Bulukumba, Katasulsel.com – Sebuah kapal tidak lahir hanya dari kayu yang dipotong, dipaku, lalu disatukan menjadi badan kapal. Di tangan pembuat perahu tradisional di Sulawesi Selatan, proses itu berawal jauh sebelum sebuah layar mengembang di laut.

Ada ukuran yang harus diperhitungkan, bentuk yang harus dibaca, kayu yang harus dipilih, serta tahapan kerja yang tidak bisa dilakukan sembarangan. Sebagian pengetahuan itu tidak ditemukan dalam gambar teknik modern. Ia diwariskan melalui pengalaman, pengamatan, dan praktik dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Di Bulukumba, pengetahuan tersebut hidup dalam tradisi pembuatan perahu yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir. Salah satu sosok penting di dalamnya dikenal sebagai panrita lopi, sebutan bagi ahli pembuat perahu tradisional Bugis-Makassar.

Istilah itu bukan sekadar sebutan untuk tukang perahu.

Seorang panrita lopi memiliki pengetahuan mengenai konstruksi kapal, pemilihan bahan, pembacaan kondisi lingkungan, hingga berbagai aturan yang menyertai proses pembuatannya.

Karena itu, ketika sebuah kapal phinisi berdiri di atas galangan, yang terlihat sebenarnya hanya bagian akhirnya.

Di baliknya ada pengetahuan yang telah melewati banyak tangan.

Kapal Dibangun dari Pengetahuan yang Diwariskan

Tradisi pembuatan perahu phinisi di Sulawesi Selatan telah menjadi bagian penting dari kebudayaan maritim masyarakat Bugis-Makassar. UNESCO memasukkan Art of boatbuilding in South Sulawesi ke dalam daftar Warisan Budaya Takbenda pada 2017.

UNESCO mencatat bahwa pengetahuan dan keterampilan pembuatan perahu tersebut diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi ini berkembang terutama di wilayah Sulawesi Selatan dan menjadi bagian dari identitas masyarakat pembuat perahu.

Di dalam proses tersebut, pembuat kapal tidak sekadar mengikuti pola yang sama berulang kali. Mereka menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman untuk menyesuaikan konstruksi kapal dengan kebutuhan dan kondisi yang dihadapi.

Di sinilah menariknya.

Sebuah kapal bisa terlihat seperti benda mati.

Tetapi proses membuatnya memperlihatkan bagaimana manusia membaca lingkungan.

Kayu Bukan Sekadar Bahan Bangunan

Pemilihan kayu menjadi salah satu bagian penting dalam pembuatan perahu tradisional.

Jenis kayu, ukuran, kualitas, dan kondisi bahan harus diperhatikan sebelum digunakan. Pengetahuan mengenai kayu tidak berhenti pada pertanyaan apakah kayu tersebut kuat atau tidak.

Pembuat perahu juga perlu memahami bagaimana bahan itu akan bekerja ketika menjadi bagian dari kapal.

Kayu yang menjadi bagian dasar kapal harus memiliki karakter yang sesuai. Bagian lain membutuhkan pertimbangan berbeda. Setiap komponen harus ditempatkan dengan memperhatikan fungsi dan konstruksi keseluruhan.

Pengetahuan semacam ini tidak selalu disampaikan dalam bentuk teori tertulis.

Seorang anak yang tumbuh di lingkungan pembuat perahu dapat belajar dengan melihat orang yang lebih tua bekerja. Ia mengamati cara memilih kayu, mengukur bagian kapal, menyusun konstruksi, dan memperbaiki kesalahan.

Lama-kelamaan, pengamatan berubah menjadi keterampilan.

Keterampilan berubah menjadi keahlian.

Dan keahlian kemudian diwariskan.

Tidak Ada Kapal yang Berdiri Sendiri

Pembuatan phinisi juga memperlihatkan adanya pembagian kerja dalam masyarakat pembuat perahu.

Satu orang tidak mengerjakan semuanya.

Ada yang mengerjakan bagian tertentu dari konstruksi. Ada yang menyiapkan bahan. Ada yang mengerjakan sambungan. Ada yang memahami bagian kapal tertentu lebih baik daripada yang lain.

Proses panjang tersebut membuat sebuah kapal menjadi hasil kerja kolektif.

