Bandung, Katasulsel.com β Aroma seduhan kopi menguar di sela percakapan hangat di kedai Kopi Warga, kawasan Dago, Bandung, Sabtu petang, 26 September 2026. Di salah satu sudut ruang, Ismail Suardi Wekke tampak menyimak catatan perjalanan yang telah berlangsung hampir sepekan.
Hari itu merupakan hari kelima dari rangkaian panjang tujuh hari perhelatan ASEAN Symposium on Higher Educationβsebuah perjalanan akademik lintas negara yang dimulai sejak Selasa, 22 September lalu.
“Kami menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada seluruh mitra yang telah membuka pintu dan mendukung penuh terlaksananya kegiatan ini,” kata Ismail di sela rehat sore itu.
Bagi Komite Saintifik Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM) sekaligus Wakil Rektor Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan tersebut, simposium ini selain seremoni pertukaran plakat, juga ikhtiar menghidupkan ekosistem mobilitas akademik di Asia Tenggara.
Perhelatan ini lahir dari kolaborasi lintas batas. Persatuan Mahasiswa Anak Terengganu (PERMATA) Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) menggandeng SEAAM serta Faculty of Design Communication, Hotel and Tourism (FDCHT) Bina Nusantara (Binus) University sebagai motor penggerak utama. Di barisan pendukung, hadir pula UCYP University asal Malaysia dan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan yang memperkuat fondasi kerja sama.
Dari Selat Malaka ke Tanah Pasundan: Tahun Kedua Tradisi Simposium
Selama ini, SEAAM lebih dulu dikenal lewat rekam jejaknya yang konsisten menggerakkan program mobilitas mahasiswa (student mobility) lintas negara di kawasan Asia Tenggara. Namun, jejaring tersebut tidak berhenti pada pertukaran kelas semata. SEAAM kembali menginisiasi ruang dialektika yang lebih terstruktur melalui panggung simposium akademik yang kini resmi memasuki tahun kedua.
Jejak perhelatan perdana simposium ini dimulai pada 2025 lalu, ketika SEAAM merentangkan panggung diskusi lintas batas di dua negara sekaligus: Malaysia dan Singapura. Sukses dengan formula pertemuan intelektual di Semenanjung Malaya dan Negeri Singa tersebut, tahun 2026 ini poros kegiatan digeser ke Indonesia dengan memilih koridor Jakarta dan Bandung sebagai titik temu. Perpindahan lokus dari Malaysia-Singapura ke Jakarta-Bandung ini menjadi penanda bahwa estafet diskursus pendidikan tinggi ASEAN terus bergerak dinamis menyapa pusat-pusat akademik utama di kawasan.
Meretas Sekat Geografis lewat Format Hibrida
Selama lima hari perjalanan dari Jakarta, Depok, hingga Bandung, delegasi mahasiswa dan akademisi ini tidak hanya berdiskusi di satu titik. Rangkaian simposium dirancang bergerak dinamis menyambangi sejumlah institusi mitra strategis selain Binus University dan Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta, termasuk Universitas Indonesia (UI) dan Satu University.
Di kampus Satu University, diskusi melampaui batas ruang kelas fisik. Melalui format hibrida, forum akademik ini berhasil menghubungkan delegasi di lokasi dengan sivitas akademika dari kawasan timur Indonesia. Perguruan tinggi di Sulawesi βyakni IAI rawa Aopa Konawe Selatan, IAI DDI Sidrap, Universitas Muhammadiyah Barru, serta Institut Bisnis dan Keuangan (IBK) NITRO Makassarβturut ambil bagian secara daring dalam pertukaran gagasan tersebut.
Bersama-sama empat kampus tersebut SEAAM menginisiasi pertemuan hybrid bagi LPPM dalam sesi kolokium Kajian Asia Tenggara. Sebagai kesempatan mengeksplorasi potensi kerjasama untuk tahun-tahun mendatang.
Keterlibatan kampus-kampus lintas provinsi dalam forum internasional ini menegaskan pesan utama simposium: internasionalisasi pendidikan tinggi tidak lagi menjadi monopoli perguruan tinggi di kota metropolitan.
SEAAM juga mendapatkan dukungan sekretariat dari Ruang Kolaborasi Pemuda (RKP) yang menyediakan fasilitasi sekretariat dan juga bantuan teknis untuk kelancaran kegiatan.
Babak Baru Mobilitas Mahasiswa
Memasuki hari kelima, agenda yang dijalankan para mahasiswa asal Terengganu bersama rekan-rekan mereka di Indonesia menunjukkan bagaimana diplomasi pendidikan bekerja dari akar rumput. Alih-alih terjebak dalam birokrasi kampus yang kaku, kolaborasi antara PERMATA UKM, SEAAM, dan FDCHT Binus University memilih jalur yang lebih cair: dialog tatap muka, kunjungan lapangan antar-universitas, serta pemanfaatan teknologi ruang virtual.
Dengan dua hari tersisa sebelum rangkaian tujuh hari ini resmi ditutup, simposium tersebut telah meninggalkan jejak jejaring yang konkret dari Jakarta hingga Bandung, sekaligus merentangkan jembatan kolaborasi hingga ke Sulawesi dan Semenanjung Malaya. Dari balik meja kayu Kopi Warga di bilangan Dago, optimisme itu dirawatβbahwa masa depan pendidikan tinggi ASEAN bertumpu pada keberanian kampus-kampus untuk saling menyapa dan berbagi ruang belajar. (*)
