Oleh: Edy Basri

KALAU ditanya di mana Islam pertama kali berkembang di Nusantara, sebagian besar orang akan menjawab Aceh.

Ada yang menyebut Demak.

Ada pula yang menunjuk Ternate dan Tidore.

Jarang sekali yang menyebut Papua.

Padahal, menurut sejumlah kajian sejarah, Islam sudah hadir di sebagian wilayah Papua sejak abad ke-14.

Artinya, usia Islam di Papua hari ini diperingati mencapai 666 tahun.

Angka yang tidak pendek.

Bahkan lebih tua daripada usia banyak negara modern di dunia.

Namun ada hal yang lebih menarik dibanding angka itu.

Selama ratusan tahun, Islam di Papua tumbuh tanpa meninggalkan jejak benturan besar dengan budaya setempat.

Ia datang, diterima, lalu hidup berdampingan.

Pelan.

Tenang.

Hampir tanpa kegaduhan.

“Itulah yang membuat Papua menarik untuk diteliti,” kata akademisi Ismail Suardi Wekke saat berbincang dengan Katasulsel.com, Senin (10/8/2026).

Ismail bukan orang baru dalam kajian Papua.

Namanya dikenal melalui berbagai penelitian, publikasi akademik, hingga keterlibatannya sebagai salah satu penulis buku Masuknya Agama Islam di Tanah Papua.

Menurutnya, perjalanan Islam di Papua memiliki karakter yang berbeda dibanding sejumlah wilayah lain di Nusantara.

“Islam berkembang melalui interaksi sosial, perdagangan, dan hubungan antarmasyarakat. Ada proses budaya yang panjang di sana,” ujarnya.

Dalam banyak diskusi sejarah, masuknya Islam ke Papua sering dikaitkan dengan kedatangan Syekh Abdul Ghaffar di wilayah Fakfak sekitar tahun 1360.

Tetapi Ismail mengingatkan bahwa yang lebih penting bukan sekadar tahun.

Sejarah bukan lomba menentukan siapa paling dulu datang.

Sejarah adalah memahami bagaimana sebuah peradaban bertahan.

Dan Islam di Papua bertahan karena menemukan ruang dialog dengan budaya lokal.

Bukan ruang dominasi.

Mungkin karena itulah Papua memiliki filosofi yang sampai hari ini terus hidup: Satu Tungku Tiga Batu.

Filosofi sederhana.

Tetapi maknanya dalam.

Tungku hanya bisa berdiri jika ketiga batu penyangganya tetap ada.

Satu batu hilang, keseimbangan ikut hilang.

Bagi masyarakat Papua Barat, filosofi itu menjadi simbol hubungan antaragama yang saling menopang.

Bukan saling mengalahkan.

Ketika banyak daerah di Indonesia sibuk memperdebatkan perbedaan, Papua justru menyimpan cerita yang berbeda.

Di sejumlah wilayah, hubungan keluarga lintas agama bukan hal yang aneh.

Perayaan hari besar keagamaan sering menjadi ruang perjumpaan sosial.

Masyarakat lebih sibuk menjaga hubungan kekerabatan dibanding mempertentangkan identitas.

Tentu Papua tidak sempurna.

Tidak ada daerah yang sempurna.

Tetapi sejarah panjang itu menunjukkan satu hal.

Bahwa agama dapat tumbuh tanpa harus menghapus budaya.

Bahwa keyakinan dapat berkembang tanpa harus menciptakan jarak sosial.

Dan bahwa dakwah tidak selalu berbentuk ceramah.

Kadang ia hadir dalam keteladanan, perdagangan yang jujur, dan hubungan kemanusiaan yang baik.

Karena itu, Ismail Suardi Wekke mengapresiasi langkah MUI Papua Barat yang menggelar seminar dan peringatan 666 tahun Islam di Papua.

Menurutnya, generasi muda perlu mengetahui bahwa Papua bukan hanya memiliki kekayaan alam.

Papua juga memiliki kekayaan sejarah.

“Saya mengapresiasi MUI Papua Barat yang telah menginisiasi kegiatan ini sekaligus membuka ruang diskusi akademik mengenai sejarah Islam di Papua,” katanya.

Bagi Ismail, sejarah tidak boleh berhenti menjadi arsip.

Ia harus terus diceritakan.

Terus diteliti.

Terus diperdebatkan secara ilmiah.

Karena bangsa yang melupakan sejarahnya akan kesulitan memahami dirinya sendiri.

Mungkin itulah pelajaran terbesar dari Papua.

Selama 666 tahun, Islam hadir di sana.

Bertumbuh bersama masyarakat.

Berjalan berdampingan dengan budaya lokal.

Tanpa banyak suara.

Tanpa banyak kegaduhan.

Dan justru karena tumbuh dengan tenang, jejaknya masih dapat ditemukan hingga hari ini.

Di Fakfak.

Di Kaimana.

Di Raja Ampat.

Di Manokwari.

Dan di ingatan masyarakat yang masih percaya bahwa perbedaan tidak selalu harus berakhir dengan pertentangan.

Kadang cukup dengan saling menopang.

Seperti tiga batu yang menjaga satu tungku tetap menyala. (*)