Sidrap, Katasulsel.com — Hari ini, orang mengenal Sidrap melalui kantor pemerintahan, jalan raya, pasar, sekolah, persawahan, dan pusat-pusat ekonomi.

Tetapi ratusan tahun lalu, peta kekuasaan di wilayah ini berbeda.

Belum ada Kantor Bupati.

Belum ada DPRD.

Belum ada istilah Kabupaten Sidenreng Rappang.

Yang ada adalah kerajaan, kedatuan, arung, adat dan pusat-pusat kekuasaan tradisional.

Lalu di mana sebenarnya pusat kekuasaan itu berada?

Pertanyaan sederhana tersebut membawa kita ke sejumlah kawasan yang hingga kini masih menyimpan jejak sejarah.

Allakuang, Salah Satu Jejak Penting Sidenreng

Salah satu kawasan yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah Sidenreng adalah Allakuang.

Di tempat ini terdapat Masjid Tua Jerrae, salah satu peninggalan penting sejarah Islam di Sidrap.

Masjid tersebut disebut dibangun pada 1609, ketika Kerajaan Sidenreng berada di bawah pemerintahan La Patiroi.

Nama Nene Mallomo juga ikut melekat pada sejarah kawasan ini.

Dalam sejumlah sumber, Nene Mallomo disebut berperan dalam pembangunan masjid bersama Syekh Bojo.

Artinya, Allakuang bukan sekadar nama sebuah wilayah.

Ia menyimpan jejak pertemuan antara kerajaan, Islam dan kehidupan masyarakat pada masa lampau.

Di Mana Istana Sidenreng?

Di sinilah persoalannya menjadi menarik.

Tidak mudah menunjuk satu bangunan yang masih berdiri dan mengatakan:

“Inilah istana Kerajaan Sidenreng.”

Sebab perjalanan waktu telah mengubah wajah kawasan.

Bangunan kerajaan bisa hilang.

Pusat pemerintahan bisa berpindah.

Struktur kekuasaan bisa berubah.

Sebagian jejaknya kemudian hanya tersisa melalui makam, masjid tua, situs, tradisi lisan dan nama tempat.

Karena itu, sejarah kerajaan Sidrap tidak selalu bisa dibaca melalui bangunan megah.

Kadang jejaknya justru tersembunyi di tempat yang setiap hari dilewati masyarakat.

Rappang Juga Memiliki Jejak Kekuasaan

Jika Sidenreng memiliki sejarah kedatuan, Rappang memiliki tradisi kekuasaan sendiri.

Penguasanya dikenal dengan gelar Arung Rappang.

Pusat kehidupan kerajaan dan bangsawan Rappang berkembang dalam kawasan yang kemudian menjadi bagian penting dari sejarah Kabupaten Sidrap.

Namun seperti Sidenreng, jejak fisik kekuasaan masa lalu juga mengalami perubahan.

Kerajaan tidak lagi menjadi sistem pemerintahan.

Bangunan lama berganti.

Jalan baru dibangun.

Permukiman berkembang.

Generasi berganti.

Akibatnya, sebagian masyarakat sekarang mungkin hidup berdampingan dengan situs sejarah tanpa menyadari bahwa tempat tersebut pernah menjadi bagian dari lingkungan kekuasaan kerajaan.

Makam Bisa Menjadi “Peta” Sejarah

Dalam penelitian sejarah lokal, makam tokoh kerajaan sering menjadi petunjuk penting.

Makam raja, bangsawan, ulama dan tokoh adat dapat membantu menelusuri bagaimana sebuah wilayah berkembang.

Begitu pula di Sidrap.

Makam-makam tua dan kompleks pemakaman tokoh masa lalu dapat menjadi pintu untuk membaca kembali sejarah Sidenreng dan Rappang.

Batu nisan bisa memberi petunjuk.

Nama keluarga bisa membuka hubungan kekerabatan.

Cerita masyarakat bisa menunjukkan lokasi yang dahulu dianggap penting.

Dan dari potongan-potongan kecil itulah sejarah bisa disusun kembali.

Masjid Tua Menjadi Saksi

Masjid Tua Jerrae menjadi contoh bagaimana bangunan keagamaan dapat menyimpan sejarah pemerintahan.

Masjid tersebut tidak berdiri terpisah dari perkembangan masyarakat.

Ia tumbuh dalam lingkungan kerajaan ketika Islam mulai memiliki posisi penting di Sidenreng.

Karena itu, masjid tua tidak hanya bisa dibaca sebagai tempat ibadah.

Ia juga menjadi saksi perubahan sosial dan politik.

Dari kerajaan yang berlandaskan adat dan tradisi Bugis menuju masyarakat yang semakin kuat dipengaruhi nilai-nilai Islam.

Istana Bisa Hilang, Nama Tidak

Ada ironi dalam sejarah.

Bangunan dapat runtuh.

Kayu dapat lapuk.

Batu dapat berpindah.

Tetapi nama seorang raja atau tokoh bisa bertahan ratusan tahun.

Begitu pula nama Sidenreng dan Rappang.

Kerajaannya sudah tidak ada.

Sistem kekuasaannya sudah berubah.

Namun kedua nama itu justru menjadi nama sebuah kabupaten.

Sidenreng Rappang.

Seolah-olah pemerintahan modern membawa dua nama kerajaan tersebut masuk ke zaman baru.

Dari Istana ke Kantor Bupati

Dulu pusat kekuasaan berada di lingkungan kerajaan.

Sekarang pemerintahan berada di kantor-kantor negara.

Dulu ada Addatuang dan Arung.

Sekarang ada bupati.

Dulu keputusan kerajaan berjalan dalam kerangka adat dan kekuasaan tradisional.

Sekarang pemerintahan berjalan berdasarkan undang-undang dan peraturan negara.

Tetapi wilayahnya masih sama-sama menjadi rumah bagi masyarakat Sidrap.

Itulah sebabnya jejak kerajaan penting untuk dirawat.

Bukan untuk mengembalikan sistem lama.

Tetapi untuk memahami dari mana sebuah daerah berasal.

Sejarah yang Masih Menunggu Dicari

Mungkin sebagian jejak kerajaan Sidrap masih berada di tempat yang belum banyak diketahui publik.

Bisa berupa makam tua.

Bisa berupa bekas pusat kerajaan.

Bisa berupa benda pusaka.

Bisa pula hanya berupa cerita yang diwariskan dari orang tua kepada anak.

Karena itu, pekerjaan berikutnya bukan sekadar menulis sejarah.

Tetapi mencari kembali jejaknya.

Mewawancarai keluarga keturunan kerajaan.

Mendatangi makam tua.

Mencatat cerita para tetua.

Membandingkannya dengan arsip dan sumber sejarah.

Sebab bisa jadi, di balik sebuah kampung yang terlihat biasa hari ini, pernah berdiri salah satu pusat kekuasaan penting di tanah Bugis.

Dan selama jejak itu belum benar-benar hilang, sejarah Sidrap masih punya banyak cerita untuk dibuka.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini