungkan kondisi cuaca dan waktu perjalanan. Kawasan tebing dan pantai lebih nyaman dieksplorasi ketika kondisi terang dan cuaca mendukung.

Wisatawan juga sebaiknya tidak memaksakan diri mendekati bibir tebing ketika kondisi angin atau gelombang tidak bersahabat.

Untuk pengalaman yang lebih lengkap, perjalanan dapat dibuat dalam satu rangkaian: menikmati lanskap pesisir, mengunjungi titik wisata alam, kemudian melihat aktivitas pembuatan Pinisi di kawasan Bontobahari.

Dengan begitu, Ara tidak hanya menjadi tujuan untuk mendapatkan foto.

Ketika Alam dan Pengetahuan Bertemu

Desa Ara memperlihatkan sisi lain Bulukumba yang sering tertutup popularitas Tanjung Bira.

Daya tariknya tidak hanya terletak pada laut atau tebing.

Ada pengetahuan masyarakat yang ikut membentuk identitas tempat tersebut.

Tebing Apparalang memperlihatkan bagaimana daratan bertemu laut. Kawasan gua dan pantai memperlihatkan kekayaan bentang alamnya. Sementara galangan Pinisi menunjukkan bagaimana masyarakat setempat membangun hubungan dengan laut melalui keterampilan yang diwariskan lintas generasi.

Di Desa Ara, wisata akhirnya tidak berhenti pada apa yang bisa dilihat.

Ada sesuatu yang bisa dipahami.

Bahwa di pesisir Bulukumba, laut bukan hanya panorama di kejauhan. Ia juga menjadi ruang tempat masyarakat bekerja, belajar, membangun kapal, dan mempertahankan pengetahuan yang membuat nama Sulawesi Selatan dikenal hingga dunia.