Di galangan, hubungan antara manusia dan kapal juga tidak berhenti pada urusan teknis. Pembuatan perahu tradisional memiliki berbagai aturan dan ritual yang berkaitan dengan tahapan pengerjaan.

UNESCO mencatat bahwa pembuatan perahu tradisional di Sulawesi Selatan juga mencakup ritual yang berkaitan dengan pemilihan kayu, pembangunan, peluncuran, hingga penggunaan perahu.

Artinya, kapal tidak hanya diperlakukan sebagai alat transportasi.

Ia berada di dalam ruang kebudayaan masyarakat yang membuatnya.

Dari Tanah Bulukumba Menuju Laut

Bulukumba memiliki tempat penting dalam sejarah pembuatan perahu tradisional Sulawesi Selatan.

Kawasan pesisir seperti Tanah Beru dikenal sebagai salah satu sentra pembuatan perahu tradisional. Di tempat ini, masyarakat dapat melihat proses pembangunan kapal secara langsung, dari konstruksi awal hingga kapal siap diluncurkan.

Pemandangan tersebut memperlihatkan sesuatu yang jarang ditemukan dalam industri modern.

Kapal yang ukurannya sangat besar dapat dibangun tanpa seluruh proses bergantung pada mesin otomatis.

Tangan manusia masih memegang peran penting.

Pengalaman masih menjadi bagian dari proses.

Dan pengetahuan lokal masih digunakan untuk mengambil keputusan.

Ketika Pengetahuan Tidak Ditulis, Bagaimana Ia Bertahan?

Pertanyaan ini menjadi penting ketika generasi berubah.

Tradisi dapat bertahan selama pengetahuan di dalamnya masih dipelajari. Tetapi ketika anak muda tidak lagi tertarik mengikuti pekerjaan orang tua atau ketika pekerjaan tradisional tidak lagi memberikan penghidupan yang cukup, rantai pewarisan dapat terganggu.

Di sisi lain, pembuatan kapal tradisional juga tidak berhenti pada masa lalu.

Para pembuat perahu harus berhadapan dengan perubahan kebutuhan, teknologi, bahan, pasar, serta tuntutan keselamatan kapal.

Tradisi akhirnya berada di antara dua kebutuhan.

Mempertahankan pengetahuan lama.

Sekaligus menyesuaikannya dengan dunia yang terus berubah.

Di situlah keberlanjutan tradisi pembuatan phinisi menjadi persoalan yang lebih besar daripada sekadar mempertahankan bentuk kapal.

Yang perlu dijaga bukan hanya kapalnya.

Tetapi juga orang-orang yang mengetahui cara membuatnya.

Phinisi dan Ingatan tentang Laut

Sulawesi Selatan memiliki sejarah panjang sebagai wilayah yang masyarakatnya berhubungan erat dengan laut. Perahu menjadi bagian dari mobilitas, perdagangan, penangkapan ikan, dan hubungan antarkawasan.

Phinisi kemudian menjadi salah satu simbol yang paling mudah dikenali dari tradisi maritim tersebut.

Namun, sebuah kapal tidak seharusnya hanya dilihat ketika sudah menjadi objek wisata atau simbol daerah.

Sebelum menjadi foto, kapal itu pernah menjadi pekerjaan.

Sebelum menjadi warisan budaya, ia merupakan pengetahuan.

Dan sebelum layar terkembang di laut, ada orang-orang yang berdiri di galangan, mengukur kayu, menyusun bagian demi bagian, lalu memastikan sebuah kapal siap menghadapi air.

Mungkin itu sebabnya melihat phinisi dari kejauhan tidak pernah cukup.

Kita melihat dua tiang layar.

Kita melihat badan kapal.

Kita melihat kayu yang mengapung di laut.

Tetapi di baliknya ada pengetahuan yang tidak selalu tertulis, diwariskan bukan melalui buku, melainkan melalui tangan yang bekerja dan mata yang terus mengamati.

Dan selama masih ada generasi yang mau belajar dari tangan-tangan itu, sebuah kapal tidak hanya sedang dibuat.

Sebuah pengetahuan sedang mencari cara untuk tetap berlayar.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Makassar hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Makassar terbaru di sini