Pinrang, Katasulsel.com — Nama Pinrang terdengar sederhana. Namun, di balik nama yang kini melekat sebagai identitas sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan, tersimpan kisah tentang Kerajaan Sawitto, seorang raja yang pernah ditawan, dan perubahan yang terjadi setelah ia kembali dari Gowa.

Pinrang bahkan disebut telah dikenal sebagai sebuah negeri sejak abad XIV, meski pada masa itu kawasan tersebut lebih dikenal dengan nama Sawitto. Istilah Pinrang kemudian muncul sekitar abad XVI.

Lalu, bagaimana nama Sawitto berubah menjadi Pinrang?

Jawabannya tidak hanya memiliki satu versi.

Dari Sawitto Menjadi Pinrang

Jauh sebelum menjadi Kabupaten Pinrang seperti sekarang, wilayah tersebut merupakan bagian dari sejumlah kerajaan, dengan Sawitto sebagai salah satu yang penting.

Dalam sejarah lokal yang dihimpun Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, istilah Pinrang mulai dikenal sekitar tahun 1540, setelah La Paleteang, Raja Sawitto ke-IV, kembali dari Kerajaan Gowa.

Peristiwa yang mengiringi kepulangannya kemudian melahirkan salah satu cerita paling terkenal mengenai asal-usul nama Pinrang.

Cerita itu bermula dari perang.

Ketika Raja Sawitto Dibawa ke Gowa

Sekitar tahun 1544, Kerajaan Sawitto terlibat peperangan dengan Kerajaan Gowa.

Kekuatan kedua kerajaan tidak seimbang. Sawitto mengalami kekalahan dan La Paleteang bersama permaisurinya ditawan dan dibawa ke Gowa sebagai bagian dari kemenangan Gowa atas Sawitto.

Bagi Sawitto, persoalannya bukan hanya kehilangan seorang raja.

Mereka juga harus mencari cara untuk membebaskan pemimpin kerajaan tersebut.

Menurut sumber sejarah dan budaya Pinrang yang dihimpun Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, pihak Sawitto kemudian menunjuk dua tobarani atau orang berani, To Lengo dan To Kipa, untuk membebaskan La Paleteang dan permaisurinya.

Misi tersebut berhasil.

La Paleteang dan permaisurinya akhirnya kembali ke Sawitto.

Namun, kepulangan itu membawa sebuah perubahan yang kemudian diingat dalam sejarah nama Pinrang.

“Wajah Raja Sudah Berubah”

Setelah melihat kondisi La Paleteang yang kembali dari Gowa, masyarakat disebut menyadari adanya perubahan pada wajah dan kondisi tubuh sang raja.

Dalam sumber sejarah dan budaya Pinrang, masyarakat menyambutnya dengan ungkapan:

“Teppinra-pinrakana’ni tappana datue pole ri Gowa.”

Ungkapan tersebut dimaknai sebagai gambaran bahwa wajah sang raja telah mengalami perubahan setelah kembali dari Gowa.

Dari kata pinra, yang dalam bahasa Bugis berkaitan dengan makna perubahan, kemudian berkembang istilah Pinrang.

Inilah salah satu versi yang paling menarik tentang asal-usul nama daerah tersebut.

Bukan berasal dari sebuah keputusan administratif modern, melainkan dari sebuah peristiwa yang terjadi setelah seorang raja kembali dari peperangan dan penawanan.

Tetapi Ada Versi Lain

Sejarah nama tempat sering kali tidak sesederhana satu cerita.

Pinrang juga memiliki versi lain mengenai asal-usul namanya.

Sumber sejarah dan budaya Pinrang mencatat adanya penjelasan yang mengaitkan kata tersebut dengan kondisi permukiman masyarakat pada masa lampau yang banyak dipengaruhi rawa atau genangan air.

Masyarakat disebut harus berpindah-pindah untuk mencari tempat tinggal yang lebih baik dan terbebas dari genangan.

Dalam bahasa Bugis dikenal istilah “Pinra-pinra onroang”, yang merujuk pada perubahan atau perpindahan tempat tinggal. Dari istilah pinra tersebut, nama Pinrang kemudian dikaitkan dengan perkembangan pengucapan dan dialek setempat.

Jadi, ada dua narasi utama yang sering muncul.

Pertama, kisah perubahan wajah La Paleteang setelah kembali dari Gowa.

Kedua, kisah perubahan dan perpindahan permukiman masyarakat akibat kondisi lingkungan.

Keduanya sama-sama bertemu pada kata pinra, yang berkaitan dengan perubahan.

