Sidrap, katasulsel.com — Dari bawah, sawah itu terlihat luas.

Dari atas helikopter, ternyata jauh lebih luas lagi.

Hamparan hijau seperti karpet terbentang ke berbagai arah. Sebagian padi sudah menguning. Sebagian lainnya masih hijau, berdiri tegak menunggu waktu panen.

Helikopter terbang rendah.

Lalu berputar mengelilingi hamparan persawahan.

Melihat Danau Sidenreng yang indah, diapit oleh sawah-sawah, sungguh sangatlah indah.

Di dalamnya ada dua orang yang sedang melihat Sidrap dengan cara yang berbeda.

Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif duduk di samping Panglima Divisi Infanteri 3 Kostrad Mayjen TNI Wulan Nur Yudhanto.

Bupati bukan sekadar mengajak sang jenderal terbang.

Ia seperti sedang membuka peta pertanian Sidrap—tetapi petanya berada langsung di bawah helikopter.

Hamparan sawah yang terlihat dari jendela menjadi bahan penjelasan.

Di sana ada padi.

Di sana ada lahan yang sebentar lagi panen.

Di sisi lain, tanaman yang masih menghijau.

Syaharuddin menjelaskan bagaimana pertanian, khususnya padi, menjadi salah satu kekuatan utama Sidrap.

Panglima mendengarkan.

Sesekali pandangan diarahkan ke bawah.

Helikopter terus berputar.

Dan semakin lama melihat dari udara, semakin jelas satu hal: Sidrap bukan sekadar punya sawah.

Sidrap punya bentangan pangan.

Pemandangan itulah yang kemudian mendapat perhatian khusus Mayjen TNI Wulan Nur Yudhanto.

Dalam wawancaranya, ia mengaku melihat sendiri ketahanan Sidrap menghadapi kondisi cuaca ekstrem.

Ia bahkan membandingkan produktivitas pertanian Sidrap dengan wilayah lain pada musim El Nino.

“Kalau di wilayah lain pada musim El Nino hanya sekitar 5 sampai 6 ton per hektare, di Sidrap bisa sampai 11 ton per hektare,” ujarnya.

Angka 11 ton itu terasa berbeda ketika disampaikan setelah melihat sendiri sawahnya dari udara.

Sebab sebelumnya angka itu hanya terdengar sebagai statistik.

Di atas helikopter, angka itu berubah menjadi pemandangan.

Hijau.

Luas.

Subur.

Dan sebagian sudah menguning menunggu mesin panen bekerja.

Bisa jadi inilah bagian paling menarik dari kunjungan Pangdivif 3 Kostrad ke Sidrap.

Ia datang dalam konteks latihan militer.

Datang untuk melihat wilayah yang luas dan aman bagi latihan pasukan lintas udara.

Tetapi kemudian ia diajak melihat sesuatu yang tidak kalah strategis bagi sebuah negara: pangan.

Sebab dalam perspektif pertahanan, ketahanan pangan bukan perkara kecil.

Sebuah wilayah yang mampu menjaga produksi pangannya di tengah tekanan cuaca ekstrem memiliki daya tahan tersendiri.

Prajurit punya kesiapan tempur.

Daerah punya ketahanan wilayah.

Petani punya ketahanan pangan.

Tiga-tiganya bertemu di Sidrap.

Dan dari udara, Bupati Syaharuddin Alrif tampaknya ingin menunjukkan langsung kepada Panglima: beginilah Sidrap bekerja.

Bukan lewat slide presentasi.

Bukan lewat angka di atas kertas.

Tetapi melalui sawah yang terlihat dari jendela helikopter.

Helikopter kembali berputar.

Rendah.

Pelan.

Hamparan sawah kembali memenuhi pandangan.

Padi yang hijau dan sebagian menguning seperti membentuk mozaik raksasa di bawah sana.

Ada sawah yang baru tumbuh.

Ada yang siap dipanen.

Ada pula yang telah memasuki masa panen.

Bagi Bupati Syaharuddin, ini adalah wajah Sidrap yang ingin ia perlihatkan.

Bagi Pangdivif 3 Kostrad, ini rupanya menjadi pengalaman yang mengesankan.

Sebab seorang panglima yang sehari-hari terbiasa melihat wilayah dari peta operasi, kali ini melihat wilayah dari ketinggian dengan cara yang berbeda.

Tidak ada garis koordinat.

Tidak ada simbol taktis.

Tidak ada tanda sasaran.

Yang terlihat justru petak-petak sawah.

Dan dari sanalah muncul kekaguman.

Sidrap ternyata memiliki “medan” lain yang juga penting untuk Indonesia.

Bukan drop zone.

Bukan medan operasi.

Tetapi hamparan sawah yang menghasilkan beras.

Mungkin itu sebabnya penerbangan dengan helikopter tersebut terasa lebih dari sekadar peninjauan.

Bupati seperti menjadi navigator bagi tamunya.

Panglima melihat.

Bupati menjelaskan.

Helikopter mengelilingi sawah.

Dan di bawah mereka, Sidrap sedang menunjukkan hasil kerjanya.

Kalau dari darat kita melihat sawah sebagai petak-petak lahan, dari udara semuanya berubah.

Menjadi satu hamparan besar.

Menjadi satu kesatuan.

Dan mungkin di situlah Pangdivif 3 Kostrad melihat alasan mengapa Sidrap layak disebut memiliki ketahanan yang kuat.

Karena ketika cuaca ekstrem datang, sawahnya tidak berhenti bercerita.

Padi tetap tumbuh.

Panen tetap berjalan.

Dan dari atas helikopter, Sidrap justru terlihat semakin hijau.

Ditulis oleh: Edy Basri (Pimpinan Redaksi Katasulsel.com)