Sidrap, Katasulsel.com — Ia bukan bupati.

Bukan pula raja yang duduk di singgasana.

Tetapi namanya justru bertahan melampaui banyak nama penguasa yang pernah memerintah tanah Sidenreng.

Nene Mallomo.

Bagi masyarakat Kabupaten Sidenreng Rappang, nama itu bukan sekadar bagian dari buku sejarah.

Ia telah menjadi identitas.

Sidrap bahkan dikenal sebagai Bumi Nene Mallomo.

Di balik sebutan itu terdapat cerita tentang seorang tokoh yang hidup pada masa Kerajaan Sidenreng dan dikenal karena keteguhannya dalam persoalan hukum, adat dan keadilan.

Siapa Sebenarnya Nene Mallomo?

Nene Mallomo bukan nama asli.

Ia dikenal sebagai gelar yang melekat kepada La Pagala, tokoh yang dalam berbagai sumber sejarah ditempatkan sebagai cendekiawan sekaligus penasihat Kerajaan Sidenreng.

Di sinilah letak menariknya.

Ia tidak memegang takhta.

Namun pikirannya berada dekat dengan pusat kekuasaan.

Ketika raja menghadapi persoalan penting, Nene Mallomo disebut menjadi salah satu tempat meminta pertimbangan.

Dalam dunia kerajaan, posisi seperti ini tidak bisa dianggap kecil.

Raja memiliki kewenangan.

Tetapi penasihat memiliki pengaruh melalui pikiran dan nasihatnya.

Prinsip yang Menjadi Warisan

Nama Nene Mallomo begitu kuat karena cerita tentang ketegasan hukumnya diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu prinsip yang paling dikenal adalah:

“Ade’ temmakkeana, temmakkeappo.”

Secara sederhana, hukum tidak mengenal anak dan cucu.

Pesannya sangat relevan bahkan jika dibaca pada zaman sekarang.

Hukum tidak boleh berubah hanya karena seseorang memiliki hubungan keluarga dengan penguasa.

Dalam sejumlah kisah yang berkembang mengenai Nene Mallomo, ketegasan itu bahkan diuji ketika perkara menyentuh lingkungan keluarganya sendiri.

Di situlah karakter Nene Mallomo digambarkan.

Ia tidak menempatkan hubungan darah di atas aturan.

Kisah yang Membuat Namanya Abadi

Ada sebuah cerita yang sangat terkenal.

Seorang anak raja disebut melakukan pelanggaran.

Raja kemudian meminta pertimbangan kepada Nene Mallomo.

Masalahnya menjadi pelik karena perkara tersebut menyangkut keluarga penguasa sendiri.

Namun jawaban yang diberikan tidak berubah.

Jika memang bersalah, maka hukum harus ditegakkan.

Cerita tersebut kemudian diwariskan sebagai simbol bahwa keadilan seharusnya tidak boleh tunduk kepada kekuasaan.

Meski kisah-kisah tentang Nene Mallomo berkembang melalui tradisi lisan dan sumber sejarah yang beragam, satu pesan yang terus muncul adalah keteguhan terhadap aturan.

Itulah yang membuat namanya begitu kuat.

Hidup di Zaman Kerajaan

Nene Mallomo hidup ketika sistem pemerintahan modern belum dikenal.

Tidak ada DPRD.

Tidak ada undang-undang seperti sekarang.

Tidak ada kantor bupati.

Yang ada adalah kerajaan, adat, aturan dan struktur kekuasaan tradisional.

Dalam konteks itulah pemikiran Nene Mallomo menjadi penting.

Ia berada di antara kekuasaan dan masyarakat.

Ia menjadi bagian dari tradisi intelektual Bugis yang menempatkan ade’ atau adat sebagai salah satu fondasi kehidupan sosial.

Karena itu, warisan Nene Mallomo tidak hanya soal hukuman.

Lebih luas dari itu.

Ia berbicara mengenai bagaimana kekuasaan seharusnya berjalan.

Masjid Tua dan Jejak Zamannya

Jejak sejarah masa Nene Mallomo juga dapat ditemukan di kawasan Allakuang.

Salah satunya adalah Masjid Tua Jerrae.

Masjid ini disebut dibangun pada 1609, ketika Kerajaan Sidenreng berada di bawah pemerintahan La Patiroi. Nene Mallomo disebut turut berperan dalam pembangunan masjid tersebut bersama Syekh Bojo.

Jejak itu memperlihatkan bahwa periode tersebut bukan hanya masa pemerintahan kerajaan.

Islam juga mulai menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Sidenreng.

Masjid kemudian menjadi salah satu ruang penting kehidupan sosial dan keagamaan.

Mengapa Namanya Lebih Dikenal daripada Rajanya?

Pertanyaan ini menarik.

Mengapa seorang penasihat kerajaan justru begitu populer dalam ingatan masyarakat?

Jawabannya mungkin sederhana.

Kekuasaan bisa berakhir ketika masa pemerintahan selesai. Tetapi pemikiran bisa hidup jauh lebih lama.

Raja berganti.

Kerajaan berubah.

Sistem pemerintahan pun akhirnya hilang.

Tetapi prinsip keadilan yang dilekatkan kepada Nene Mallomo terus diceritakan.

Bahkan ratusan tahun kemudian, namanya digunakan untuk menyebut identitas sebuah daerah.

Bumi Nene Mallomo.

Dari Nene Mallomo ke Sidrap Modern

Ketika Kabupaten Sidenreng Rappang lahir pada 1960, sistem kerajaan sudah berubah menjadi pemerintahan kabupaten.

H. Andi Sapada Mappangile menjadi bupati pertama.

Pangkajene menjadi ibu kota.

Tetapi sejarah lama tidak ikut dikuburkan.

Nama Sidenreng tetap ada.

Rappang tetap ada.

Dan Nene Mallomo tetap hidup dalam ingatan.

Kini, ketika masyarakat berbicara tentang pembangunan, pemerintahan dan masa depan Sidrap, nama Nene Mallomo masih kerap disebut sebagai simbol keteguhan terhadap nilai dan hukum.

Barangkali itu warisan terbesarnya.

Bukan istana.

Bukan mahkota.

Bukan jabatan.

Melainkan sebuah gagasan:

bahwa hukum harus berdiri di atas kepentingan siapa pun.

Dan mungkin karena itulah, seorang tokoh yang tidak pernah menjadi bupati dan tidak dikenal sebagai raja justru menjadi salah satu nama paling kuat dalam sejarah Sidrap.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini