Makassar, Katasulsel.com ā Upaya menekan penyebaran Tuberkulosis (TBC) terus dilakukan di tingkat masyarakat. Puskesmas Kassi-Kassi menggelar Gerakan Serentak Tracing TBC yang diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kelurahan Bonto Makkio, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 23ā24 September 2026, dipusatkan di Kantor Lurah Bonto Makkio dan menyasar warga berusia di atas 15 tahun. Sebanyak 200 warga tercatat mengikuti rangkaian pemeriksaan kesehatan tersebut, dengan masing-masing 100 peserta hadir pada hari pertama dan 100 peserta pada hari kedua.
Program ini menjadi bagian dari strategi penemuan kasus TBC secara aktif di tengah masyarakat. Melalui pendekatan jemput bola, petugas kesehatan berupaya mengidentifikasi lebih dini warga yang berpotensi mengalami gejala TBC agar dapat segera memperoleh pemeriksaan lanjutan dan penanganan sesuai prosedur.
Selain fokus pada penelusuran kasus TBC, kegiatan tersebut juga dipadukan dengan layanan Cek Kesehatan Gratis sehingga masyarakat dapat memperoleh gambaran kondisi kesehatannya secara lebih menyeluruh. Pendekatan terintegrasi ini dinilai mampu meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan sekaligus memperluas jangkauan deteksi dini berbagai masalah kesehatan.
Puskesmas Kassi-Kassi menilai keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam keberhasilan program tersebut. Tingginya partisipasi warga menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin dan deteksi dini penyakit menular.
Melalui kegiatan ini, Puskesmas Kassi-Kassi berharap upaya penemuan kasus TBC dapat semakin optimal, sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih aktif memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen memperkuat upaya promotif dan preventif guna mewujudkan masyarakat yang lebih sehat.
Deteksi dini dinilai menjadi kunci dalam pengendalian TBC. Dengan semakin banyak warga yang menjalani skrining kesehatan, peluang menemukan kasus lebih awal dan memberikan tindak lanjut yang tepat juga semakin besar, sehingga risiko penularan di lingkungan masyarakat dapat ditekan. (*)
