Sidrap, Katasulsel.com — Ada banyak cara untuk menceritakan Sidrap.
Bisa dimulai dari sejarah kerajaan. Bisa dari Nene Mallomo. Bisa pula dari perkembangan pemerintahannya setelah menjadi kabupaten.
Tetapi ada satu cara yang mungkin paling sederhana untuk memahami mengapa nama Sidenreng Rappang begitu dikenal hingga hari ini.
Lihatlah sawahnya.
Sebab tanpa sawah, Sidrap mungkin tak akan dikenal seperti sekarang.
Di balik hamparan hijau yang terlihat biasa dari pinggir jalan, sesungguhnya tersimpan perjalanan panjang sebuah daerah.
Perjalanan tentang air, tanah, petani, kerajaan, irigasi, perdagangan dan perubahan zaman.
Cerita itu bermula dari air
Jauh sebelum istilah “lumbung pangan” dikenal, masyarakat di wilayah Sidenreng telah hidup berdampingan dengan alam.
Danau Sidenreng menjadi salah satu bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Air bukan sekadar pemandangan.
Air menentukan kehidupan.
Tanah di sekitarnya menjadi tempat masyarakat bercocok tanam dan memenuhi kebutuhan hidup.
Dari lingkungan seperti itulah masyarakat agraris tumbuh.
Kemudian lahirlah Kerajaan Sidenreng.
Masyarakatnya berkembang.
Tradisi bertani diwariskan.
Sawah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Belum ada traktor.
Belum ada pupuk kimia seperti sekarang.
Belum ada mesin panen.
Namun kebutuhan manusia tetap sama:
tanah harus menghasilkan makanan.
Ada Nene Mallomo di tengah cerita
Ketika membicarakan sejarah Sidrap, nama Nene Mallomo hampir tidak mungkin dilewatkan.
Tokoh yang dikenal sebagai Addaowang Sidenreng itu lebih sering dikenang karena ketegasan dan prinsip hukumnya.
Namun ada sisi lain yang menarik.
Nene Mallomo hidup di tengah masyarakat agraris.
Masyarakat yang kehidupannya sangat bergantung pada tanah.
Artinya, jauh sebelum Sidrap disebut sebagai daerah penghasil beras, budaya pertanian sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sidenreng.
Sawah bukan sekadar lahan.
Sawah adalah sumber penghidupan.
Dari sawah, keluarga mendapatkan makanan.
Dari sawah pula ekonomi masyarakat perlahan tumbuh.
Kemerdekaan membawa cerita baru
Sidrap kemudian memasuki babak baru setelah terbentuk sebagai daerah kabupaten berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959.
Pemerintahan mulai dibangun.
Dan salah satu persoalan paling penting yang harus dijawab adalah pertanian.
Bagaimana membuat sawah menghasilkan lebih banyak?
Jawabannya ternyata bukan hanya soal bibit.
Ada satu benda yang jauh lebih penting.
Air.
Maka irigasi mulai menjadi bagian penting dalam pembangunan pertanian Sidrap.
Ada cerita menarik dari masa awal pembangunan itu.
Masyarakat pernah bergotong royong mengerjakan saluran irigasi sekitar lima kilometer.
Sekitar 1.200 orang disebut terlibat setiap hari.
Pekerjaan itu bahkan dapat diselesaikan dalam hitungan hari.
Bayangkan.
Ribuan manusia bekerja bukan membangun gedung megah.
Mereka menggali tanah agar air bisa mengalir.
Tujuannya sederhana.
Membuat sawah bisa ditanami.
Tetapi dari pekerjaan sederhana itulah, masa depan pertanian Sidrap perlahan berubah.
Ketika sawah mulai “minum” lebih teratur
Irigasi mengubah hubungan petani dengan musim.
Sebelumnya, hujan menjadi penentu utama.
Ketika hujan datang, petani menanam.
Ketika kemarau panjang, sawah menunggu.
Setelah jaringan irigasi berkembang, peluang menanam menjadi lebih besar.
