Pinrang, Katasulsel.com — Bungi di Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang, kini dikenal sebagai sebuah desa yang tumbuh bersama aktivitas masyarakat sehari-hari. Di balik suasana itu, kawasan ini menyimpan cerita ketika Bungi pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Batulappa.

Jejaknya tidak hanya tinggal dalam catatan sejarah. Di Bungi masih terdapat saoraja, rumah besar yang berkaitan dengan keluarga bangsawan dan pemerintahan kerajaan pada masa lalu.

Penelitian sejarah mengenai Desa Bungi mencatat, wilayah yang kini menjadi Desa Bungi pada awalnya dikenal sebagai Kampung Bungi. Kawasan tersebut merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Batulappa sebelum kemudian mengalami perubahan administratif menjadi desa.

Dalam sejarah Kerajaan Batulappa, pusat pemerintahan sebelumnya berada di kawasan pegunungan. Pusat kerajaan kemudian dipindahkan ke Bungi pada masa pemerintahan Arung Batulappa XIV, Andi Baso Puang Moseng.

Perpindahan tersebut membuat Bungi memperoleh kedudukan penting dalam perjalanan kerajaan. Sumber sejarah lokal menyebut Andi Baso Puang Moseng kemudian dikenal dengan gelar yang mengaitkannya dengan Batulappa dan Bungi. Bungi selanjutnya menjadi ibu kota Kerajaan Batulappa hingga masa berakhirnya pemerintahan swapraja pada 1960.

Kedudukan Bungi sebagai pusat pemerintahan juga terlihat dari keberadaan kantor Arung Batulappa dan saoraja.

Salah satu peninggalan yang masih disebut dalam berbagai sumber adalah Saoraja Camming atau Saoraja Bungi. Penelitian mengenai sejarah kawasan Bungi mencatat keberadaan saoraja yang dahulu menjadi bagian dari ruang penting bagi hubungan antarkerajaan kecil di sekitarnya.

Bahkan, dalam catatan sejarah Batulappa, Bungi pernah memiliki beberapa saoraja yang berkaitan dengan keluarga Arung Batulappa. Salah satunya dikaitkan dengan Andi Tanri, Arung Batulappa XVI, sementara bangunan lainnya berkaitan dengan keturunan dan penguasa Batulappa pada periode berikutnya.

Saoraja pada masa kerajaan bukan sekadar rumah untuk beristirahat. Bangunan semacam ini berkaitan dengan kedudukan sosial pemiliknya sekaligus menjadi bagian dari ruang kehidupan keluarga bangsawan.

Karena itu, keberadaan saoraja di Bungi ikut memperlihatkan perubahan fungsi kawasan tersebut. Dari tempat persinggahan dan permukiman, Bungi berkembang menjadi pusat pemerintahan kerajaan.

Nama Bungi sendiri juga memiliki cerita tersendiri.

Sumber sejarah lokal mengaitkan nama kawasan ini dengan kebiasaan rombongan Arung Batulappa yang melakukan perjalanan menuju wilayah utara, termasuk kawasan Mandar. Bungi disebut sebagai tempat mereka bermalam. Dalam dialek Pattinjo, bermalam disebut ma’bongi. Dari istilah tersebut kemudian berkembang nama Bonging atau Bunging yang kini dikenal sebagai Bungi.

Bungi juga tidak berdiri sendiri dalam jaringan wilayah pada masa itu. Sumber penelitian mengenai kawasan Duampanua menyebut Bungi menjadi titik persinggahan penting bagi hubungan tiga kerajaan kecil, yakni Batulappa, Lampa, dan Rajang. Di kawasan tersebut kemudian terdapat saoraja yang menjadi salah satu jejak hubungan antarkerajaan.

Seiring perubahan sistem pemerintahan setelah Indonesia merdeka, kedudukan kerajaan ikut berubah. Kerajaan-kerajaan yang sebelumnya menjalankan pemerintahan sendiri kemudian berada dalam sistem swapraja sebelum struktur tersebut berakhir.

Batulappa termasuk salah satu swapraja yang berada dalam wilayah yang kemudian menjadi Kabupaten Pinrang. Pemerintah Kabupaten Pinrang mencatat bahwa cikal bakal wilayah kabupaten ini berkaitan dengan empat kerajaan yang kemudian menjadi swapraja, yakni Kassa, Batulappa, Sawitto, dan Suppa.

Pada 1960, masa swapraja berakhir. Bungi pun tidak lagi berfungsi sebagai pusat pemerintahan kerajaan.

Namun, perubahan administrasi tidak serta-merta menghapus jejak masa lalu.

Rumah-rumah tua, saoraja, nama tempat, serta cerita tentang para Arung masih menjadi bagian dari ingatan sejarah masyarakat Bungi. Salah satu penelitian bahkan mencatat keberadaan Saoraja Bungi di sekitar Masjid Nurul Imam Bungi sebagai peninggalan yang masih dapat ditelusuri.

Kini Bungi berada dalam wilayah Kabupaten Pinrang dengan wajah yang jauh berbeda dari masa ketika Arung Batulappa menjalankan pemerintahan. Tetapi di antara rumah-rumah dan jalan desa, nama saoraja masih mengingatkan bahwa kawasan ini pernah menjadi tempat para penguasa Batulappa bermukim dan menjalankan pemerintahan.

Dari Bungi, jejak Kerajaan Batulappa tidak sepenuhnya menjadi cerita yang tertinggal di buku sejarah. Sebagian masih berdiri dalam bentuk rumah tua yang menyimpan nama dan ingatan tentang sebuah pusat kerajaan di Pinrang.