Tana Toraja, Katasulsel.com — Tebing batu di Lemo dipenuhi lubang-lubang kecil. Dari bawah, bentuknya sekilas seperti deretan jendela yang dibuat pada dinding sebuah bangunan.

Tetapi tidak ada rumah di balik lubang-lubang itu.

Di sanalah makam dibuat.

Lemo merupakan kawasan pemakaman di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, dengan liang yang dipahat langsung pada dinding tebing. Kawasan Kuburan Batu dan Rumah Adat Lemo telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat nasional melalui SK Nomor PM.09/PW.007/MKP/2010.

Yang membuat pemandangan Lemo semakin mudah dikenali adalah patung-patung kayu yang berada di depan sejumlah liang.

Patung itu disebut tau-tau.

Di Balik Lubang Ada Liang

Masyarakat Toraja mengenal pemakaman pada gua dan tebing batu sebagai salah satu bentuk penguburan.

Di Lemo, ruang untuk menyimpan jenazah dibuat dengan memahat batu. Lubang-lubang tersebut memiliki ukuran yang berbeda dan tersebar mengikuti bentuk tebing.

Dokumentasi Visit Toraja mencatat sekitar 75 ceruk pada tebing Lemo. Ukurannya beragam, dari sekitar dua meter hingga kurang dari 50 sentimeter.

Dari bawah tebing, perbedaan ukuran itu tidak selalu terlihat.

Yang tampak justru pola lubang yang memenuhi permukaan batu.

Baru setelah mendekat, terlihat bahwa sebagian di antaranya memiliki pintu dan merupakan liang pemakaman.

Patung di Depan Makam Bukan Hiasan

Ada hal lain yang membuat Lemo mudah dikenali.

Di depan sejumlah liang berdiri patung-patung kayu berbentuk manusia.

Itulah tau-tau.

Sumber sejarah kebudayaan Kementerian Pendidikan menjelaskan tau-tau sebagai patung yang menyerupai manusia dan menjadi salah satu bagian dalam upacara kematian masyarakat Toraja. Patung tersebut ditempatkan di depan lubang tempat jenazah disimpan.

Di Lemo, tau-tau ditempatkan pada bagian depan liang dan terlihat berjajar dari kejauhan.

Posisinya membuat tebing pemakaman ini memiliki pemandangan yang berbeda. Ada pintu makam di dinding batu, kemudian sosok-sosok kayu berdiri di depannya menghadap ke kawasan di bawah.

Jumlahnya Puluhan

Dokumentasi kebudayaan Tana Toraja mencatat sekitar 75 liang batu kuno dan 40 tau-tau di kawasan Lemo. Tau-tau tersebut dikaitkan dengan para bangsawan dari Desa Lemo dan menjadi bagian dari penanda prestise, status, peran, serta kedudukan sosial.

Karena itu, tau-tau tidak dapat dipandang hanya sebagai patung yang dipasang untuk memperindah makam.

Keberadaannya berkaitan dengan siapa yang dimakamkan.

Tradisi pembuatan tau-tau sendiri berkaitan dengan upacara kematian, terutama bagi kalangan tertentu dalam masyarakat Toraja.

Maka, ketika deretan tau-tau terlihat di depan liang Lemo, ada pula cerita mengenai keluarga dan kedudukan sosial yang berada di baliknya.

Sudah Ada Sejak Abad ke-16

Lemo diperkirakan telah digunakan sebagai kawasan pemakaman sejak sekitar abad ke-16. Sumber mengenai Lemo mencatat situs ini memiliki 75 liang dan deretan tau-tau yang berkaitan dengan pemakaman bangsawan.

Nama Lemo sendiri dikaitkan dengan bentuk batu pada kawasan pemakaman yang menyerupai buah jeruk atau limau.

Namun yang paling mudah dikenali sampai sekarang bukan asal-usul namanya.

Melainkan tebingnya.

Lubang-lubang pemakaman dibuat langsung pada batu, lalu tau-tau ditempatkan di depannya.

Mengapa Makamnya Berada di Tebing?

Dalam kebudayaan Toraja, tempat pemakaman tidak selalu berada di tanah seperti makam pada umumnya.

Tebing dan gua batu menjadi bagian dari ruang pemakaman. Dalam rangkaian Rambu Solo’, jenazah dibawa menuju liang sebagai tempat peristirahatan terakhir.

Ketinggian liang juga bukan sekadar persoalan bentuk tebing.

Kajian mengenai Lemo mencatat bahwa penempatan makam di tebing yang tinggi berkaitan dengan pandangan masyarakat Toraja mengenai kedekatan dengan Tuhan. Pada saat yang sama, posisi tau-tau dan makam juga berkaitan dengan prestise serta kedudukan sosial bangsawan.

Itulah yang membuat satu dinding batu di Lemo dapat dibaca dengan cara berbeda.

Dari kejauhan, ia terlihat seperti tebing penuh lubang.

Dari dekat, lubang-lubang itu ternyata merupakan liang makam.

Dan patung-patung yang berdiri di depannya bukan sekadar pajangan, melainkan tau-tau yang menjadi bagian dari tradisi kematian masyarakat Toraja.

Kini, Kuburan Batu dan Rumah Adat Lemo tercatat sebagai cagar budaya tingkat nasional di Kabupaten Tana Toraja.

Tebingnya tetap menjadi penanda kawasan tersebut: batu yang dipahat menjadi liang, pintu-pintu kecil pada dindingnya, dan tau-tau yang masih berdiri di depan makam.