Kemudian datang teknologi.
Varietas unggul.
Pupuk.
Penyuluhan.
Mesin pertanian.
Perlahan-lahan produktivitas meningkat.
Sawah Sidrap tidak lagi hanya menjadi tempat masyarakat memenuhi kebutuhan sendiri.
Gabah mulai bergerak ke pasar.
Penggilingan tumbuh.
Pedagang berkembang.
Transportasi ikut bergerak.
Satu butir padi ternyata mampu menggerakkan banyak orang.
Dari sawah, ekonomi ikut tumbuh
Inilah bagian yang sering terlupakan ketika orang menyebut Sidrap sebagai daerah penghasil beras.
Yang menghasilkan uang bukan hanya berasnya.
Tetapi seluruh aktivitas di belakangnya.
Petani menanam.
Buruh bekerja.
Gabah dipanen.
Truk mengangkut.
Penggilingan beroperasi.
Pedagang membeli.
Beras masuk ke pasar.
Dari sana uang berputar kembali ke masyarakat.
Karena itu, sejarah pertanian Sidrap sebenarnya juga merupakan sejarah pertumbuhan ekonomi masyarakatnya.
Sawah membentuk lebih dari sekadar lanskap.
Sawah ikut membentuk identitas.
Hari ini, targetnya bukan lagi sekadar panen
Waktu berubah.
Tantangan juga berubah.
Jika dahulu petani berjuang agar sawah mendapatkan air, sekarang perhatian diarahkan bagaimana lahan yang ada bisa menghasilkan lebih banyak.
Muncullah gagasan IP300.
Indeks Pertanaman 300.
Sederhananya, lahan didorong agar bisa ditanami hingga tiga kali dalam setahun.
Angkanya memang hanya tiga digit.
Tetapi di balik angka itu ada pekerjaan besar.
Air harus tersedia.
Benih harus tepat waktu.
Pupuk harus tersedia.
Hama harus dikendalikan.
Petani harus menyesuaikan pola tanam.
Artinya, IP300 bukan sekadar soal menambah jumlah panen.
Ini adalah bab baru dalam perjalanan panjang pertanian Sidrap.
Dari cangkul menuju teknologi
Kalau seorang petani dari masa lalu tiba-tiba berdiri di tengah sawah Sidrap hari ini, mungkin ia akan banyak bertanya.
Mengapa mesin bergerak begitu cepat?
Mengapa sawah bisa dipanen dengan alat?
Mengapa petani bisa mengetahui waktu tanam melalui informasi cuaca?
Tetapi ada satu hal yang mungkin langsung ia kenali.
Sawahnya.
Tanahnya masih sama.
Padi masih ditanam.
Petani masih menunggu panen.
Dan air masih menjadi penentu.
Teknologi boleh berubah.
Program pemerintah boleh berganti.
Namun hubungan manusia dengan sawah tetap bertahan.
Maka, jangan hanya melihat sawah sebagai hamparan hijau
Ketika melintas di jalan-jalan Sidrap dan melihat sawah membentang, mungkin yang terlihat hanyalah pemandangan.
Padahal di baliknya ada sejarah panjang.
Ada jejak kerajaan.
Ada tradisi masyarakat.
Ada gotong royong.
Ada saluran irigasi yang digali dengan tenaga manusia.
Ada petani yang bertahun-tahun menjaga tanahnya.
Ada penggilingan yang terus bekerja.
Ada perdagangan beras.
Dan ada generasi yang menggantungkan masa depannya pada lahan yang sama.
Itulah sebabnya satu kalimat sederhana mungkin cukup untuk menggambarkan perjalanan tersebut:
Tanpa sawah, Sidrap mungkin tak akan dikenal seperti sekarang.
Sebab Sidrap bukan sekadar memiliki sawah.
Sidrap dibentuk oleh sawah.
Dan selama sawah masih ditanami, sejarah panjang itu sebenarnya masih terus ditulis—oleh tangan-tangan petani di setiap musim tanam.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
