Makassar, Katasulsel.com — Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Makassar, kata “Daeng” terdengar begitu akrab.
Kata itu bisa muncul dalam nama seseorang, digunakan untuk menyapa orang yang lebih tua, terdengar ketika memanggil pedagang, pengemudi bentor, atau orang yang belum dikenal, bahkan menjadi bagian dari nama sejumlah tokoh penting dalam sejarah Makassar.
Namun, pernahkah terpikir mengapa kata Daeng bisa digunakan dalam begitu banyak konteks?
Apakah Daeng merupakan gelar bangsawan?
Apakah semua orang Makassar yang dipanggil Daeng berasal dari keluarga bangsawan?
Atau sebenarnya Daeng hanyalah sebuah panggilan?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Sejarah penggunaan Daeng justru menunjukkan adanya perubahan dan perluasan makna dari masa ke masa. Dalam kebudayaan Makassar, Daeng pernah berkaitan dengan nama, penghormatan, gelar, dan status sosial. Dalam kehidupan masyarakat Makassar modern, penggunaannya kemudian meluas menjadi sapaan sehari-hari.
Daeng Tidak Selalu Berarti Gelar Bangsawan
Kesalahpahaman yang cukup sering muncul adalah anggapan bahwa Daeng berarti bangsawan.
Padahal, penggunaan Daeng dalam kebudayaan Makassar jauh lebih kompleks.
Penelitian Stephanie Prisilia Djaswadi dari Universitas Airlangga mengenai makna Daeng dalam kebudayaan suku Makassar menjelaskan bahwa Daeng memiliki beberapa makna. Kata tersebut dapat menjadi nama pemberian orang tua, nama julukan atau penghargaan atas ciri khas maupun kelebihan seseorang, serta sebutan atau gelar bagi orang yang dihormati, dituakan, atau berasal dari kalangan bangsawan.
Jadi, Daeng tidak dapat diterjemahkan secara tunggal sebagai “gelar bangsawan”.
Maknanya bergantung pada konteks sosial dan sejarah penggunaannya.
Inilah yang membuat perjalanan kata Daeng menjadi menarik.
Dari Nama Pemberian hingga Nama Kehormatan
Dalam kebudayaan Makassar, Daeng juga dapat menjadi bagian dari nama seseorang.
Dalam konteks tertentu, nama tersebut diberikan oleh orang tua sebagai bentuk doa, pengharapan, dan nilai religius.
Ada pula Daeng yang digunakan sebagai nama kehormatan atau julukan karena seseorang memiliki kelebihan, keahlian, atau prestasi tertentu.
Pada masyarakat Makassar masa lalu, dikenal pula istilah Areng Paddaengang, atau nama kehormatan yang diberikan kepada seseorang.
Dalam sumber sejarah mengenai masyarakat Makassar, Areng Paddaengang disebut sebagai “nama tua” atau nama gelar yang menggunakan Daeng. Pada keluarga tertentu, khususnya kalangan bangsawan dan keluarga terpandang, nama tersebut menjadi bagian penting dalam tata kehidupan sosial.
Artinya, nama seseorang dalam tradisi Makassar tidak selalu berhenti pada nama yang diberikan ketika lahir.
Ada konteks sosial yang dapat membuat seseorang memperoleh nama atau sebutan lain ketika memasuki fase kehidupan tertentu.
Mengapa Banyak Tokoh Makassar Memiliki Nama Daeng?
Kalau membaca sejarah Sulawesi Selatan, kita akan menemukan banyak nama tokoh yang memiliki unsur Daeng.
Salah satunya adalah Sultan Hasanuddin.
Nama lengkapnya dikenal sebagai I Mallombassi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin.
Tokoh lain dalam sejarah Gowa-Tallo juga menggunakan unsur Daeng dalam namanya, seperti I Mallingkaang Daeng Manyonri Karaeng Katangka, yang dikenal sebagai Raja Tallo dan salah satu tokoh penting dalam proses Islamisasi kerajaan Gowa-Tallo.
Nama-nama tersebut menunjukkan bahwa Daeng memang memiliki posisi penting dalam sistem penamaan masyarakat Makassar pada masa lalu.
Namun, keberadaan Daeng dalam nama tokoh bangsawan tidak berarti setiap orang yang disebut Daeng pada masa sekarang otomatis berasal dari keturunan bangsawan.
Di sinilah konteks sejarah menjadi penting.
Makna Daeng Mengalami Perubahan
Penelitian Tamrin dalam jurnal Sirok Bastra menunjukkan bahwa penggunaan Daeng mengalami perluasan makna dalam kehidupan sosial masyarakat Makassar.
