Jakarta, katasulsel.com — Harga kendaraan yang jauh lebih murah dari pasaran memang menggoda.
Tetapi di media sosial, harga miring kadang bukan kabar baik.
Bisa jadi itu pintu masuk sebuah jebakan.
Hal tersebut terungkap setelah aparat Polda Jawa Barat membongkar dugaan jaringan penipuan daring yang menjalankan aksinya dari Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan.
Modusnya cukup sederhana.
Pelaku memasang penawaran kendaraan di Facebook dengan harga di bawah pasaran. Calon korban yang tertarik kemudian diarahkan masuk ke percakapan pribadi hingga akhirnya transaksi dilakukan melalui WhatsApp.
Yang membuat modus ini semakin meyakinkan, pelaku disebut mencatut identitas anggota TNI untuk membangun kepercayaan calon korban.
Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan mengatakan pola komunikasi pelaku dimulai dari Facebook, kemudian berlanjut melalui Direct Message (DM) dan WhatsApp.
“Modus operandinya adalah penawaran kendaraan melalui Facebook. Komunikasi berawal dari postingan Facebook, berlanjut ke Direct Message (DM), lalu masuk kepada proses diskusi dan transaksi lewat WhatsApp,” kata Hendra dalam konferensi pers, Jumat (21/8/2026).
Kasus ini terbongkar setelah polisi menemukan keterkaitan dua laporan yang dibuat korban berbeda.
Laporan pertama dibuat FFK pada 22 Juli 2026. Tiga hari kemudian, tepatnya 25 Juli 2026, NM melaporkan kasus serupa.
Polisi kemudian menemukan pola yang nyaris sama.
Keduanya sama-sama tergiur unggahan kendaraan dengan harga yang lebih murah dibandingkan harga pasar.
Setelah menghubungi akun penjual, percakapan berlanjut melalui Facebook hingga WhatsApp.
Di tahap berikutnya, korban diarahkan kepada orang lain yang disebut masih bagian dari jaringan pelaku.
Di sinilah uang mulai berpindah.
Kedua korban ternyata diminta melakukan transfer ke rekening yang sama, atas nama T.
FFK kemudian mengalami kerugian sebesar Rp19.941.774.
Sementara NM kehilangan Rp20.354.459.
Jika digabung, kerugian dua korban tersebut mencapai lebih dari Rp40 juta.
Angka itu menunjukkan bahwa penawaran kendaraan murah di media sosial bukan sekadar soal harga.
Ada risiko besar ketika calon pembeli terlalu cepat percaya kepada penjual yang identitasnya belum terverifikasi.
Apalagi ketika komunikasi mulai dipindahkan dari platform terbuka ke WhatsApp dan pembeli diminta mentransfer uang kepada rekening tertentu sebelum kendaraan benar-benar dipastikan keberadaannya.
Dalam kasus ini, polisi masih mendalami aliran rekening yang digunakan untuk menerima uang korban.
Penyidik juga menelusuri kemungkinan rekening tersebut berkaitan dengan jaringan pelaku lainnya.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat Sidrap dan pengguna media sosial pada umumnya.
Jangan mudah terpancing kalimat “harga di bawah pasar”.
Sebab dalam dunia jual beli online, harga yang terlalu murah kadang justru merupakan harga yang harus dibayar paling mahal.
Bukan untuk mendapatkan kendaraan.
Tetapi untuk kehilangan uang. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
