Toraja Utara, Katasulsel.com — Bagi orang yang belum mengenalnya, pakaian tradisional Toraja mungkin terlihat serupa. Ada kain, baju, dan berbagai perlengkapan yang dikenakan bersama.
Namun, perbedaan kecil pada bagian baju justru bisa menunjukkan jenis pakaian yang sedang dikenakan.
Salah satunya Bayu Toraya.
Dalam bahasa Toraja, bayu berarti baju. Bayu Toraya merupakan salah satu jenis pakaian tradisional Toraja yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2024, dalam domain keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional dengan lokasi persebaran di Kabupaten Toraja Utara.
Namanya memang sederhana.
Tetapi bentuknya menyimpan jejak cara masyarakat Toraja mengenakan pakaian, membedakan penggunaannya, hingga mempertahankan hasil kerajinan yang diwariskan.
Sekilas Mirip, Ternyata Berbeda
Bayu Toraya memiliki hubungan erat dengan bayu pokko’, jenis pakaian tradisional Toraja lainnya.
Keduanya sama-sama merupakan pakaian atasan. Namun, salah satu pembeda yang paling mudah dikenali terdapat pada bagian lengan.
Bayu Toraya memiliki lengan yang lebih panjang dibandingkan bayu pokko’. Literatur mengenai busana tradisional masyarakat Sulawesi Selatan juga mencatat Bayu Toraya sebagai pakaian khas Toraja dengan ciri lengan lebih panjang dan belahan pendek pada bagian dada.
Untuk pakaian laki-laki, Bayu Toraya dibuat dari bahan tenunan benang kapas. Bagian lehernya berbentuk bundar dengan belahan di bagian depan yang dilengkapi kancing.
Sementara pada perempuan, bagian leher juga berbentuk bundar. Bagian depan memiliki belahan, dengan bentuk lengan yang lebih panjang dibandingkan bayu pokko’.
Jadi, pembeda itu bukan sekadar soal model.
Ada bentuk yang membuat satu jenis pakaian dikenali sebagai Bayu Toraya.
Baju yang Dijahit dari Tenunan
Bayu Toraya tidak berdiri sendiri dalam busana tradisional Toraja.
Pakaian ini biasanya hadir bersama berbagai kelengkapan lain, termasuk dodo atau sambu, yaitu kain sarung tradisional, serta perlengkapan seperti passapu dan sepu’ dalam penggunaan tertentu.
Catatan penelitian tentang busana tradisional Sulawesi Selatan menyebut bahan Bayu Toraya berasal dari tenunan benang kapas. Di dalam tradisi kerajinan Toraja, pembuatan pakaian juga berjalan berdampingan dengan produksi kain dan berbagai kelengkapan busana lainnya.
Artinya, ketika melihat Bayu Toraya, yang tampak sebenarnya bukan hanya hasil jahitan sebuah baju.
Di belakangnya ada pekerjaan mengolah bahan, menenun, memilih bentuk, kemudian menjadikannya pakaian yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Pakaian akhirnya menjadi salah satu hasil dari keterampilan tangan yang diwariskan.
Pernah Dipakai dalam Kehidupan Sehari-hari
Bayu Toraya juga tidak selalu berada di ruang upacara.
Catatan etnografi mengenai pakaian masyarakat Toraja menyebut Bayu Toraya digunakan sebagai pakaian sehari-hari, terutama ketika laki-laki melakukan kegiatan di luar rumah. Pada perempuan, pakaian ini juga dicatat digunakan dalam aktivitas sehari-hari, bepergian, hingga menghadiri pesta.
Namun, penggunaannya dapat berbeda bergantung pada konteks sosial dan pemakainya.
Dalam beberapa perlengkapan busana tradisional, pakaian dan aksesori bahkan memiliki hubungan dengan kedudukan sosial.
Catatan lama mengenai busana Toraja, misalnya, menjelaskan adanya penggunaan kancing pada pakaian tertentu sebagai salah satu penanda sosial. Dalam konteks tersebut, pakaian tidak hanya berfungsi menutup tubuh, tetapi juga ikut menyampaikan identitas pemakainya.
Hal semacam ini membuat pakaian tradisional menarik untuk dilihat dari dekat.
Yang terlihat sebagai kain dan jahitan ternyata dapat membawa informasi tentang siapa yang mengenakannya dan dalam situasi apa pakaian tersebut digunakan.
Dari Pakaian, Menjadi Warisan Budaya
Bayu Toraya kemudian mendapatkan pengakuan dalam daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2024.
Dalam daftar penetapan tersebut, Bayu Toraya tercatat sebagai warisan budaya asal Sulawesi Selatan dengan lokasi persebaran Kabupaten Toraja Utara. Domainnya adalah keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional.
Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan juga mencatat Bayu Toraya sebagai salah satu karya budaya yang dilestarikan pada 2024.
Pengakuan tersebut menarik karena Bayu Toraya bukan sebuah bangunan besar atau benda yang berdiri di sebuah situs.
Ia adalah pakaian.
Sesuatu yang dikenakan tubuh dan dibuat melalui keterampilan manusia.
Karena itu, keberadaannya sangat bergantung pada pengetahuan tentang bahan, bentuk, cara membuat, serta kemampuan generasi berikutnya untuk mengenali dan meneruskannya.
Hari ini, orang mungkin mengenal pakaian Toraja dari warna dan aksesori yang mencolok.
Tetapi jika diperhatikan lebih dekat, ada detail yang lebih sederhana: panjang lengan, bentuk leher, belahan dada, bahan tenunan, hingga cara pakaian itu dikenakan.
Dari detail-detail kecil itulah Bayu Toraya mempertahankan namanya.
Bukan hanya sebagai baju.
Melainkan sebagai salah satu cara masyarakat Toraja menyimpan pengetahuan budaya di atas selembar kain.
