Luwu Timur, Katasulsel.com — Ada bagian dari Wotu, Kabupaten Luwu Timur, yang menyimpan cerita jauh lebih tua daripada wajah wilayahnya hari ini.
Namanya Benteng Wotu.
Bukan benteng dengan tembok tinggi dan meriam yang mudah dikenali. Jejaknya justru tersimpan sebagai situs sejarah yang masuk dalam kawasan cagar budaya Kabupaten Luwu Timur.
Pemerintah Kabupaten Luwu Timur mencantumkan Benteng Wotu sebagai salah satu kawasan cagar budaya di Kecamatan Wotu. Dalam dokumen tata ruang daerah, kawasan ini disebut bersama sejumlah peninggalan lain seperti Sumur Tua Benteng Wotu dan Kompleks Makam Syekh Al Joefry.
Keberadaan Benteng Wotu juga bukan sekadar nama yang tercantum dalam dokumen pemerintah.
Pada 2023, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Luwu Timur menyebut Benteng Wotu sebagai salah satu objek cagar budaya yang telah ditetapkan di daerah tersebut. Saat itu, pemerintah daerah mencatat delapan objek yang ditetapkan sebagai situs cagar budaya peringkat kabupaten, termasuk Benteng Wotu dan Sumur Tua Benteng Wotu.
Penetapan tersebut membuat Wotu memiliki lapisan sejarah yang menarik untuk ditelusuri.
Sebab, kawasan Benteng Wotu tidak berdiri sebagai satu-satunya peninggalan lama. Di sekitarnya terdapat sejumlah lokasi yang juga berkaitan dengan perjalanan sejarah kawasan Wotu.
Salah satunya adalah Sumur Tua Benteng Wotu yang juga masuk dalam daftar objek cagar budaya pemerintah daerah. Dokumen tata ruang Kabupaten Luwu Timur mencantumkan keduanya sebagai bagian dari kawasan cagar budaya Kecamatan Wotu.
Catatan arkeologi juga memperlihatkan bahwa wilayah Wotu dan sekitarnya memiliki jejak aktivitas manusia dari masa yang jauh lebih tua.
Dalam penelitian mengenai jejak peradaban di kawasan Luwu Timur, ditemukan informasi tentang sebuah lokasi yang oleh masyarakat disebut Benteng di tepi Sungai Tampina. Di lokasi tersebut ditemukan struktur tanah berbentuk segi empat, pecahan keramik dan tembikar, serta rumpun bambu kuning.
Pecahan keramik yang ditemukan di permukaan lokasi diperkirakan berasal dari rentang abad ke-15 hingga ke-16 Masehi. Penelitian tersebut mengaitkan kronologi temuan dengan periode perkembangan pusat kekuasaan Luwu.
Namun, temuan tersebut tidak boleh langsung disamakan dengan Benteng Wotu yang tercatat dalam daftar cagar budaya pemerintah daerah.
Keduanya merupakan informasi mengenai lokasi yang berbeda dan perlu dibaca secara hati-hati. Yang jelas, data arkeologi tersebut memperlihatkan bahwa kawasan Wotu dan wilayah sekitarnya menyimpan lapisan sejarah yang panjang.
Wotu sendiri berada di jalur penting di kawasan timur Luwu. Hari ini Kecamatan Wotu terdiri atas sejumlah desa, termasuk Lampenai, Tarengge, Maramba, Cendana Hijau, Bawalipu, Kalaena, Lera, Kanawatu hingga Arolipu.
Nama Benteng Wotu kemudian menjadi salah satu penanda bahwa sejarah kawasan tersebut tidak hanya dapat dilihat dari permukiman modern yang tumbuh di atasnya.
Ada situs, struktur lama, sumur tua, makam dan berbagai tinggalan lain yang menjadi bagian dari lanskap sejarah Wotu.
Pemerintah Kabupaten Luwu Timur menyebut setidaknya 12 objek cagar budaya telah tercatat di daerah tersebut dalam perkembangan pendataan hingga 2023. Benteng Wotu termasuk di antara objek yang ditetapkan pada periode tersebut.
Penetapan sebagai cagar budaya juga membuat keberadaan Benteng Wotu memiliki kedudukan berbeda dari sekadar tempat yang dikenal melalui cerita masyarakat.
Ia menjadi bagian dari warisan budaya yang perlu dicatat, dilindungi dan dikembangkan dengan tetap memperhatikan nilai sejarahnya.
Menariknya, nama Benteng Wotu juga masih hidup dalam penamaan kawasan. Data lokasi wisata bahkan mencatat sebuah titik bernama Dusun Benteng di Lampenai, Kecamatan Wotu.
Di Wotu, sejarah itu akhirnya tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan besar yang mudah dikenali dari kejauhan.
Sebagiannya justru berada di balik nama tempat, struktur lama dan situs yang masih dicatat pemerintah.
Benteng Wotu menjadi salah satu jejaknya. Sebuah nama yang mengingatkan bahwa kawasan Wotu di Luwu Timur pernah menjadi ruang penting dalam perjalanan panjang sejarah Tana Luwu.