Pinrang Bukan Nama yang Muncul Begitu Saja

Di sinilah menariknya sejarah nama Pinrang.

Kedua versi tersebut sama-sama menggambarkan perubahan.

Pada kisah La Paleteang, perubahan terjadi pada diri seorang raja setelah melewati pengalaman perang dan penawanan.

Pada kisah permukiman, perubahan terjadi pada tempat tinggal masyarakat karena kondisi lingkungan.

Dengan demikian, pinra tidak hanya dapat dibaca sebagai sebuah kata.

Ia juga menjadi gambaran mengenai masyarakat yang terus bergerak menghadapi perubahan.

Sumber Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan bahkan mengaitkan nama Pinrang dengan dinamika sosial masyarakatnya sepanjang sejarah.

Di Balik Pinrang Ada Sawitto

Membicarakan asal-usul nama Pinrang juga berarti membicarakan Sawitto.

Sawitto merupakan salah satu kerajaan yang memiliki posisi penting dalam sejarah wilayah Pinrang.

Selain Sawitto, wilayah yang kini menjadi Kabupaten Pinrang juga memiliki sejarah kerajaan Suppa, Alitta, Batulappa, dan Kassa. Kerajaan-kerajaan tersebut pernah memiliki hubungan dan terlibat dalam berbagai persekutuan politik di Sulawesi Selatan.

Sawitto dan Suppa, misalnya, merupakan bagian dari Lima Ajattappareng, bersama Sidenreng, Rappang, dan Alitta.

Artinya, Pinrang memiliki sejarah politik yang jauh lebih panjang daripada sekadar sejarah sebuah kabupaten.

Nama Pinrang yang digunakan sekarang merupakan bagian dari perjalanan panjang berbagai kerajaan dan masyarakat yang pernah hidup di wilayah tersebut.

Nama Pinrang Bertahan Melewati Zaman

Seiring berjalannya waktu, nama Pinrang semakin dikenal dan kemudian menjadi identitas administratif.

Kabupaten Pinrang secara resmi lahir pada 19 Februari 1960, ketika Andi Makkoelaoe dilantik sebagai bupati pertama.

Perubahan tersebut menandai babak baru.

Kerajaan-kerajaan telah menjadi bagian dari sejarah.

Sistem pemerintahan modern mengambil tempat.

Namun, nama Pinrang tetap membawa jejak masa lalu.

Nama yang dahulu dikaitkan dengan kata pinra kini menjadi nama kabupaten dengan wilayah seluas sekitar 1.961,77 kilometer persegi. Data pemerintah daerah juga mencatat Pinrang memiliki 12 kecamatan.

Nama yang Menyimpan Makna Perubahan

Ada sesuatu yang menarik dari kisah ini.

Sebuah nama daerah bisa saja terlihat biasa ketika ditulis di papan jalan, dokumen pemerintahan, atau peta.

Tetapi di baliknya bisa terdapat perang, perpindahan, seorang raja, dan perubahan kehidupan masyarakat.

Pinrang adalah salah satunya.

Nama itu mengingatkan pada La Paleteang yang kembali setelah menjadi tawanan Gowa.

Ia juga mengingatkan pada masyarakat yang harus menyesuaikan tempat tinggal dengan kondisi lingkungan.

Dua cerita yang berbeda, tetapi bertemu pada satu gagasan:

perubahan.

Jadi, Mengapa Disebut Pinrang?

Tidak ada satu narasi tunggal yang boleh begitu saja dipaksakan sebagai satu-satunya kebenaran mengenai asal-usul nama Pinrang.

Sumber sejarah lokal mencatat beberapa versi.

Salah satu yang paling terkenal mengaitkannya dengan La Paleteang, Raja Sawitto ke-IV, yang kembali dari Gowa setelah ditawan dalam peperangan. Perubahan pada dirinya kemudian dikaitkan dengan kata Bugis pinra, yang berarti perubahan.

Versi lainnya menghubungkan nama tersebut dengan perubahan dan perpindahan permukiman masyarakat yang menghadapi kondisi lingkungan berupa rawa dan genangan.

Apa pun versi yang digunakan, satu hal menjadi menarik:

nama Pinrang lahir dari cerita tentang perubahan.

Perubahan seorang raja.
Perubahan tempat tinggal.
Perubahan masyarakat.

Dan akhirnya, perubahan sebuah negeri bernama Sawitto menjadi wilayah yang hari ini dikenal sebagai Kabupaten Pinrang.

Sebuah nama yang terus hidup, meski zaman telah berkali-kali berubah.(*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita pinrang Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar pinrang hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita pinrang terbaru di sini