Barru, Katasulsel.com — Dua tiang tinggi berdiri di lapangan. Di antara keduanya tergantung sebuah ayunan yang ukurannya jauh dari bayangan ayunan anak-anak pada umumnya.

Tali yang menopangnya pun bukan tali plastik atau tambang biasa.

Di Desa Paccekke, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, tali ayunan itu dibuat dari kulit kerbau.

Ayunan raksasa tersebut dikenal dengan nama Mattojang Paccekke. Tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 315/M/2023.

Ukuran ayunannya memang tidak biasa.

Sebuah kajian tentang pembangunan desa berkelanjutan di Paccekke mencatat Mattojang di desa tersebut memiliki tinggi sekitar 10 meter.

Dari bawah, orang yang duduk di atasnya akan terlihat kecil.

Ketika ayunan mulai bergerak, dudukannya dapat terangkat jauh dari permukaan tanah.

Kulit Kerbau yang Dijadikan Tali

Bagian yang paling menarik justru berada pada penopangnya.

Mattojang pada umumnya menggunakan tali rotan. Namun, masyarakat Paccekke menggunakan kulit kerbau sebagai tali ayunan.

Keterangan mengenai Mattojang Paccekke yang dibawa dalam sidang penetapan WBTB menyebut tali tersebut masih digunakan dan bahkan disebut telah bertahan hingga generasi ketiga.

Penggunaan kulit kerbau sebagai tali ayunan juga tercatat dalam dokumentasi permainan rakyat Bugis-Makassar yang dihimpun pemerintah. Sumber tersebut menyebut larik, yakni tali dari kulit kerbau, sebagai salah satu perlengkapan Mattojang.

Jadi, ketika ayunan mulai ditarik, yang menahan dudukan bukan sekadar seutas tali.

Ada kulit kerbau yang telah diolah menjadi tali.

Tiangnya Bisa Belasan Meter

Untuk membuat Mattojang, masyarakat membutuhkan tiang yang tinggi.

Dokumentasi Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata menyebut Mattojang menggunakan batang kayu, umumnya kayu kapuk, dengan panjang lebih dari 12 meter pada salah satu bentuk permainan Mattojang di Sulawesi Selatan. Tali ayunannya dibuat dari kulit kerbau.

Sementara dokumentasi mengenai Paccekke mencatat ayunan raksasa di desa tersebut memiliki tinggi sekitar 10 meter.

Ukuran tersebut membuat Mattojang tidak bisa dipasang seperti ayunan biasa di halaman rumah.

Tiangnya harus berdiri kokoh.

Talinya harus cukup kuat.

Dan dudukan tempat orang berayun juga harus dipasang dengan perhitungan agar dapat bergerak pada ketinggian yang cukup jauh dari tanah.

Bukan Sekadar Duduk dan Berayun

Cara memainkan Mattojang juga berbeda dari ayunan biasa.

Dalam dokumentasi permainan rakyat Bugis-Makassar, pemain duduk pada sebuah dudukan kayu yang disebut tudangneg atau empo. Ayunan kemudian ditarik menggunakan alat yang disebut peppa.

Pada bentuk permainan yang didokumentasikan Jejaring Desa Wisata, dua pasang laki-laki menarik ayunan secara bergantian hingga dudukannya mencapai ketinggian sekitar tujuh meter dari tanah. Ayunan kemudian bergerak bolak-balik beberapa kali.

Karena ukurannya, Mattojang membutuhkan lebih dari sekadar orang yang ingin bermain.

Ada orang yang menyiapkan tiang.

Ada yang memasang tali.

Ada pula orang yang bertugas menarik dan mengendalikan gerakan ayunan.

Muncul Setelah Pesta Panen

Mattojang Paccekke berkaitan dengan kegiatan adat masyarakat setempat setelah masa panen.

Di Desa Paccekke, Mattojang menjadi bagian dari pesta adat masyarakat yang juga diisi dengan kegiatan Mappadendang, yakni pesta setelah panen. Pemerintah Kabupaten Barru mencatat Mattojang sebagai salah satu tradisi yang masih dijalankan masyarakat Paccekke.

Dalam konteks masyarakat Bugis, Mattojang juga dikaitkan dengan kisah turunnya Batara Guru dari Botting Langi dalam mitologi Bugis. Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata mencatat kisah tersebut sebagai salah satu latar cerita yang melekat pada permainan Mattojang.

Namun, pelaksanaan Mattojang di setiap daerah tidak selalu sama.

Paccekke memiliki cirinya sendiri.

Salah satunya adalah penggunaan kulit kerbau sebagai tali.

Paccekke Mempertahankannya

Mattojang sebenarnya dikenal di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.

Namun, Desa Paccekke memiliki bentuk pelaksanaan yang kemudian didaftarkan sebagai karya budaya tersendiri. Data Warisan Budaya Kementerian Pendidikan mencatat Mattojang Paccekke sebagai karya budaya asal Kabupaten Barru dengan domain adat istiadat, ritus, dan perayaan.

Tradisi tersebut masih dapat dijumpai dalam pesta adat masyarakat Paccekke.

Pada September 2025, misalnya, Mattojang kembali digelar bersama Mappadendang di Lapangan Monumen Nasional Desa Paccekke.

Ketika tiang-tiang tinggi mulai dipasang dan tali kulit kerbau kembali digunakan, bentuk ayunan itu langsung berbeda dari permainan yang biasa ditemui sehari-hari.

Dari kejauhan, yang terlihat hanya sebuah ayunan besar.

Tetapi ketika diperhatikan lebih dekat, penopangnya ternyata dibuat dari bahan yang tidak biasa: kulit kerbau yang dijadikan tali.

Dan di Paccekke, tali itulah yang membawa Mattojang bergerak tinggi di atas tanah.