Selamat atas gelar barunya, doktor.

Oleh: Edy Basri

Ada yang menarik dari Syaharuddin Alrif (SAR).

Pagi mengurus kabupaten. Siang memikirkan pembangunan. Di sela-sela itu, masih sempat mengurus disertasi.

Menjadi bupati saja sudah cukup membuat kepala penuh. Ini malah ditambah urusan kampus. Ada penelitian, ada data, ada teori, ada dosen penguji. Semuanya punya tuntutan sendiri.

Tapi SAR menjalaninya.

Rabu, 21 Oktober 2026, Bupati Sidrap itu menuntaskan seminar hasil penelitian doktoralnya di Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar.

Topiknya porang.

Judulnya panjang, sebagaimana lazimnya disertasi: Model Strategi Kebijakan Agribisnis Porang Berkelanjutan di Kabupaten Sidenreng Rappang.

Kalau dibuat lebih sederhana, kira-kira begini: bagaimana supaya porang bukan cuma tumbuh di kebun, tetapi juga tumbuh menjadi sumber penghidupan petani?

Sebab, menanam itu satu urusan. Menjual hasil panen dengan harga yang menguntungkan, itu urusan lain. Pertanian tidak berhenti ketika panen selesai. Justru setelah panen, banyak pertanyaan mulai muncul.

Porang mau dijual ke mana? Siapa pembelinya? Bagaimana pengolahannya? Bagaimana petani bisa menikmati nilai tambahnya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang membuat penelitian ini dekat dengan kebutuhan Sidrap.

Dan di situlah menariknya SAR. Ia meneliti persoalan pertanian yang juga menjadi bagian dari pekerjaan pemerintahannya sendiri.

Tentu, menjadi bupati tidak otomatis membuat seseorang menjadi doktor. Pengalaman pemerintahan harus bertemu dengan metode penelitian, data, analisis, dan pengujian akademik.

Di ruang kampus, jabatan tidak menggantikan argumentasi. Semua harus dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Seminar hasil sudah dilewati. Kini, SAR tinggal menghadapi ujian promosi doktor sebagai tahapan berikutnya. Setelah seluruh proses dan persyaratan akademik dipenuhi, barulah gelar doktor resmi disandang.

Jadi, ini bukan lagi soal memulai perjalanan. Perjalanannya sudah sampai di bagian akhir.

Selamat, SAR.

Gelar akademik memang penting. Tetapi yang lebih penting, ilmu yang dipelajari jangan berhenti sebagai tulisan tebal di rak perpustakaan.

Kalau penelitian tentang porang itu kelak membantu pemerintah merumuskan kebijakan yang lebih tepat, petanilah yang semestinya ikut merasakan manfaatnya.

Sebab, petani tidak hidup dari judul disertasi. Petani hidup dari hasil kebunnya.

Dan seorang bupati, selain boleh berbangga atas pencapaian akademiknya, tentu juga ingin melihat masyarakat yang dipimpinnya semakin sejahtera.

Kini, satu tahapan penting telah selesai. Ujian promosi doktor menanti di depan.

Semoga lancar, SAR.

Dari ruang seminar Unhas, semoga ilmu itu kelak benar-benar menemukan jalannya pulang ke Sidrap.

Bukan hanya menjadi gelar baru bagi bupatinya, tetapi juga membawa manfaat baru bagi daerahnya. (*)

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru