Enrekang, Katasulsel.com — Dua batang bambu berdiri tegak di bawah kaki. Tidak ada roda, tidak ada mesin, hanya pijakan kecil yang harus diinjak sambil tubuh menjaga keseimbangan.
Sekali salah langkah, pemain bisa kehilangan tumpuan.
Permainan seperti ini dikenal di Sulawesi Selatan dengan nama Ma’longga atau Mallongga. Di sejumlah daerah, permainan tersebut dikenal sebagai egrang. Dalam tradisi permainan Bugis, longga dibuat dari dua batang bambu yang dilengkapi pijakan untuk kaki.
Yang membuatnya menarik bukan cuma cara bermainnya.
Nama longga sendiri berkaitan dengan gambaran sesuatu yang tinggi atau jangkung. Sejumlah sumber tentang permainan tradisional Bugis bahkan mengaitkannya dengan cerita rakyat mengenai makhluk bertubuh tinggi.
Bambu Panjang, Pijakan Kecil
Longga sebenarnya menggunakan alat yang sederhana.
Dua batang bambu dipasang sejajar. Pada bagian bawahnya dibuat pijakan untuk kaki. Pemain kemudian berdiri di atas pijakan tersebut sambil memegang batang bambu dengan kedua tangan.
Dalam salah satu kajian tentang permainan tradisional Bugis-Makassar, ukuran bambu disesuaikan dengan pemain. Untuk pemain laki-laki, panjang bambu disebut sekitar 2,5 meter dengan pijakan sekitar 50 sentimeter dari tanah. Sementara untuk pemain perempuan, panjangnya sekitar 2 meter dengan pijakan sekitar 30 sentimeter.
Artinya, pemain memang sengaja dibuat berjalan lebih tinggi dari permukaan tanah.
Semakin tinggi pijakan, semakin besar pula kemampuan menjaga keseimbangan yang dibutuhkan.
Bagi pemain yang sudah mahir, longga dapat digunakan untuk berjalan hingga berlari pada lintasan tertentu. Permainan kompetitif dilakukan dengan berlomba mencapai garis akhir.
Jadi, ini bukan sekadar soal berani naik.
Pemain harus mampu mengatur gerakan kaki, tangan, dan tubuh sekaligus.
Ada Cerita tentang Makhluk yang Tinggi
Nama longga juga membawa imajinasi yang tidak biasa.
Dalam sejumlah sumber mengenai permainan tradisional Sulawesi Selatan, longgak disebut sebagai makhluk halus sejenis jin yang digambarkan memiliki tubuh sangat tinggi. Kata tersebut juga dikaitkan dengan makna tinggi atau jangkung.
Sementara kajian lain menyebut permainan Mallongga kemungkinan terinspirasi dari cerita rakyat mengenai sosok raksasa yang memiliki ukuran tubuh jauh lebih tinggi daripada manusia biasa.
Hubungan antara nama permainan dan cerita tersebut membuat longga terasa lebih dari sekadar dua batang bambu yang diberi pijakan.
Tubuh pemain dibuat tinggi.
Nama permainannya juga mengingatkan pada sesuatu yang tinggi.
Namun, sumber-sumber tersebut tidak sepenuhnya seragam mengenai asal-usul cerita itu. Karena itu, kisah tentang makhluk tinggi tersebut lebih tepat disebut sebagai cerita yang berkembang dalam penjelasan mengenai permainan, bukan sebagai satu-satunya versi sejarah longga.
Pernah Berkaitan dengan Kepercayaan Masyarakat
Longga juga menyimpan lapisan cerita yang lebih jauh.
Sebuah penelitian yang mengutip keterangan dari Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bone mencatat bahwa dalam kehidupan masyarakat Bugis masa lalu, Ma’longga pernah dikaitkan dengan pertunjukan dalam upacara adat dan kepercayaan masyarakat.
Dalam salah satu kepercayaan yang dicatat penelitian tersebut, permainan ini bahkan dikaitkan dengan upaya menangkal penyakit. Ketika wabah dianggap melanda sebuah kampung, tujuh orang pria disebut melakukan Ma’longga mengelilingi kampung sebanyak tujuh kali.
Bagian ini menunjukkan bahwa permainan tradisional pada masa lalu tidak selalu berdiri sebagai hiburan.
Ada permainan yang menjadi bagian dari cara masyarakat memahami lingkungan, penyakit, keselamatan, hingga hubungan manusia dengan sesuatu yang tidak terlihat.
Namun, praktik tersebut merupakan catatan mengenai kepercayaan masyarakat masa lalu dan tidak bisa serta-merta dianggap sebagai praktik yang masih dilakukan sekarang.
Longga Masih Dicatat di Enrekang
Jejak longga juga masih muncul dalam pemetaan budaya desa di Kabupaten Enrekang.
Desa Wisata Banua, Kecamatan Bungin, mencantumkan gasing, longga’, ma’padendang, dan Mendowa’ sebagai bagian dari sektor budaya dan seni desa. Desa tersebut juga mengembangkan potensi wisata alam dan budaya sebagai bagian dari identitas desanya.
Keterangan itu menarik karena menunjukkan bahwa longga tidak hanya muncul dalam buku-buku tentang permainan tradisional.
Namanya masih dicatat sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal.
Hari ini, egrang atau longga mungkin terlihat seperti permainan sederhana: dua batang bambu, dua pijakan, lalu seseorang mencoba berjalan di atasnya.
Tetapi ketika kaki sudah terangkat dari tanah, permainan itu berubah menjadi soal keseimbangan.
Satu kaki harus bergerak mengikuti kaki lainnya. Tangan menjaga arah. Tubuh mencari titik tengah agar tidak jatuh.
Barangkali di situlah alasan permainan seperti longga bertahan dalam ingatan.
Ia tidak membutuhkan banyak benda untuk membuat seseorang belajar satu hal yang paling dasar: kalau ingin berjalan lebih tinggi, keseimbangan harus dijaga lebih baik.
