Barru, Katasulsel.com — Percakapan sehari-hari di sebuah kampung di pegunungan Barru tidak selalu terdengar seperti bahasa Bugis yang umum dikenal di Sulawesi Selatan.

Masyarakat di sana menggunakan bahasa yang mereka kenal sebagai Bahasa Bentong.

Bahasa tersebut digunakan oleh masyarakat To Bentong dan To Balo di Desa Bulo-Bulo, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru. Penelitian yang dilakukan di Dusun Lapatemmu pada 2024 mencatat Bahasa Bentong sebagai bahasa yang digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Nama To Bentong sendiri merujuk pada komunitas adat yang bermukim di wilayah pegunungan Bulo-Bulo.

Di tempat inilah bahasa menjadi salah satu penanda yang dapat membedakan kehidupan masyarakat setempat dengan komunitas di sekitarnya.

Bugis, Makassar, dan Konjo Bertemu di Satu Bahasa

Bahasa Bentong memiliki latar yang menarik.

Penelitian Khaerul Asy’ary Ulama’i tentang masyarakat To Balo menyebut Bahasa Bentong berasal dari percampuran bahasa Bugis, Makassar, dan Konjo.

Karena memiliki kosakata yang tidak seluruhnya mudah dipahami oleh masyarakat dari desa lain, bahasa tersebut juga dikenal dengan sebutan bahasa Manu-Manu. Penelitian itu mencatat penyebutan tersebut digunakan oleh penduduk desa lain di Kabupaten Barru karena masyarakat setempat dianggap lebih memahami bahasa tersebut.

Namun, Bahasa Bentong bukan hanya campuran beberapa bahasa.

Dalam penggunaannya, terdapat pula kosakata yang disebut sebagai kosakata asli Bentong.

Kepala Desa Bulo-Bulo, Rahman, dalam wawancara penelitian pada 25 Februari 2024 menjelaskan bahwa masyarakat setempat menggunakan Bahasa Bentong untuk berkomunikasi sehari-hari. Sebagian warga juga dapat menggunakan bahasa Bugis, tetapi Bahasa Bentong tetap digunakan dalam percakapan masyarakat setempat.

Begini Contoh Percakapannya

Bahasa akan lebih mudah dibayangkan ketika langsung melihat bentuk kalimatnya.

Penelitian tersebut mencatat beberapa contoh penggunaan Bahasa Bentong, di antaranya:

“Inai mapatang anne Posa?”

Artinya, “Siapa yang punya kucing ini?”

Ada pula kalimat:

“Kerei a’runganga nai’ ri Barru?”

Artinya, “Di mana jalan menuju Barru?”

Sementara:

“Ikatte ngaseng a ‘lingka-lingka Ri Barru”

berarti “Kita jalan-jalan ke Barru.”

Dari contoh tersebut terlihat bahwa Bahasa Bentong memiliki bentuk kosakata dan susunan yang dapat dikenali sebagai bahasa yang digunakan dalam komunikasi masyarakat setempat.

Penelitian tersebut juga mencatat adanya keinginan masyarakat Bulo-Bulo untuk mempertahankan Bahasa Bentong sebagai bagian dari ciri khas mereka.

Bahasa yang Dipakai Bersama Identitas

Bahasa Bentong tidak berdiri sendiri dalam kebudayaan masyarakat To Bentong.

Penelitian yang terbit dalam Aksiologi: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial pada April 2026 menempatkan Bahasa Bentong, To Balo, dan Massagala sebagai tiga unsur yang saling berkaitan dalam kehidupan budaya masyarakat To Bentong.

Penelitian tersebut dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi di Dusun Lapatemmu, Desa Bulo-Bulo. Hasilnya menunjukkan Bahasa Bentong berfungsi sebagai simbol kohesi sekaligus batas sosial dalam masyarakat To Bentong.

Artinya, bahasa dalam kehidupan masyarakat setempat tidak hanya digunakan untuk menyampaikan pesan.

Cara berbicara juga menjadi salah satu penanda bahwa seseorang berada dalam lingkungan sosial yang sama.

Hal tersebut terlihat dari penggunaan Bahasa Bentong dalam percakapan sehari-hari masyarakat Bulo-Bulo.

Bukan Bahasa yang Berdiri Jauh dari Perubahan

Masyarakat To Bentong hidup di tengah perubahan sosial dan perkembangan masyarakat di sekitarnya.

Penelitian 2026 tentang To Bentong menyebut komunitas ini tetap mempertahankan sejumlah praktik kebudayaannya di tengah modernisasi. Bahasa Bentong menjadi salah satu unsur yang dibahas dalam penelitian tersebut.

Pada saat yang sama, masyarakat setempat juga tidak hanya menggunakan satu bahasa.

Keterangan kepala desa yang dikutip dalam penelitian menunjukkan sebagian masyarakat dapat menggunakan bahasa Bugis, sementara Bahasa Bentong tetap digunakan dalam komunikasi masyarakat.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan menggunakan bahasa lain tidak serta-merta menghilangkan penggunaan Bahasa Bentong dalam lingkungan masyarakatnya.

Di Desa Bulo-Bulo, bahasa tersebut tetap terdengar dalam percakapan warga.

Namanya mungkin tidak sepopuler bahasa Bugis atau Makassar.

Namun, di sebuah wilayah pegunungan Kabupaten Barru, Bahasa Bentong menjadi bagian dari cara masyarakat To Bentong berkomunikasi dan mengenali lingkungan sosial mereka sendiri.