Sidrap, Katasulsel.com — Namanya membuat orang membayangkan tujuh sumur yang berdiri sendiri di atas bukit. Namun, ketika sampai di kawasan Bujung Pitue, ceritanya ternyata sedikit berbeda.

Situs yang dikenal sebagai Sumur 7 Bidadari atau Bujung Pitue itu berada di Desa Lainungan, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).

Yang menarik, situs tersebut disebut memiliki sekitar 18 mata air yang keluar dari batu andesit. Nama “Bujung Pitue” atau “Tujuh Sumur” justru menjadi pintu masuk untuk mengenal kawasan yang sejak lama memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat setempat.

Bujung Pitue berada di kawasan perbukitan dengan ketinggian sekitar 183 meter di atas permukaan laut. Pemerintah Desa Lainungan menyebut kawasan tersebut dikembangkan sebagai salah satu potensi wisata desa, dengan perpaduan antara wisata alam dan budaya.

Dari Batu Andesit Keluar Mata Air

Bagi pengunjung, salah satu hal yang paling mudah menarik perhatian dari Bujung Pitue adalah keberadaan sumber airnya.

Menurut data pada Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata, mata air di kawasan tersebut keluar dari batu gunung atau batu andesit. Jumlahnya disebut kurang lebih 18 mata air.

Karena itu, istilah “Sumur 7 Bidadari” tidak perlu dibaca secara harfiah sebagai tujuh lubang sumur biasa.

Nama Bujung Pitue telah melekat pada kawasan tersebut, sementara sumber air yang berada di dalamnya disebut lebih banyak.

Situs ini juga berada di atas kawasan bukit yang menawarkan bentang alam terbuka. Pemerintah Desa Lainungan sebelumnya menyebut pengembangan kawasan Bujung Pitue diarahkan tidak hanya untuk pariwisata, tetapi juga untuk membuka peluang ekonomi masyarakat setempat.

Ada Tudang Sipulung Sebelum Turun ke Sawah

Bujung Pitue tidak hanya berkaitan dengan sumber air.

Dalam kehidupan masyarakat Desa Lainungan, kawasan tersebut juga dikaitkan dengan Tudang Sipulung, tradisi berkumpul dan duduk bersama sebelum masyarakat turun ke sawah.

Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata mencatat bahwa masyarakat Desa Lainungan melakukan ritual adat Tudang Sipulung setiap tahun di situs tersebut sebelum memasuki masa bercocok tanam.

Dalam tradisi itu, masyarakat mempercayai keberadaan situs Bujung Pitue membawa keberuntungan bagi mereka.

Di titik ini, air tidak hanya dilihat sebagai sumber daya alam.

Ia berada dalam ruang sosial masyarakat agraris, tempat keputusan dan harapan mengenai musim tanam dibicarakan bersama.

Karena itu, keberadaan Bujung Pitue dapat dibaca sebagai bagian dari hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka hidup.

Bukit yang Kini Dikembangkan Menjadi Wisata

Bujung Pitue berada di Dusun II Makkadae, Desa Lainungan, Kecamatan Watang Pulu.

Kawasan tersebut kini masuk dalam Desa Wisata Tujuh Sumur Bidadari Bujung Pitue yang tercatat pada Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata. Desa wisata ini berstatus rintisan dan menawarkan wisata budaya Bujung Pitue berdampingan dengan wisata alam di kawasan bukit.

Selain sumber mata air, kawasan tersebut juga dikembangkan dengan sejumlah fasilitas wisata. Data Jejaring Desa Wisata mencatat adanya area parkir, balai pertemuan, kafetaria, area swafoto, hingga tempat makan.

Pengembangan Bujung Pitue juga pernah menjadi perhatian pemerintah desa.

Dalam publikasi resmi Desa Lainungan pada 2024, Kepala Desa Lainungan Andi Haruna menyebut pengembangan wisata diarahkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menjaga potensi alam dan budaya desa.

Mengapa Disebut Tujuh Bidadari?

Pertanyaan tentang nama inilah yang membuat Bujung Pitue menarik.

Data resmi pariwisata yang tersedia saat ini menjelaskan Bujung Pitue sebagai situs yang memiliki sumber-sumber mata air dan menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat Lainungan. Namun, sumber tersebut tidak memberikan penjelasan rinci mengenai legenda asal-usul penyebutan “Tujuh Bidadari”.

Karena itu, cerita tentang bidadari sebaiknya tidak ditambahkan sebagai fakta tanpa keterangan dari masyarakat atau sumber sejarah yang lebih kuat.

Yang sudah dapat dipastikan adalah nama Bujung Pitue telah digunakan untuk kawasan tersebut, dan situsnya memiliki sumber mata air yang jumlahnya disebut sekitar 18 titik. Kawasan itu juga masih dikaitkan dengan pelaksanaan Tudang Sipulung sebelum masyarakat turun ke sawah.

Dari sebuah nama yang terdengar seperti cerita rakyat, Bujung Pitue justru membawa kita pada sesuatu yang lebih nyata: air, bukit, pertanian, dan cara masyarakat menjaga hubungan dengan ruang hidupnya.

Di Sidrap, tujuh sumur itu mungkin tidak berhenti pada angka tujuh.

Sebab di balik nama Bujung Pitue, ada mata air yang terus keluar dari batu, dan ada masyarakat yang masih membawa situs tersebut ke dalam percakapan tentang musim tanam dan kehidupan mereka.(*)