Makassar, katasulsel.com – Penguatan kualitas hidup Orang dengan HIV (ODHIV) tidak hanya bertumpu pada aspek medis semata, melainkan juga memerlukan pendampingan psikososial yang berkelanjutan.
Hal inilah yang mendasari kolaborasi antara Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Saribattangku di bawah naungan Yayasan Peduli Kelompok Dukungan Sebaya (YPKDS) Makassar dengan tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) Universitas Hasanuddin melalui program “Pelukku Pelikmu”.
Program yang berfokus pada penurunan stigma internal (self-stigma) melalui peningkatan penerimaan diri (self-acceptance) dan keyakinan diri (self-efficacy) ini dipimpin oleh M. Aidil Akbar bersama empat anggota timnya, yakni Andi Tenri Oja Anas, Alika Wahyuni, Annisaramah Menceng Azzahra, dan A.M. Bintang Ramadhan Galigo. Berjalan selaras dengan tema PKM bidang Kesehatan dan Gizi Masyarakat, program ini dirancang sebagai model intervensi berbasis Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang terintegrasi langsung dengan aktivitas harian komunitas.
Selama 15 kali pertemuan, para anggota KDS Saribattangku diajak mengikuti alur pendampingan terstruktur yang dirancang untuk memulihkan rasa percaya diri.
Dimulai dari tahap pengenalan melalui Opening Heartsdan Heart2Hearts, mitra dibimbing untuk mencairkan ketegangan dan berbagi pengalaman hidup. Proses berlanjut pada sesi refleksi mendalam lewat HEARTalk dan Reflection Space untuk mengikis pola pikir negatif.
Penguatan mental ini kemudian dikonsolidasikan melalui metode modelling serta relaksasi dalam Inside the Journey, sebelum akhirnya diterjemahkan ke dalam kegiatan produktif nyata seperti memasak, meronce, dan menanam pada fase Inside Hope.
Rangkaian program ditutup secara partisipatif melalui Empower Fest, di mana para mitra unjuk gigi menampilkan potensi terbaik mereka.
Ketua Tim PKM-PM, M. Aidil Akbar, menjelaskan bahwa keberhasilan program ini diukur bukan sekadar dari berjalannya acara, melainkan dari terciptanya kemandirian jangka panjang bagi komunitas.
“Kami ingin memastikan bahwa intervensi berbasis CBT ini tidak berhenti begitu program selesai. Melalui penyusunan buku pedoman mitra, kami berharap KDS Saribattangku memiliki instrumen yang kuat untuk melanjutkan pendampingan psikososial ini secara mandiri kepada anggota maupun komunitas lain di masa mendatang,” ungkap Aidil.
Dampak nyata dari kolaborasi ini diungkapkan langsung oleh salah satu mitra.
Menurutnya, kehadiran program dari tim Mahasiswa Unhas memberikan ruang aman yang sangat dibutuhkan oleh para penyintas.
“Melalui 15 kali pertemuan yang berfokus pada pengurangan stigma internal, penerimaan diri, dan keyakinan terhadap kemampuan pribadi, program dari Tim Pelukku untuk Pelikmu PKM-PM Unhas telah menghadirkan ruang yang aman dan suportif bagi kami. Kami dapat mengeksplorasi potensi diri, mengembangkan kemampuan, serta membangun keberanian untuk mengekspresikan diri. Mewakili seluruh mitra, kami menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam dan berharap kehadiran program ini dapat terus memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan kami,” tuturnya.
Melalui sinergi antara pendekatan psikososial, dukungan sebaya, dan pelibatan aktif komunitas, program “Pelukku untuk Pelikmu” membuktikan bahwa ruang yang inklusif mampu meruntuhkan batas stigma.
Tim berharap model pendampingan ini dapat direplikasi secara luas, sehingga masyarakat semakin terbuka dalam memandang ODHIV berdasarkan potensi dan karya nyata, bukan berdasarkan stigma yang melekat. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