Pada masa lalu, Daeng berkaitan dengan gelar dan penghormatan tertentu.
Dalam perkembangannya, penggunaannya meluas kepada orang yang dihormati, orang yang lebih tua, orang yang dituakan, atau orang yang dianggap memiliki kedudukan tertentu.
Perubahan tersebut membuat Daeng perlahan keluar dari batas penggunaan yang sebelumnya lebih terbatas.
Kata yang dahulu memiliki muatan status sosial kemudian menjadi bagian dari tata krama dalam percakapan sehari-hari.
Dengan kata lain, Daeng mengalami perjalanan dari nama dan gelar menuju sapaan sosial.
Lalu, Kenapa Tukang Becak Juga Dipanggil Daeng?
Nah, di sinilah penggunaan Daeng di Makassar menjadi semakin menarik.
Ketika berjalan di sejumlah kawasan Kota Makassar, kita dapat mendengar seseorang memanggil pengemudi bentor dengan sebutan Daeng.
Pedagang sayur keliling juga dapat dipanggil Daeng.
Pengayuh becak pun demikian.
Apakah mereka semuanya bangsawan?
Tentu tidak.
Penelitian Tamrin menemukan bahwa dalam kehidupan sosial masyarakat Kota Makassar, Daeng juga digunakan untuk menyapa kelompok masyarakat seperti pengayuh becak, pedagang sayur keliling, dan penarik bentor. Penggunaan tersebut berkaitan dengan kebutuhan akan sapaan yang mengandung unsur kesopanan dan tata krama.
Di sinilah perubahan makna Daeng terlihat sangat jelas.
Daeng tidak lagi semata-mata menunjuk status sosial seseorang.
Ia dapat berfungsi sebagai sapaan yang menunjukkan penghormatan.
Daeng sebagai Bentuk Kesopanan
Dalam percakapan sehari-hari, seseorang tentu membutuhkan cara untuk menyapa orang yang belum dikenalnya.
Menyebut nama secara langsung mungkin terasa terlalu akrab.
Menggunakan sapaan tertentu bisa menjadi pilihan yang lebih sopan.
Dalam konteks masyarakat Makassar, Daeng kemudian menjalankan fungsi tersebut.
Orang yang lebih tua dapat dipanggil Daeng.
Orang yang belum dikenal dapat disapa Daeng.
Pedagang dapat dipanggil Daeng.
Pengemudi bentor dapat dipanggil Daeng.
Bukan karena mereka semua memiliki gelar bangsawan, tetapi karena kata tersebut telah memperoleh fungsi baru sebagai sapaan yang menunjukkan penghormatan dan kesantunan.
Perubahan ini menunjukkan bahwa bahasa tidak pernah benar-benar diam.
Sebuah kata dapat mempertahankan sejarahnya, tetapi sekaligus memperoleh fungsi baru sesuai kebutuhan masyarakat.
Daeng di Makassar dan Bugis Tidak Selalu Sama
Ada hal lain yang juga penting.
Daeng tidak hanya digunakan dalam lingkungan Makassar.
Kata tersebut juga dikenal dalam masyarakat Bugis, tetapi konteks penggunaannya dapat berbeda.
Budayawan Universitas Hasanuddin Firman Saleh menjelaskan bahwa dalam masyarakat Bugis, Daeng dapat digunakan sebagai sapaan kepada kakak, sedangkan dalam konteks Makassar, Daeng lebih dekat dengan sapaan kepada orang yang lebih tua atau dituakan.
Karena itu, penggunaan Daeng sebaiknya tidak langsung disamaratakan antara masyarakat Bugis dan Makassar.
Sulawesi Selatan memiliki keragaman bahasa, budaya, dan sistem sosial.
Satu kata dapat memiliki fungsi yang berbeda ketika digunakan dalam komunitas yang berbeda.
Daeng Bukan Sekadar Kata
Kalau dilihat sepintas, Daeng hanya terdiri atas lima huruf.
Namun, perjalanan sosial kata tersebut jauh lebih panjang.
Di dalamnya terdapat sejarah penamaan.
Ada penghormatan.
Ada hubungan usia.
Ada status sosial.
Ada tata krama.
Ada identitas kebudayaan.
Bahkan ada perubahan struktur masyarakat.
Pada masa lalu, penggunaannya dapat berkaitan dengan gelar, nama kehormatan, dan lingkungan sosial tertentu.
Dalam masyarakat modern, kata tersebut semakin sering digunakan dalam interaksi sehari-hari.
