Sidrap, Katasulsel.com – Pemeriksaan kesehatan tidak selalu harus menunggu tubuh memberi tanda. Di Kantor Desa Alesalewo, Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidenreng Rappang, warga dewasa mendapat kesempatan memeriksa kondisi kesehatannya secara gratis melalui program Lao’Ki Maparessa yang digelar mahasiswa KKN-PK 69 Universitas Hasanuddin, Minggu (9/8/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WITA itu dirancang sebagai upaya promotif dan preventif, terutama untuk membantu masyarakat mengenali kondisi kesehatan serta faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) sejak dini.

Nama Lao’Ki Maparessa sendiri bermakna ajakan untuk datang memeriksakan kesehatan. Gagasan tersebut diterjemahkan mahasiswa KKN-PK 69 melalui layanan pemeriksaan dasar yang dapat diakses masyarakat dewasa Desa Alesalewo.

Rangkaian pemeriksaan dimulai dari registrasi peserta. Setelah itu, warga menjalani pemeriksaan tekanan darah, berat badan, tinggi badan, serta pemeriksaan kadar gula darah, asam urat, dan kolesterol sesuai fasilitas yang tersedia.

Hasil pemeriksaan tidak berhenti sebagai angka.

Peserta mendapat penjelasan mengenai hasil yang diperoleh serta informasi mengenai faktor risiko yang perlu diperhatikan. Warga juga memperoleh edukasi mengenai pencegahan hipertensi, diabetes melitus, dan obesitas, termasuk pentingnya aktivitas fisik, pola makan bergizi seimbang, berhenti merokok, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Bagi peserta yang memperoleh hasil pemeriksaan di luar batas normal, mahasiswa memberikan anjuran untuk melanjutkan pemeriksaan ke Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Dari pemeriksaan menuju kebiasaan

Lao’Ki Maparessa tidak hanya menempatkan pemeriksaan sebagai kegiatan satu hari.

Program tersebut membawa pesan bahwa mengetahui kondisi kesehatan merupakan langkah awal untuk menentukan tindakan berikutnya.

Tekanan darah yang tinggi, kadar gula yang meningkat, atau hasil pemeriksaan lain yang berada di luar batas normal dapat menjadi tanda bahwa seseorang perlu memperoleh pemeriksaan lebih lanjut. Deteksi lebih awal memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengambil langkah sebelum masalah kesehatan berkembang menjadi lebih berat.

Pendekatan promotif dan preventif juga membuat kegiatan ini tidak berhenti pada pemeriksaan fisik. Edukasi menjadi bagian dari rangkaian layanan agar masyarakat memahami apa yang dapat dilakukan setelah mengetahui kondisi tubuhnya.

Bagi mahasiswa, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk menerapkan pengetahuan kesehatan masyarakat secara langsung di tengah warga.

Bagi masyarakat, kantor desa pada hari itu berubah menjadi ruang pemeriksaan yang lebih dekat dan mudah dijangkau.

Membawa semangat kesehatan ke tingkat desa

Kegiatan Lao’Ki Maparessa juga memiliki keterkaitan dengan agenda kesehatan yang lebih luas.

Pemeriksaan kesehatan, deteksi dini faktor risiko, edukasi, dan anjuran tindak lanjut sejalan dengan pendekatan pencegahan penyakit yang menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam menjaga kesehatannya.

Program tersebut juga memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera.

Pada tingkat nasional, pemerintah juga mengembangkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai bagian dari agenda peningkatan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan dan deteksi dini.

Keterkaitan tersebut membuat kegiatan di Alesalewo memiliki konteks yang lebih luas. Namun, nilai utama kegiatan tetap berada pada apa yang terjadi di tingkat masyarakat: warga datang, diperiksa, mengetahui hasilnya, lalu memperoleh informasi mengenai langkah yang dapat dilakukan.

Di sana, upaya pencegahan tidak lagi berhenti sebagai istilah dalam dokumen program.

Ia hadir dalam bentuk tensimeter, alat ukur, hasil pemeriksaan, percakapan, dan anjuran untuk datang ke fasilitas kesehatan ketika diperlukan.

Ketika warga mulai mengenali tubuhnya

Penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes sering kali tidak langsung menimbulkan keluhan yang membuat seseorang mencari pertolongan medis. Karena itu, pemeriksaan berkala menjadi salah satu cara untuk mengenali kondisi kesehatan lebih awal.

Lao’Ki Maparessa mencoba membawa pemeriksaan tersebut lebih dekat ke ruang hidup masyarakat Desa Alesalewo.

Tidak semua warga datang dengan keluhan.

Sebagian datang untuk mengetahui kondisi tubuhnya.

Sebagian mungkin baru mengetahui adanya faktor risiko setelah pemeriksaan.

Dari sana, edukasi menjadi penting. Hasil pemeriksaan tidak seharusnya hanya dibaca sebagai angka normal atau tidak normal. Ia perlu dipahami sebagai informasi yang dapat membantu seseorang menentukan langkah berikutnya.

Program yang dilaksanakan mahasiswa KKN-PK 69 Unhas tersebut pun mempertemukan dua hal yang sering berjalan terpisah: pemeriksaan dan pengetahuan.

Warga tidak hanya diberi kesempatan untuk mengetahui kondisi kesehatannya, tetapi juga memperoleh penjelasan mengenai kebiasaan yang dapat membantu menjaga kesehatan.

Pada akhirnya, kegiatan di Kantor Desa Alesalewo berlangsung dalam hitungan jam.

Namun, hasil pemeriksaan yang dibawa pulang warga tidak berhenti ketika meja pelayanan dibereskan.

Ada angka tekanan darah yang mungkin baru pertama kali diketahui.

Ada hasil gula darah yang perlu diperhatikan.

Ada anjuran untuk mengubah pola makan, lebih aktif bergerak, berhenti merokok, atau memeriksakan diri kembali.

Dan ada satu hal yang tidak ikut dituliskan di lembar pemeriksaan: keputusan seseorang untuk mulai lebih sering bertanya kepada tubuhnya sendiri.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini