Barru, Katasulsel.com — Malam belum selesai ketika sebagian orang memilih tidur. Di rumah-rumah petani Bugis di Barru, justru ada yang mulai berjaga.

Di hadapan mereka, benih padi yang telah direndam menunggu waktu untuk ditaburkan ke persemaian pada esok hari.

Benih itu tidak dibiarkan begitu saja.

Ada yang menunggui sepanjang malam. Ada doa yang dipanjatkan. Dalam tradisi tertentu, lantunan sastra Bugis La Galigo turut mengisi malam yang disebut Maddoja Bine.

Namanya berasal dari dua kata Bugis: maddoja, yang berarti berjaga atau tidak tidur semalaman, dan bine, yang berarti benih.

Sederhana jika diterjemahkan. Tetapi bagi masyarakat yang masih menjalankannya, malam itu bukan sekadar menunggu benih.

Ia adalah bagian dari cara masyarakat Bugis memperlakukan awal musim tanam.

Di Desa Anabanua, Kecamatan Barru, penelitian tentang Maddoja Bine mencatat petani berjaga menunggui benih padi yang sedang direndam sebelum ditabur keesokan harinya. Waktu berjaga juga dapat diisi dengan hidangan kue-kue tradisional Bugis dan kebersamaan keluarga atau masyarakat.

Pada tradisi yang lebih lama, malam Maddoja Bine berkaitan dengan Sangiang Serri, figur dewi padi dalam mitologi Bugis. Benih yang akan ditanam dipandang memiliki hubungan dengan keberadaan Sangiang Serri, sehingga ritual menjadi bentuk penghormatan sekaligus pengharapan agar padi tumbuh dan kembali dalam keadaan baik ketika musim panen tiba.

Di sinilah La Galigo menemukan tempatnya.

Dalam pelaksanaan Maddoja Bine, dikenal tradisi massureq, yakni pembacaan Sureq La Galigo dengan cara dilagukan. Teks yang dibacakan bukan sekadar hiburan untuk mengusir kantuk, tetapi menjadi bagian dari pengetahuan budaya yang diwariskan bersama ritual pertanian.

Namun, tradisi itu tidak berhenti pada satu bentuk.

Perubahan masyarakat Bugis juga membuat pelaksanaan Maddoja Bine mengalami penyesuaian. Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional menunjukkan terdapat beberapa pola pelaksanaan, mulai dari yang masih disertai massureq, yang memasukkan unsur Islam seperti pembacaan Al-Qur’an dan barzanji, hingga pelaksanaan yang tidak lagi menggunakan pembacaan La Galigo.

Di Barru, pertemuan antara tradisi lama dan kehidupan keagamaan masyarakat menjadi bagian menarik dari perubahan tersebut.

Ritual pertanian yang memiliki jejak dalam tradisi La Galigo tidak serta-merta hilang ketika masyarakat mengalami perubahan. Sebagian bentuknya justru beradaptasi dengan keyakinan dan kehidupan sosial masyarakat yang menjalankannya.

Karena itu, Maddoja Bine tidak hanya bercerita tentang benih.

Ia bercerita tentang ingatan.

Tentang bagaimana pengetahuan pertanian tidak selalu diwariskan melalui buku atau sekolah, tetapi juga melalui kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang di rumah, di sawah, dan di tengah keluarga.

Ada pengetahuan tentang kapan benih direndam. Ada pengetahuan tentang kapan benih ditabur. Ada doa, makanan, sastra, dan kebersamaan yang menyertai proses tersebut.

Semua bertemu dalam satu malam.

Maddoja Bine kemudian menjadi salah satu jejak dari cara masyarakat Bugis memaknai pertanian bukan semata sebagai pekerjaan untuk menghasilkan beras, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sosial dan kebudayaan.

Tradisi ini bukan pula sekadar cerita lama yang hanya tersimpan dalam ingatan orang tua.

Maddoja Bine telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 372/M/2021 dengan nama “Madoja Bine”, dalam domain adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan.

Tetapi sebuah warisan budaya tidak otomatis bertahan hanya karena sudah dicatat negara.

Ia bertahan ketika masih dilakukan.

Ketika masih ada orang yang bersedia berjaga.

Ketika masih ada keluarga yang mengenalkan maknanya kepada anak-anak mereka.

Dan ketika benih padi kembali direndam menjelang musim tanam, malam di rumah petani bisa kembali berubah.

Orang-orang berkumpul. Benih menunggu. Percakapan berlangsung. Doa dipanjatkan.

Malam berjalan perlahan, sementara sawah menunggu pagi.

Esok harinya, benih itu akan dibawa menuju tanah.

Dari sesuatu yang tampak kecil—sebungkus benih yang direndam dan dijaga semalaman—masyarakat Bugis Barru menyimpan cerita yang jauh lebih panjang: tentang pertanian, keluarga, sastra, kepercayaan, dan cara sebuah komunitas mempertahankan pengetahuan leluhur di tengah perubahan zaman.

Sebab bagi mereka, sebelum benih ditanam ke tanah, ada satu malam yang harus dilewati bersama. Malam ketika benih dijaga, doa dipanjatkan, dan ingatan tentang leluhur tetap dibiarkan hidup.(*)