Makassar, Katasulsel.com — Ada pemandangan yang hampir selalu sama ketika semangkuk coto Makassar tiba di meja: kuah cokelat pekat berisi daging dan jeroan sapi, lalu beberapa potong ketupat atau buras di sampingnya.
Yang jarang dipertanyakan justru bagian paling sederhana dari sajian itu.
Mengapa coto dimakan dengan ketupat atau buras, bukan nasi putih?
Bagi masyarakat Makassar dan Sulawesi Selatan, jawabannya mungkin tidak lagi terasa penting. Pasangan tersebut sudah menjadi bagian dari kebiasaan makan. Namun, jika ditelusuri, ketupat dan buras ternyata bukan sekadar pengganti nasi.
Keduanya telah menjadi bagian dari identitas penyajian coto Makassar.
Ketupat dan Buras Memang Pasangan Coto
Indonesia Travel menyebut coto Makassar secara tradisional disajikan bersama ketupat atau buras. Cara menikmatinya pun khas: potongan ketupat atau buras dicocol atau disantap bersama kuah coto yang kental dan kaya rempah.
Buras memiliki karakter yang berbeda dari nasi putih. Beras dimasak bersama santan kemudian dibungkus dengan daun pisang, menghasilkan tekstur yang lembut dan rasa gurih. Karena itu, buras kerap menjadi pendamping berbagai hidangan berkuah di Sulawesi, termasuk coto Makassar.
Ketupat pun memiliki karakter tersendiri. Teksturnya lebih padat sehingga mudah dipotong-potong dan disantap bersama kuah.
Ketika keduanya bertemu dengan kuah coto yang kaya rempah, terbentuklah kombinasi yang kemudian dikenal luas sebagai cara makan coto.
Jadi, ketupat bukan sekadar “nasi pengganti”. Ia sudah menjadi bagian dari tradisi makan coto.
Lalu, Kenapa Bukan Nasi?
Di sinilah jawabannya justru harus hati-hati.
Tidak ditemukan satu catatan sejarah yang secara pasti mengatakan bahwa coto harus dimakan dengan ketupat karena alasan tertentu.
Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan bahkan mencatat bahwa sejarah awal terciptanya resep coto sendiri tidak diketahui dengan pasti. Yang dapat dilihat dengan lebih jelas adalah kebiasaan penyajiannya: coto dihidangkan bersama ketupat.
Artinya, lebih aman mengatakan bahwa hubungan coto dengan ketupat dan buras merupakan tradisi kuliner yang terbentuk dan diwariskan, bukan hasil dari sebuah aturan tertulis.
Nasi tentu bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Makassar.
Hanya saja, coto memiliki “pasangan” yang berbeda.
Seperti beberapa makanan tradisional lain yang memiliki pendamping khas, coto berkembang bersama cara penyajian yang kemudian melekat begitu kuat hingga menjadi bagian dari identitas hidangannya.
Buras, Saudara Dekat Ketupat dalam Semangkuk Coto
Kalau berbicara tentang pendamping coto, ketupat bukan satu-satunya pilihan.
Ada buras.
Buras dibuat dari beras yang dimasak dengan santan dan dibungkus menggunakan daun pisang. Teksturnya lembut, padat, dan memiliki rasa gurih. Indonesia Travel menyebut buras sebagai salah satu pendamping yang lazim untuk coto Makassar.
Kajian Historical Gastronomy of Coto Makassar yang diterbitkan The Journal Gastronomy Tourism pada 2023 juga mencatat bahwa coto biasanya disantap bersama burasa. Penelitian tersebut menempatkan coto sebagai bagian dari sejarah gastronomi masyarakat Makassar dan mengaitkannya dengan lingkungan Kerajaan Gowa-Somba Opu.
Dengan demikian, ketika orang menyebut coto, yang terbayang bukan hanya mangkuk berisi kuah.
Ada pula potongan ketupat atau buras di sampingnya.
Keduanya menjadi bagian dari pengalaman makan itu sendiri.
Coto Makassar Punya Sejarah Panjang
Coto bukan sekadar hidangan berkuah yang kebetulan berasal dari Makassar.
Penelitian gastronomi tersebut menyebut coto berasal dari kawasan Gowa, Sulawesi Selatan, dan menduga keberadaannya telah ada sejak masa Somba Opu dalam periode kejayaan Kerajaan Gowa. Penelitian yang sama juga mencatat penggunaan taoco dalam coto dan melihatnya sebagai salah satu jejak pengaruh kuliner Tionghoa.
Namun, kata “diduga” penting di sini.
Sejarah makanan sering kali berkembang melalui tradisi, ingatan masyarakat, penelitian, dan dokumentasi yang tidak selalu memberikan satu versi tunggal. Karena itu, cerita tentang asal-usul coto perlu ditempatkan secara proporsional.
Yang lebih jelas adalah posisinya hari ini.
Coto telah menjadi salah satu identitas kuliner Makassar dan bahkan tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 186/M/2015.
Jadi, Boleh Makan Coto dengan Nasi?
Tentu saja boleh.
Tidak ada larangan menyantap coto bersama nasi putih.
Namun, jika ingin menikmati coto dengan cara yang paling lekat dengan tradisi kuliner Makassar, ketupat atau buras adalah pasangan yang lebih khas.
Di situlah menariknya makanan tradisional.
Sebuah kebiasaan makan yang dilakukan berulang kali dapat melewati batas antara “cara menikmati makanan” dan “identitas budaya”.
Coto menjadi contohnya.
Kuahnya membawa7 rempah.
Daging dan jeroannya membawa karakter hidangan.
Ketupat atau buras melengkapinya.
Sementara cara menyantap semuanya menjadi bagian dari tradisi yang terus hidup.
Jadi, ketika lain kali semangkuk coto datang tanpa nasi tetapi dengan beberapa potong ketupat di sampingnya, tidak perlu bertanya ke mana nasinya.
Memang begitulah coto Makassar selama ini dikenal: bukan sekadar semangkuk kuah dan daging, tetapi sebuah hidangan dengan pasangan, cara makan, dan cerita yang ikut diwariskan.
Dan mungkin, di situlah kekuatan kuliner tradisional bekerja.
Resep bisa dicatat. Rasa bisa ditiru. Tetapi kebiasaan makanlah yang membuat sebuah makanan tetap memiliki identitas.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
