Makassar, Katasulsel.com – Di Makassar, kata “Daeng” bisa terdengar di banyak tempat. Dari percakapan di pasar, sapaan kepada pedagang, pengayuh becak, hingga nama yang melekat pada seseorang sejak lahir.

Karena itu, bagi orang yang baru datang ke Makassar, “Daeng” mungkin terdengar seperti panggilan biasa.

Padahal, kata tersebut memiliki perjalanan makna yang panjang.

Dalam kebudayaan Makassar, Daeng pernah berkaitan dengan nama, penghormatan, prestasi, hingga status sosial. Dalam perkembangannya, penggunaannya meluas dan kini dapat menjadi sapaan sehari-hari kepada orang yang tidak memiliki hubungan dengan bangsawan.

Perubahan itu membuat satu kata memiliki beberapa lapisan makna sekaligus.

Daeng Tidak Selalu Berarti Satu Hal

Penelitian Universitas Airlangga mengenai makna Daeng dalam kebudayaan suku Makassar mencatat bahwa istilah tersebut memiliki beberapa fungsi.

Daeng dapat menjadi nama yang diberikan orang tua kepada anak sebagai doa dan harapan. Dalam konteks tertentu, nama tersebut juga berkaitan dengan nilai keagamaan.

Selain itu, Daeng dapat menjadi julukan atau penghargaan bagi seseorang yang memiliki kelebihan, keahlian, atau prestasi tertentu.

Dalam konteks sosial tradisional, Daeng juga digunakan sebagai gelar bagi bangsawan, orang yang dihormati, atau orang yang dituakan.

Artinya, ketika seseorang bernama Daeng, tidak otomatis berarti ia berasal dari keluarga bangsawan. Begitu pula ketika seseorang dipanggil Daeng dalam percakapan sehari-hari, panggilan tersebut tidak selalu menunjukkan status keturunan.

Konteks menjadi penting.

Dari Gelar Kehormatan Menjadi Sapaan Sehari-hari

Perubahan penggunaan Daeng menjadi salah satu bagian menarik dalam perkembangan budaya bahasa Makassar.

Penelitian Tamrin dalam jurnal Sirok Bastra menunjukkan bahwa penggunaan Daeng mengalami perluasan makna dalam kehidupan sosial masyarakat Kota Makassar. Istilah yang sebelumnya memiliki hubungan dengan gelar tertentu kemudian digunakan lebih luas sebagai bentuk sapaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kata tersebut bahkan digunakan untuk menyapa pengayuh becak, pedagang sayur keliling, hingga penarik bentor.

Bagi masyarakat Makassar, sapaan tersebut dapat menjadi bentuk kesopanan ketika berbicara dengan orang lain.

Di sinilah perubahan makna Daeng terlihat jelas.

Ia tidak lagi hanya bergerak dalam ruang stratifikasi sosial. Kata tersebut juga masuk ke ruang interaksi sehari-hari.

Seorang pembeli dapat menyapa pedagang dengan “Daeng”. Penumpang dapat memanggil pengemudi bentor dengan sebutan yang sama. Orang yang lebih muda dapat menggunakannya kepada orang yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan.

Satu kata kemudian menjadi bagian dari etika percakapan.

Ketika Bahasa Mengikuti Kehidupan Masyarakat

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa bahasa tidak selalu berjalan dalam batas yang kaku.

Makna sebuah panggilan dapat berubah mengikuti cara masyarakat menggunakannya. Penelitian Tamrin menyebut fleksibilitas sejarah penggunaan Daeng sebagai salah satu faktor yang membuat maknanya meluas. Tidak adanya sebutan lain yang dianggap tepat untuk menyapa sebagian pelaku ekonomi informal juga turut membuat penggunaan Daeng berkembang sebagai bentuk sapaan yang mengandung kesopanan.

Karena itu, sulit memahami Daeng hanya melalui definisi kamus.

Maknanya hidup dalam hubungan antarmanusia.

Kata tersebut dapat menunjukkan identitas. Dapat pula menjadi penghormatan. Dalam situasi lain, ia hanya menjadi panggilan yang akrab.

Semua bergantung pada siapa yang mengucapkan, kepada siapa kata itu ditujukan, dan dalam situasi seperti apa.

Daeng dan Identitas Makassar Hari Ini

Di tengah kehidupan Makassar yang terus berubah, penggunaan Daeng masih mudah ditemukan.

Kata itu bertahan bukan karena masyarakat menggunakannya dengan satu makna yang sama seperti masa lalu. Justru sebaliknya, Daeng mampu mengikuti perubahan kehidupan sosial.

Kajian tentang Daeng menunjukkan bahwa istilah tersebut memiliki hubungan dengan sejarah kebudayaan Makassar sekaligus realitas sosial masyarakat kota pada masa kini.

Itulah sebabnya kata sederhana ini menarik.

Ia memperlihatkan bagaimana sebuah unsur budaya dapat berubah tanpa benar-benar hilang.

Generasi sekarang mungkin menggunakan Daeng dalam situasi yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Namun, nilai kesopanan dan penghormatan yang menyertainya masih dapat ditemukan dalam percakapan sehari-hari.

Bahkan bagi pendatang, kata tersebut perlahan menjadi bagian dari pengalaman ketika berinteraksi dengan masyarakat Makassar.

Satu Kata, Banyak Lapisan

Pada akhirnya, Daeng bukan sekadar kata yang ditempelkan di depan nama atau digunakan untuk memanggil seseorang.

Ia menyimpan perjalanan sosial.

Pernah menjadi bagian dari penamaan dan gelar. Pernah berkaitan dengan penghormatan dan status sosial. Kemudian berkembang menjadi sapaan yang lebih luas di tengah masyarakat.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan tidak selalu bertahan dengan cara yang sama.

Kadang, ia bertahan justru karena mampu berubah mengikuti kehidupan masyarakat.

Maka, ketika mendengar seseorang memanggil, “Daeng!” di sudut Kota Makassar, yang terdengar mungkin hanya satu kata.

Namun, di baliknya ada sejarah tentang nama, penghormatan, status sosial, kesopanan, dan perubahan cara masyarakat berinteraksi.

Di Makassar, “Daeng” bukan sekadar panggilan. Ia adalah bagian dari cara sebuah masyarakat menjaga rasa hormat melalui bahasa.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Makassar hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Makassar terbaru di sini