Jakarta, Katasulsel.com β€” Ada satu ironi yang kerap dihadapi sarjana baru di Indonesia. Ketika melamar pekerjaan, mereka ditanya pengalaman kerja. Padahal, untuk mendapatkan pengalaman itu, mereka terlebih dahulu harus diterima bekerja.

Lingkaran itulah yang ingin diputus pemerintah melalui Program Magang Nasional atau MagangHub, salah satu program ketenagakerjaan dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Program yang diluncurkan pada 2025 itu menawarkan kesempatan kepada lulusan perguruan tinggi untuk merasakan dunia kerja secara langsung selama enam bulan. Bukan sekadar melihat bagaimana kantor beroperasi, melainkan ikut belajar menjalankan pekerjaan di perusahaan, badan usaha milik negara (BUMN), hingga instansi pemerintah.

Angkanya cukup besar. Pemerintah menetapkan kuota 100.000 peserta pada 2025, kemudian meningkat menjadi 150.000 peserta pada 2026. Jika kedua kuota tersebut dijumlahkan, totalnya mencapai 250.000 kesempatan magang yang direncanakan dalam dua tahun.

Namun, angka kuota tentu belum otomatis berarti seluruh peserta terserap, apalagi semuanya berakhir dengan pekerjaan tetap. Di sinilah ukuran keberhasilan program semestinya dilihat: apakah magang benar-benar memperbesar peluang lulusan mendapatkan pekerjaan setelah masa pelatihan berakhir?

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyebut keterbatasan pengalaman profesional sebagai salah satu hambatan yang dihadapi lulusan perguruan tinggi saat memasuki pasar kerja.

Menurut dia, Magang Nasional dirancang untuk menjembatani kebutuhan perusahaan terhadap tenaga kerja yang siap pakai dengan kebutuhan lulusan untuk memperoleh pengalaman profesional.

β€œProgram ini dirancang sebagai jembatan agar generasi muda kita tidak lagi terkendala masalah pengalaman kerja saat hendak memasuki pasar kerja,” kata Yassierli melalui siaran pers Biro Humas Kementerian Ketenagakerjaan, Selasa (20/10/2026).

Ia menegaskan, peserta akan mendapatkan pendampingan mentor di perusahaan. Pemerintah juga memastikan program magang tidak dimaksudkan untuk menggantikan posisi pekerja yang sudah ada.

Enam bulan untuk mengubah status fresh graduate

Bagi lulusan baru, enam bulan bisa menjadi periode yang menentukan. Di bangku kuliah, seseorang mempelajari teori, konsep, dan berbagai pendekatan akademik. Di tempat kerja, pengetahuan itu diuji oleh tenggat waktu, target, komunikasi tim, serta persoalan nyata yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu nilai yang ditawarkan MagangHub. Peserta dapat mengasah keterampilan teknis sekaligus kemampuan nonteknis, mulai dari menyelesaikan tugas hingga beradaptasi dengan budaya kerja profesional.

Program ini juga menyasar lulusan pendidikan profesi dan penyandang disabilitas. Dengan cakupan tersebut, pemerintah berupaya membuka akses pengalaman kerja bagi kelompok lulusan yang membutuhkan kesempatan untuk menunjukkan kompetensinya.

Dukungan yang diberikan pun tidak hanya berupa pengalaman. Peserta memperoleh uang saku bulanan yang nilainya setara dengan upah minimum di wilayah tempat perusahaan atau lembaga penempatan berada.

Selain itu, tersedia perlindungan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM), pendampingan mentor, serta kesempatan mengikuti sertifikasi kompetensi melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Paket dukungan ini menjadi penting karena peserta tetap membutuhkan biaya hidup selama menjalani program. Pengalaman kerja tanpa dukungan memadai justru berisiko menyulitkan lulusan yang berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas.

β€œDengan pengalaman nyata, insentif yang memadai, dan pengakuan kompetensi resmi, generasi muda kita memiliki kesiapan yang jauh lebih baik untuk meraih kehidupan yang lebih sejahtera,” ujar Yassierli.

Tantangannya bukan cuma membuka pintu

Meski menawarkan peluang, program magang tidak serta-merta menyelesaikan persoalan pengangguran terdidik. Pengalaman enam bulan akan lebih bermakna jika peserta memperoleh tugas yang relevan dengan bidang keilmuannya, mendapat bimbingan sungguh-sungguh, dan memiliki kompetensi yang dibutuhkan perusahaan.

Karena itu, keberhasilan Magang Nasional semestinya tidak berhenti pada besarnya kuota atau jumlah peserta yang memulai program. Tingkat penyelesaian magang, kualitas pembimbingan, sertifikasi yang diperoleh, hingga jumlah peserta yang kemudian mendapatkan pekerjaan layak juga penting untuk dievaluasi.

Perusahaan pun perlu menjalankan perannya secara serius. Peserta magang bukan sekadar tambahan tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan rutin, melainkan lulusan yang sedang membangun fondasi kariernya.

Pada akhirnya, tantangan pertama seorang sarjana memang mendapatkan pengalaman. Namun, tantangan berikutnya adalah mengubah pengalaman tersebut menjadi pekerjaan yang nyata.

MagangHub berpotensi menjadi jembatan menuju tujuan itu. Seberapa jauh jembatan tersebut benar-benar mengantarkan lulusan ke dunia kerja akan ditentukan bukan hanya oleh besarnya kuota, tetapi juga oleh kualitas pelaksanaan dan hasil setelah program berakhir. (*)

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru