Barru, katasulsel.com — Ketika penyakit datang, tidak semua warga pertama kali bertemu dokter. Di tingkat desa, sering kali orang pertama yang mengetahui ada masalah kesehatan justru kader posyandu.

Peran itulah yang coba diperkuat mahasiswa KKN Profesi Kesehatan (KKN-PK) Universitas Hasanuddin di Desa Bojo, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru.

Para mahasiswa menggelar program “Penguatan Kapasitas Kader Kesehatan Posyandu dalam Pencegahan dan Deteksi Dini Tuberkulosis (TB) dan Demam Berdarah Dengue (DBD)”.

Program ini tidak sekadar berisi penyuluhan.

Para kader diajak memahami dua penyakit yang membutuhkan kewaspadaan sejak gejala awal muncul, sekaligus bagaimana menyampaikan informasi kesehatan yang benar kepada masyarakat.

Kader Diberi “Bekal” Sebelum Turun ke Warga

Kegiatan diawali dengan pre-test yang dipandu Maura Salzabilah Amiruddin dari Program Studi Farmasi.

Tes awal tersebut digunakan untuk melihat sejauh mana pengetahuan para kader mengenai TB dan DBD sebelum mendapatkan materi.

Mahasiswa kemudian membagikan leaflet sebagai bahan bacaan yang bisa dibawa pulang.

Materi TB disampaikan Maura Salzabilah Amiruddin, sementara edukasi DBD diberikan Christopher Abelard Sarira Madethen dari Program Studi Pendidikan Dokter.

Keduanya membahas hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan warga, mulai dari pengertian penyakit, tanda dan gejala, penanganan hingga langkah pencegahannya.

Namun ada satu pesan yang menjadi perhatian utama.

Kader harus mampu mengenali tanda awal dan tahu kapan warga perlu diarahkan mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Pengalaman Kader Jadi Bahan Diskusi

Sesi tanya jawab justru menjadi bagian yang cukup menarik.

Para kader tidak hanya mendengarkan materi, tetapi menceritakan pengalaman yang mereka temui ketika berhadapan dengan masyarakat.

Berbagai pertanyaan mengenai gejala TB, DBD, cara pencegahan hingga informasi yang selama ini berkembang di tengah warga dibahas bersama.

Kesempatan tersebut juga dimanfaatkan mahasiswa untuk meluruskan sejumlah pemahaman yang kurang tepat mengenai kedua penyakit tersebut.

Dengan bahasa sederhana, materi diarahkan agar tidak berhenti sebagai pengetahuan di ruang pertemuan, tetapi bisa diteruskan kader ketika kembali mendampingi warga.

Puskesmas Ikut Memperkuat Edukasi

Diskusi semakin kontekstual dengan kehadiran Muhammad Taufiq, S.KM., M.Kes., selaku Penanggung Jawab Teknis Puskesmas Kelurahan Bojo Baru.

Kehadirannya memberikan perspektif dari sisi pelayanan kesehatan di lapangan.

Materi yang sebelumnya disampaikan mahasiswa kemudian dikaitkan dengan kondisi masyarakat dan peran kader dalam mendukung upaya kesehatan di tingkat desa.

Bagi kader, hal ini menjadi kesempatan untuk memahami bahwa tugas mereka bukan menggantikan tenaga medis.

Kader justru menjadi penghubung penting antara masyarakat dan fasilitas kesehatan.

Setelah Belajar, Kader Kembali Diuji

Menjelang kegiatan berakhir, para kader kembali mengerjakan post-test.

Tes ini digunakan untuk melihat perubahan pemahaman setelah seluruh materi dan diskusi diberikan.

Kegiatan kemudian ditutup dengan dokumentasi bersama antara mahasiswa KKN-PK Unhas, kader kesehatan dan tamu undangan.

Program tersebut diharapkan tidak berhenti setelah mahasiswa meninggalkan Desa Bojo.

Sebab, pencegahan TB dan DBD membutuhkan kewaspadaan yang terus berjalan.

Dan di tengah masyarakat, kader posyandu bisa menjadi mata dan telinga pertama yang membantu mengenali persoalan kesehatan sebelum terlambat. (*)

Penulis: Maura Salzabilah Amiruddin

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Barru Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Barru hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Barru terbaru di sini