Api tidak pernah kenal pangkat. Semua orang tahu itu.

Edy Basri

Begitulah…

Padahal. Api itu tidak peduli siapa yang datang. Mau itu Dandim, Kapolres atau Bupati sekalipun.

Kalau angin sedang kencang, api akan mencari rumput berikutnya. Lalu merambat lagi.

Seperti yang terjadi Malam tadi, Sabtu 22 Agustus 226, api sedang punya banyak teman: angin, bukit, rumput kering, dan medan yang sulit.

Di Desa Mattirotasi, Kecamatan Watang Pulu, Sidrap, kobaran api sejak Jumat belum juga benar-benar mau menyerah.

Magrib baru saja lewat ketika Letkol Inf Andi Zulhakim Asdar, S.Hub.Int., M.H.I sudah berada di lokasi.

Bukan sekadar datang melihat.

Bukan pula datang sebentar, foto, lalu pulang.

Ia turun ke medan. Nekat menerobos api.

Begitulah ceritanya.

Api berada di atas bukit. Tingginya, kata Dandim, sekitar satu kilometer dari badan jalan. Mobil pemadam kebakaran hanya bisa menunggu di bawah. Jalan menuju titik api bukan jalan untuk kendaraan besar.

Maka orang-orang harus berjalan.

Dan di situlah Dandim berada bersama warga.

Ada Kapolsek Watang Pulu, Iptu Jamaludin.

Ada Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Ada anggota Damkar. Ada aparat desa. Ada warga yang datang membawa alat seadanya.

Ada pula hadrayerβ€”alat pertanian yang biasanya dipakai untuk pekerjaan kebunβ€”yang malam itu berganti fungsi menjadi senjata melawan api.

Lucu juga.

Alat untuk mengurus tanaman dipakai untuk menyelamatkan tanaman.

Api rupanya memang bisa membuat orang berpikir kreatif.

Dandim ikut menyisir titik-titik api. Sesekali melihat arah rambatan. Mengatur langkah. Memastikan api tidak turun ke arah yang lebih berbahaya.

Tidak ada panggung.

Tidak ada alat pembesar suara

Yang ada hanya asap.

Dan panas.

Warga menyebut api diduga bermula dari wilayah Desa Lainungan sehari sebelumnya. Angin kemudian membawa kobaran itu ke Mattirotasi.

Api memang punya sifat buruk: kalau sudah menemukan angin, ia seperti menemukan jalan tol.

Malam semakin gelap.

Tetapi pekerjaan belum selesai.

Justru malam membuat pekerjaan lebih rumit. Titik api berada di perbukitan. Kendaraan pemadam tidak bisa mendekat. Petugas harus mengandalkan tenaga manusia dan peralatan yang tersedia.

“Saat ini kami bersama Kapolsek Watang Pulu, Babinsa Desa Mattirotasi, tim Damkar dan warga setempat terus berupaya melakukan pemadaman dengan alat seadanya,” ujar Andi Zulhakim.

Kalimatnya sederhana.

Tetapi situasinya tidak sederhana.

Sebab kebakaran itu sudah berlangsung sejak Jumat, 21 Agustus. Sampai Sabtu malam, api masih menyisakan bara di sejumlah titik.

Dan bara itu yang paling berbahaya.

Api boleh terlihat kecil. Tetapi di bawah tanah atau di balik semak, panas masih bekerja.

Karena itu dilakukan pula pendinginan.

Kendaraan Damkar ditempatkan di sekitar jalan poros Parepare. Bukan karena api sudah sampai sana. Justru karena petugas tidak mau menunggu sampai api benar-benar mendekat.

Itulah pekerjaan pemadam kebakaran.

Menunggu api?

Bukan.

Mencegah api datang.

Di tengah situasi itu, Dandim juga memberikan apresiasi kepada warga.

Masyarakat tidak menonton dari jauh.

Mereka ikut bekerja.

Ada yang membawa alat. Ada yang membantu menyisir. Ada yang menunjukkan arah api. Ada yang mungkin hanya membawa tenaga.

Tetapi dalam kebakaran, satu tenaga tambahan tetap berarti.

Malam itu batas antara aparat dan warga menjadi tipis.

TNI bekerja.

Polisi bekerja.

Damkar bekerja.

Pemerintah desa bekerja.

Warga juga bekerja.

Tidak ada yang bertanya siapa paling hebat.

Sebab api tidak bisa dipadamkan dengan jabatan.

Ia harus dilawan bersama-sama.

Dan mungkin di situlah makna paling sederhana dari kehadiran seorang Dandim di tengah kebakaran.

Bukan soal seorang Letkol ikut memegang alat pemadam.

Bukan pula soal siapa yang paling depan.

Tetapi soal memberi tahu warga: kalian tidak sendirian.

Api di Mattirotasi akhirnya terus dikejar hingga Sabtu malam.

Belum boleh lengah.

Angin masih ada.

Bara masih mungkin menyala.

Bukit masih menyimpan panas.

Maka pekerjaan belum selesai hanya karena kobaran besar mulai mengecil.

Dandim dan pasukannya masih di sana.

Warga juga masih di sana.

Mungkin begitulah cara sebuah daerah menghadapi api.

Tidak perlu banyak teori

Cukup datang.

Berdiri bersama.

Lalu bekerja sampai api benar-benar kalah.(*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini