Sidrap, Katasulsel.com — Kalau sejarah Sidrap dimulai dari dua kerajaan, satu pertanyaan menarik muncul kemudian.

Mengapa ibu kotanya justru Pangkajene?

Bukan Sidenreng.

Bukan pula Rappang.

Jawabannya berkaitan dengan perubahan besar ketika dua wilayah bersejarah itu disatukan menjadi Kabupaten Sidenreng Rappang.

Pangkajene kemudian menjadi titik temu.

Ketika Dua Wilayah Menjadi Satu

Jauh sebelum Kabupaten Sidrap berdiri, wilayah ini dikenal melalui dua pusat kekuasaan Bugis: Sidenreng dan Rappang.

Keduanya memiliki sejarah, struktur kekuasaan dan wilayah pengaruh masing-masing.

Ketika pemerintahan Republik mulai membentuk struktur daerah tingkat II, persoalannya bukan lagi siapa raja yang berkuasa.

Persoalannya berubah:

Di mana pusat pemerintahan daerah baru itu ditempatkan?

Kabupaten Sidenreng Rappang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi.

Kemudian pada 18 Februari 1960, pemerintahan Kabupaten Sidrap mulai memasuki babak baru.

Dan Pangkajene menjadi pusatnya.

Pangkajene sebagai Titik Temu

Pemilihan Pangkajene tidak bisa dilepaskan dari posisi geografisnya.

Jika Sidenreng dan Rappang adalah dua akar sejarah Sidrap, Pangkajene berada pada kawasan yang dapat menjadi penghubung keduanya.

Dengan menempatkan pusat pemerintahan di Pangkajene, ibu kota baru tidak secara simbolis “memihak” salah satu bekas kerajaan.

Ia menjadi titik temu.

Ini penting dalam konteks pembentukan daerah baru.

Satu kabupaten.

Dua sejarah.

Satu pusat pemerintahan.

Bukan Sekadar Persoalan Jarak

Memilih ibu kota sebenarnya bukan sekadar mencari titik yang berada di tengah peta.

Ada persoalan akses.

Ada kepentingan pemerintahan.

Ada aktivitas ekonomi.

Ada hubungan antarwilayah.

Dan ada pertimbangan sejarah.

Pangkajene kemudian berkembang menjadi ruang pertemuan berbagai kepentingan tersebut.

Dari sinilah kota itu perlahan berubah.

Dari sebuah kawasan yang berada dalam bentang sejarah kerajaan menjadi pusat pemerintahan kabupaten.

18 Februari 1960

Tanggal itu menjadi salah satu tonggak terpenting dalam sejarah Sidrap.

Pada 18 Februari 1960, Kabupaten Sidenreng Rappang memasuki era pemerintahan daerah modern.

H. Andi Sapada Mappangile tercatat sebagai bupati pertama.

Pangkajene menjadi tempat pusat pemerintahan baru tersebut.

Sejak saat itu, sejarah Sidrap tidak lagi hanya berbicara tentang Addatuang Sidenreng dan Arung Rappang.

Muncul istilah baru:

Bupati Sidenreng Rappang.

Perubahan itu bukan sekadar pergantian jabatan.

Itu adalah perubahan sistem kekuasaan.

Enam Puluh Enam Tahun Kemudian

Sekarang sudah 2026.

Genap 66 tahun sejak Pangkajene menjadi ibu kota Sidrap.

Selama waktu tersebut, wajahnya berubah berkali-kali.

Jalan bertambah.

Bangunan pemerintahan tumbuh.

Pusat perdagangan berkembang.

Generasi berganti.

Namun fungsi Pangkajene sebagai bagian penting dari kehidupan Kabupaten Sidrap tetap bertahan.

Bahkan kawasan ibu kota kemudian diperkuat melalui Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2015 tentang Penetapan Kawasan Ibu Kota Kabupaten Sidenreng Rappang.

Pusat pemerintahan berkembang ke kawasan Kelurahan Batulappa, Kecamatan Watang Pulu.

Sementara kawasan Pangkajene di Kecamatan Maritengngae tetap menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat.

Kota yang Menyatukan Dua Cerita

Ada ironi menarik di balik sejarah ini.

Sidenreng dan Rappang merupakan dua nama yang sangat kuat dalam sejarah Sidrap.

Tetapi ketika keduanya disatukan menjadi kabupaten, pusat pemerintahannya justru ditempatkan di tempat yang menjadi penghubung.

Pangkajene.

Seolah-olah sejarah memberi pesan:

dua akar tidak harus kehilangan identitas untuk tumbuh menjadi satu pohon.

Sidenreng tetap Sidenreng.

Rappang tetap Rappang.

Tetapi keduanya kemudian berada dalam satu kabupaten.

Dan Pangkajene menjadi salah satu simbol penyatuan tersebut.

Dari Kerajaan ke Kabupaten

Jika ditarik garis panjang, perjalanan itu terlihat jelas.

Dulu ada Kerajaan Sidenreng.

Ada Kerajaan Rappang.

Kemudian datang era swapraja.

Setelah Indonesia merdeka, sistem pemerintahan berubah.

Lahir Kabupaten Sidenreng Rappang.

Dan Pangkajene menjadi ibu kotanya.

Hari ini, ketika orang melewati pusat kota Pangkajene, mungkin yang terlihat hanya jalan, toko, kantor dan aktivitas warga.

Tetapi di baliknya ada sejarah panjang tentang bagaimana dua wilayah dengan akar kerajaan yang berbeda akhirnya bertemu dalam satu pemerintahan.

Pangkajene bukan sekadar tempat kantor pemerintah berdiri.

Ia adalah salah satu titik penting yang menghubungkan masa kerajaan dengan Sidrap modern.

Dan sudah 66 tahun kota itu memegang peran tersebut.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini