Sidrap, Katasulsel.com ā Ada anak yang pergi ke sekolah untuk mengejar nilai.
Ada pula anak yang datang ke sekolah sambil membawa harapan satu keluarga.
Khasya Sofia adalah salah satunya.
Bagi siswi Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, sekolah bukan sekadar tempat duduk di dalam kelas, mendengarkan guru, lalu pulang membawa buku.
Sekolah telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Di tempat itu, Khasya bukan hanya belajar membaca dunia melalui pelajaran. Ia juga belajar disiplin, hidup mandiri, bertanggung jawab dan berbagi ruang dengan anak-anak lain dalam kehidupan asrama.
Yang membuat pengalaman itu terasa istimewa, kata Khasya, adalah kesempatan yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.
Ia berasal dari keluarga dengan keterbatasan sosial dan ekonomi. Karena itu, kehadiran Sekolah Rakyat memberinya ruang untuk belajar tanpa harus dibebani persoalan biaya pendidikan dan kebutuhan dasar selama bersekolah.
āBersekolah di Sekolah Rakyat sangat memfasilitasi saya sebagai kalangan yang kurang dalam kehidupan sosial. Sekolah Rakyat sangat membantu saya selama menempuh pendidikan,ā ujar Khasya, Senin (28/9/2026).
Khasya kemudian bercerita tentang hal-hal sederhana yang ternyata begitu berarti baginya.
Guru-guru yang mengajar. Buku yang tersedia. Pakaian. Peralatan mandi. Tempat tinggal yang bersih dan nyaman.
Semua itu membuatnya bisa lebih fokus menjalani pendidikan.
āGuru-guru yang mengajar memberikan materi yang baik. Fasilitasnya juga lengkap, yang sebelumnya tidak pernah saya dapatkan di sekolah lain,ā katanya.
Tetapi ada satu pengalaman yang menurut Khasya tidak kalah penting.
Asrama.
Hidup bersama siswa lain membuatnya belajar bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam kelas.
Ada aturan yang harus dipatuhi.
Ada waktu yang harus dihargai.
Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan.
Dan ada orang lain yang harus dihormati.
āSaya mendapat banyak pelajaran tentang kedisiplinan, kehidupan keasramaan, dan tentunya yang paling penting saya mendapatkan pendidikan yang baik,ā tuturnya.
Namun, kisah Khasya tidak berhenti pada dirinya.
Ada bagian lain yang membuat Sekolah Rakyat terasa begitu berarti.
Keluarganya ikut merasakan dampaknya.
Menurut Khasya, orang tuanya mendapat dukungan melalui program pemberdayaan, termasuk bantuan untuk memperoleh pekerjaan yang lebih layak, modal usaha hingga dukungan perbaikan rumah.
āSekolah Rakyat juga berdampak bagi keluarga saya. Orang tua saya diberikan bantuan dan pekerjaan yang layak. Ada juga bantuan modal usaha dan perbaikan rumah,ā ungkapnya.
Di sinilah Khasya melihat Sekolah Rakyat dengan cara yang berbeda.
Ia tidak hanya melihat sebuah sekolah.
Ia melihat sebuah kesempatan.
Kesempatan untuk dirinya tetap belajar, sekaligus kesempatan bagi keluarganya untuk perlahan memperbaiki kehidupan.
Bahkan urusan kesehatan pun disebut mendapat perhatian.
Khasya mengatakan kepesertaan BPJS dan kebutuhan kesehatan siswa turut ditanggung selama mengikuti program.
āMasalah kesehatan juga diperhatikan. BPJS kami ditanggung dan fasilitas kesehatan juga ditanggung oleh sekolah. Sekolah Rakyat sangat membantu saya dalam kehidupan,ā ujarnya.
Semua fasilitas itu mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang.
Tetapi bagi Khasya, fasilitas tersebut berarti satu hal: ia bisa belajar dengan lebih tenang.
Tidak perlu terlalu banyak memikirkan biaya sekolah.
Tidak perlu memikirkan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi selama tinggal di asrama.
Ia bisa memusatkan perhatian pada satu hal yang diyakininya penting untuk masa depan.
Pendidikan.
Karena itu, ketika diminta menyampaikan pesan kepada anak-anak seusianya, Khasya tidak berbicara panjang.
Pesannya sederhana.
Namun terasa seperti datang dari pengalaman yang ia jalani sendiri.
āJangan pernah berhenti sekolah. Sekolah itu sangat penting untuk masa depan. Pendidikan sangat penting untuk kita semua,ā katanya.
Bagi Khasya, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat mendapatkan pendidikan gratis.
Di sanalah sebuah harapan perlahan tumbuh.
Harapan seorang anak untuk memiliki masa depan yang lebih baik.
Harapan sebuah keluarga agar kehidupan mereka bisa berubah.
Dan mungkin, dari kamar-kamar asrama yang sederhana itu, sedang tumbuh anak-anak yang kelak akan membawa cerita berbeda tentang bagaimana pendidikan mengubah hidup mereka.
Sebelumnya, Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif menyampaikan bahwa kehadiran Sekolah Rakyat menjadi bagian dari upaya membuka akses pendidikan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Program tersebut diharapkan tidak hanya memberikan pendidikan berkualitas kepada anak-anak, tetapi juga ikut mendorong peningkatan kesejahteraan keluarga.
Bagi Khasya Sofia, semua itu kini bukan lagi sekadar program.
Ia mengalaminya sendiri.
Dari sebuah kesempatan untuk bersekolah, tumbuh sebuah keyakinan.
Bahwa keadaan hari ini tidak harus menentukan seperti apa masa depannya nanti.
Dan dari Sidrap, Khasya menitipkan satu pesan sederhana kepada anak-anak lain:
āJangan pernah berhenti sekolah.ā (*)
