Bulukumba, Katasulsel.com — Sebelum menjadi sarung hitam yang dikenakan masyarakat Kajang, kain itu bermula dari benang yang masih berwarna terang.
Benang tersebut belum langsung ditenun.
Ia terlebih dahulu dicelup ke dalam pewarna yang dibuat dari daun tarum.
Daunnya direndam selama dua hari dua malam. Setelah itu, daun diperas untuk mengambil sarinya. Cairan tersebut kembali didiamkan hingga warnanya menjadi lebih pekat sebelum digunakan untuk mewarnai benang.
Benang kemudian dicelup satu per satu.
Setelah diangkat, benang tidak langsung dianggap selesai. Ia harus dibilas berulang-ulang, sekitar 10 hingga 12 kali, sampai air bilasannya benar-benar jernih.
Dari proses panjang itulah warna hitam pada Tope Le’leng, sarung tradisional masyarakat adat Kajang di Kabupaten Bulukumba, terbentuk.
Daunnya Diproses Lebih Dulu
Daun tarum bukan sekadar bahan tambahan.
Dalam penelitian mengenai teknologi tradisional pembuatan Tope Le’leng, daun tersebut disebut sebagai bahan alamiah yang digunakan masyarakat Kajang untuk menghitamkan benang.
Tanaman tarum ditanam di sekitar rumah atau kebun warga. Daunnya dapat dipetik ketika tanaman telah mencapai usia sekitar lima bulan. Setelah beberapa kali dipanen, warga perlu menunggu pertumbuhan daun berikutnya sebelum kembali memetiknya.
Dalam proses pewarnaan, kapur juga digunakan. Campuran tersebut membantu warna pada benang agar tidak mudah luntur setelah diolah menjadi kain.
Karena itu, warna hitam Tope Le’leng tidak muncul begitu saja ketika kain selesai ditenun.
Ada proses panjang sebelum benang sampai ke alat tenun.
Baru Setelah Itu Benang Disusun
Setelah proses pewarnaan selesai, benang mulai dipersiapkan untuk ditenun.
Benang lungsi disusun melalui proses yang disebut ma’ngane. Penyusunan ini dilakukan menggunakan alat dari bambu dan kayu yang disebut ngane.
Alat tersebut berfungsi membentuk susunan benang sekaligus menentukan panjang dan lebar kain yang akan dibuat.
Benang untuk bagian pakan juga disiapkan melalui tahapan tersendiri.
Setelah semua siap, barulah proses attannung, atau menenun, dilakukan.
Para penenun Kajang menggunakan alat tenun bukan mesin atau gedogan. Alat ini masih menjadi bagian dari proses pembuatan Tope Le’leng di masyarakat Kajang. Pemerintah Kabupaten Bulukumba juga mencatat bahwa pertenunan tradisional Kajang dilakukan menggunakan alat tenun gedogan.
Kainnya Masih Dikerjakan Setelah Diturunkan dari Alat Tenun
Ada satu tahap yang membuat proses pembuatan Tope Le’leng semakin menarik.
Setelah kain selesai ditenun, pekerjaan belum berhenti.
Permukaannya masih harus digosok.
Tahap ini disebut maggarusu’.
Dalam praktik tradisional, kain digosok menggunakan bagian keras dari cangkang kerang atau keong. Proses tersebut membuat permukaan kain menjadi lebih keras sekaligus memberikan efek mengilap.
Jadi, jika melihat selembar Tope Le’leng yang sudah jadi, bagian permukaannya merupakan hasil dari beberapa pekerjaan yang dilakukan secara bertahap.
Benang diwarnai.
Benang disusun.
Benang ditenun.
Kemudian kain digosok.
Satu Sarung Bisa Memakan Waktu Berhari-hari
Lamanya proses membuat selembar Tope Le’leng tidak sebentar.
Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sulawesi Selatan mencatat bahwa proses pembuatan satu lembar kain tenun Kajang dapat memakan waktu sekitar 7 hingga 10 hari, bergantung pada tingkat kerumitan motif.
Penelitian tentang pembuatan Tope Le’leng juga menunjukkan bahwa keterampilan tersebut diwariskan dalam keluarga. Pengetahuan mengenai cara menenun dipelajari dari orang tua dan lingkungan sekitar, termasuk melalui praktik langsung.
Karena itu, keterampilan membuat kain tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengoperasikan alat tenun.
Ada pengetahuan mengenai tanaman yang digunakan sebagai pewarna, cara mengolahnya, cara memperlakukan benang, sampai teknik menyelesaikan kain setelah ditenun.
Hitam yang Dibuat dari Lingkungan Sekitar
Tope Le’leng dikenal sebagai kain tenun tradisional berwarna hitam dari masyarakat adat Kajang Ammatoa di Kabupaten Bulukumba.
Warna hitamnya menjadi ciri yang paling mudah dikenali.
Namun, di balik warna tersebut terdapat rangkaian proses yang cukup panjang.
Daun tarum yang tumbuh di sekitar lingkungan warga diproses menjadi pewarna. Benang dicelup dan dibilas berulang kali. Setelah itu benang disusun dan ditenun menggunakan gedogan.
Ketika kain sudah terbentuk, permukaannya masih digosok menggunakan cangkang hingga menghasilkan tampilan yang lebih mengilap.
Pada 2025, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX juga melakukan studi mengenai Tenun Kajang Tope Le’leng di masyarakat adat Kajang. Studi tersebut dilakukan melalui observasi, wawancara, dan diskusi dengan penenun serta sejumlah pihak terkait.
Sementara itu, proses perlindungan Tenun Kajang melalui indikasi geografis juga sedang didorong karena karakter produksinya berkaitan erat dengan bahan dan teknik tradisional yang berkembang di Kajang.
Maka, warna hitam yang terlihat sederhana pada selembar Tope Le’leng sebenarnya melewati banyak tangan, alat, bahan, dan waktu.
Sebelum menjadi sarung, ia lebih dulu menjadi benang yang dicelup daun tarum.
Sebelum menjadi kain, benang itu disusun dan ditenun.
Dan setelah kain selesai, permukaannya masih digosok satu per satu.
Hitamnya bukan sekadar warna.
Ia adalah hasil dari proses yang panjang.