Perubahan itu tidak berarti makna lama sepenuhnya hilang.
Sebaliknya, makna lama dan makna baru dapat hidup berdampingan.
Dari Bangsawan ke Jalanan Kota
Perjalanan Daeng menjadi semakin menarik ketika melihat penggunaannya di ruang publik.
Sebuah kata yang pernah memiliki kaitan dengan kehormatan dan status sosial kini dapat terdengar di jalan-jalan kota.
“Daeng, ke mana?”
“Daeng, berapa?”
“Daeng, antar ke sana.”
Sapaan semacam itu terdengar sederhana.
Tetapi sebenarnya menunjukkan bagaimana sebuah unsur kebudayaan dapat beradaptasi dengan kehidupan masyarakat yang berubah.
Penelitian Tamrin menyebut fleksibilitas sejarah penggunaan Daeng sebagai salah satu faktor yang membuat maknanya meluas. Perubahan kebutuhan komunikasi masyarakat juga membuat Daeng digunakan sebagai sapaan yang dianggap sopan terhadap kelompok masyarakat tertentu.
Bahasa akhirnya mengikuti kehidupan manusia.
Ketika masyarakat berubah, penggunaan bahasa pun ikut bergerak.
Mengapa Daeng Bisa Bertahan?
Ada banyak kata dari masa lalu yang akhirnya hilang dari percakapan sehari-hari.
Tetapi Daeng justru bertahan.
Salah satu alasannya adalah kata tersebut berhasil menjalankan fungsi sosial yang masih dibutuhkan masyarakat: menghormati orang lain.
Orang Makassar dapat menggunakan Daeng untuk menunjukkan jarak sosial yang sopan tanpa harus mengetahui nama seseorang.
Kata itu menjadi sederhana, tetapi fungsional.
Ia dapat digunakan kepada orang yang lebih tua.
Kepada orang yang belum dikenal.
Kepada pekerja di ruang publik.
Dan dalam konteks tertentu, kepada orang yang memang memiliki nama atau gelar Daeng.
Kemampuan menjalankan berbagai fungsi inilah yang membuat Daeng tetap hidup.
Jadi, Siapa yang Boleh Dipanggil Daeng?
Jawabannya bergantung pada konteks.
Jika Daeng merupakan bagian dari nama atau gelar seseorang, penggunaannya berkaitan dengan identitas orang tersebut.
Jika digunakan sebagai sapaan sehari-hari, Daeng dapat menjadi bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua, dituakan, atau seseorang yang belum dikenal dalam konteks sosial masyarakat Makassar.
Karena itu, tidak tepat jika setiap orang yang dipanggil Daeng dianggap bangsawan.
Begitu pula sebaliknya, tidak tepat menganggap Daeng hanya sebagai panggilan biasa tanpa sejarah.
Keduanya dapat benar, tergantung konteks.
Daeng Adalah Jejak Perubahan Masyarakat Makassar
Pada akhirnya, perjalanan kata Daeng memperlihatkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar persoalan panggilan.
Ia menunjukkan bagaimana kebudayaan dapat berubah tanpa benar-benar menghilang.
Makna Daeng pernah berkaitan dengan nama, doa, penghargaan, gelar, dan status sosial.
Kemudian penggunaannya meluas menjadi sapaan kepada orang yang dihormati atau dituakan.
Kini, Daeng dapat terdengar hampir di berbagai lapisan kehidupan masyarakat Makassar.
Di lingkungan keluarga.
Di pasar.
Di jalan.
Di tempat kerja.
Di angkutan umum.
Dan dalam percakapan sehari-hari.
Satu kata, tetapi memiliki perjalanan sejarah yang panjang.
Jadi, ketika mendengar seseorang dipanggil Daeng, jangan buru-buru menganggapnya sebagai tanda bahwa orang tersebut berasal dari keluarga bangsawan.
Bisa jadi itu memang bagian dari namanya.
Bisa jadi sebuah nama kehormatan.
Bisa jadi panggilan karena usia atau kedudukan sosial.
Atau bisa jadi sesederhana sebuah sapaan sopan kepada orang yang belum dikenal.
Sebab Daeng bukan sekadar panggilan. Ia adalah salah satu jejak bagaimana masyarakat Makassar mempertahankan penghormatan melalui bahasa, sekaligus membiarkan bahasa tersebut berubah mengikuti zaman.
Dan mungkin, itulah alasan mengapa satu kata yang berasal dari masa lalu masih terdengar begitu hidup di jalanan Makassar hari ini.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
