Banggai, Kepulauan — Puluhan siswa di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kejadian di Kecamatan Totikum Selatan pada Kamis, 20 Agustus 2026, itu langsung mendapat perhatian pemerintah daerah.
Kasus tersebut muncul ketika Badan Gizi Nasional (BGN) sedang memperketat keamanan pangan MBG. Hanya 10 hari sebelumnya, BGN memberlakukan aturan bahwa makanan MBG harus dikonsumsi paling lambat empat jam setelah matang. Tiga hari kemudian, BGN mengumumkan 504 dapur MBG di berbagai daerah ditutup permanen karena dinilai tidak layak dari sisi sanitasi.
Namun, sampai saat ini belum ada kesimpulan resmi bahwa makanan MBG menjadi penyebab pasti gangguan kesehatan para siswa di Banggai Kepulauan.
Sedikitnya 51 Orang Terdampak
Berdasarkan laporan sementara Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan, sedikitnya 51 orang mengalami kondisi kesehatan yang membutuhkan penanganan setelah mengonsumsi makanan MBG.
Korban dalam laporan awal tersebut terdiri atas 47 siswa SD Negeri Mata, satu siswa SD Negeri Kanali, satu siswa SD Muhammadiyah Peling, seorang ibu menyusui, dan seorang balita. Tiga korban sempat mendapatkan bantuan oksigen.
Dua korban kemudian dilaporkan kembali normal, sementara seorang ibu masih membutuhkan bantuan oksigen. Satu korban juga dirujuk ke RSUD Trikora Salakan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Angka tersebut masih berupa data awal.
Sementara laporan lain pada 21 Agustus menyebut 52 siswa dari SDN Mata, SDN Kanali, dan SDN Peley telah mendapat penanganan di Puskesmas Totikum. Keterangan itu mengutip Camat Totikum Selatan Kodrat Labas. Selain para siswa, seorang balita dan seorang ibu menyusui juga disebut mengalami gejala serupa.
Dengan adanya perbedaan pendataan, angka korban masih perlu menunggu pembaruan resmi.
Penyebab Masih Ditelusuri
Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan belum menyatakan penyebab pasti kejadian tersebut.
Yang telah dilaporkan adalah munculnya gangguan kesehatan setelah para korban menyantap makanan MBG. Pemerintah daerah masih berkoordinasi dengan sekolah dan tenaga kesehatan untuk menelusuri penyebabnya. Wakil Bupati Banggai Kepulauan juga mendatangi SDN Mata, salah satu sekolah yang siswanya paling banyak terdampak.
Karena itu, istilah “diduga keracunan” masih lebih tepat digunakan dalam pemberitaan.
Belum tepat menyebut makanan MBG terbukti menyebabkan keracunan sebelum hasil pemeriksaan memastikan hubungan tersebut.
Terjadi Saat Aturan Keamanan Pangan Diperketat
Kasus Banggai Kepulauan mendapat perhatian lebih karena waktunya berdekatan dengan sejumlah kebijakan baru BGN.
Pada 10 Agustus 2026, BGN memberlakukan “Rules of 4 Hours”. Makanan MBG diwajibkan dikonsumsi paling lambat empat jam setelah matang sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan dan kualitas pangan.
Tiga hari kemudian, BGN mengumumkan sebanyak 504 dapur MBG ditutup permanen setelah dinyatakan tidak layak secara sanitasi berdasarkan laporan Dinas Kesehatan melalui Kementerian Kesehatan.
BGN juga dalam beberapa pekan terakhir memperkuat pengawasan keamanan pangan, termasuk menegaskan pentingnya standar sanitasi dan kepatuhan terhadap prosedur operasional.
Tetapi belum ada keterangan bahwa dapur yang memasok makanan ke sekolah-sekolah di Totikum Selatan termasuk dalam 504 dapur yang ditutup tersebut.
Banggai Kepulauan Pernah Mengalami Kasus Serupa
Kejadian terbaru juga mengingatkan pada insiden MBG di Banggai Kepulauan pada September 2025.
Saat itu, BGN mencatat 277 siswa terdampak dugaan gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG di Kecamatan Tinangkung. Para siswa berasal dari sejumlah sekolah, termasuk SDN Tompudau, SMP Tinangkung, SMA Tinangkung, SMK Tinangkung, dan SD Pembina Salakan.
Sebanyak 32 siswa masih menjalani perawatan di RSUD Trikora, sedangkan 245 lainnya telah diperbolehkan pulang dengan tetap berada dalam pengawasan tenaga kesehatan. Distribusi MBG di Kabupaten Banggai Kepulauan juga dihentikan sementara sampai investigasi selesai.
Dalam kasus 2025 itu, Kepala SPPG Salakan menyebut dugaan awal mengarah pada menu ikan tuna goreng saus. Sampel makanan disiapkan untuk pemeriksaan di BPOM Palu. Namun, dugaan tersebut tetap merupakan bagian dari proses investigasi, bukan kesimpulan yang bisa otomatis diterapkan pada kejadian terbaru.
Yang Kini Ditunggu
Kasus terbaru di Totikum Selatan masih menyisakan sejumlah pertanyaan penting: dari mana makanan berasal, kapan makanan dimasak, berapa lama proses distribusinya, kapan makanan dikonsumsi, serta bagaimana kondisi penyimpanan dan sanitasi selama proses tersebut.
Terlebih, BGN baru saja menetapkan batas empat jam konsumsi makanan MBG. Apakah ketentuan itu terpenuhi dalam kasus Totikum Selatan masih membutuhkan penjelasan dari pihak terkait.
Di sisi lain, kondisi para korban menjadi perhatian utama pemerintah daerah. Sebagian besar mendapat penanganan di Puskesmas Totikum, sementara satu korban dirujuk ke RSUD Trikora Salakan.
Hingga 22 Agustus 2026, belum ada hasil resmi yang menetapkan penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut maupun yang memastikan makanan MBG sebagai sumbernya.
Kasusnya masih menunggu hasil penelusuran di lapangan.(*)
