Luwu Timur, Katasulsel.com – Dari permukaan, Danau Matano terlihat seperti perairan luas yang tenang di antara pegunungan.
Namun, danau di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, itu menyimpan kondisi geografis yang tidak biasa.
Permukaannya berada sekitar 382 meter di atas permukaan laut. Sementara titik terdalamnya mencapai sekitar 590 meter.
Artinya, dasar terdalam Danau Matano berada sekitar 208 meter di bawah permukaan laut.
Kondisi seperti ini disebut cryptodepression, yakni ketika dasar sebuah danau berada lebih rendah daripada permukaan laut, meskipun permukaan danaunya sendiri berada jauh di atas permukaan laut. Penelitian ilmiah tentang Danau Matano mencatat kondisi tersebut sebagai salah satu karakter fisik utama danau tektonik purba ini.
Fakta itu membuat Danau Matano bukan sekadar danau yang dalam.
Danau ini menjadi salah satu bentang alam paling unik di Sulawesi Selatan.
Kedalamannya Mencapai 590 Meter
Danau Matano memiliki panjang sekitar 28 kilometer dan lebar sekitar 8 kilometer. Luas permukaannya sekitar 164 kilometer persegi.
Kedalaman maksimumnya mencapai 590 meter.
Data Geopark Matano dan pemerintah daerah menyebutnya sebagai danau tektonik purba terdalam di Indonesia sekaligus danau terdalam di Asia Tenggara.
Kedalaman tersebut tidak terbentuk secara tiba-tiba.
Matano merupakan bagian dari Kompleks Danau Malili yang terbentuk melalui proses tektonik dalam waktu geologis yang panjang.
Danau ini berada di kawasan Sesar Matano. Penelitian ilmiah menyebut zona tersebut masih aktif secara tektonik.
Proses geologi itulah yang ikut membentuk cekungan sangat dalam tempat air Danau Matano berada sekarang.
Dasarnya Lebih Rendah dari Permukaan Laut
Bagian ini yang membuat Danau Matano berbeda.
Jika permukaan danau berada 382 meter di atas permukaan laut dan kedalaman maksimumnya 590 meter, perhitungannya membawa titik terdalam ke sekitar 208 meter di bawah permukaan laut.
Karena itu, Matano disebut mengalami cryptodepression.
Kondisi tersebut bukan berarti air danau berhubungan langsung dengan laut.
Danau Matano tetap merupakan danau air tawar. Posisi dasar yang berada di bawah muka laut terjadi karena cekungan tektoniknya sangat dalam.
Dengan kata lain, seseorang dapat berdiri di tepi Danau Matano pada ketinggian ratusan meter di atas laut, sementara ratusan meter di bawah permukaan air terdapat dasar danau yang posisinya justru berada di bawah permukaan laut.
Bukan Hanya Cerita Geologi
Keunikan Matano tidak berhenti pada kedalamannya.
Danau ini juga menyimpan cerita tentang aktivitas manusia pada masa lalu.
Penelitian arkeologi bawah air menemukan pecahan tembikar dan benda-benda logam di sejumlah bagian Danau Matano. Temuan tersebut tidak berdiri sendiri. Di kawasan sekitar danau juga ditemukan jejak yang berkaitan dengan aktivitas pengolahan logam.
Para peneliti menemukan tembikar dalam konteks yang bercampur dengan lelehan logam.
Beberapa tembikar berukuran besar. Ada pula temuan yang diduga berkaitan dengan perangkat pendukung proses peleburan logam.
Temuan berupa pipa atau bagian tembikar tertentu juga memperkuat dugaan adanya aktivitas yang berhubungan dengan proses peleburan. Penelitian BRIN menyebut konteks temuan tersebut mengarah pada aktivitas pembuatan logam di kawasan Matano.
Artinya, Danau Matano tidak hanya penting bagi ilmu kebumian.
Ia juga menjadi ruang penting untuk membaca sejarah teknologi masyarakat masa lalu di Sulawesi.
Jejak Peradaban yang Berada di Bawah Air
Penelitian arkeologi menemukan sejumlah situs terendam di Danau Matano.
Salah satunya adalah Pulau Ampat, yang dalam penelitian arkeologi disebut sebagai situs permukiman produksi besi yang kini berada di bawah air.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal arkeologi menyebut situs Pulau Ampat sebagai bekas permukiman produksi besi yang diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-8. Penelitian tersebut juga mengaitkan keberadaan situs dengan aktivitas produksi besi di kawasan Matano.
Temuan ini membuka pertanyaan yang jauh lebih menarik daripada sekadar seberapa dalam Danau Matano.
Bagaimana benda-benda dan situs aktivitas manusia bisa berada di bawah air?
Penelitian arkeologi menunjukkan bahwa perubahan lingkungan dan aktivitas tektonik menjadi salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menjelaskan keberadaan situs-situs tersebut.
Dengan demikian, dasar Danau Matano bukan sekadar ruang kosong yang gelap.
Di dalamnya terdapat jejak aktivitas manusia yang membantu peneliti memahami sejarah teknologi dan kehidupan masyarakat masa lalu.
Danau yang Menjadi Laboratorium Alam
Keunikan Matano juga terlihat dari kehidupan di dalamnya.
Danau ini menjadi habitat berbagai organisme endemik. Data Geopark Matano mencatat keberadaan sejumlah ikan air tawar endemik Sulawesi serta berbagai moluska endemik.
Kondisi lingkungan Matano membuat danau ini penting bagi penelitian ekologi.
Peneliti bahkan menyebut kompleks danau di Malili sebagai laboratorium alam karena tingkat endemisme organisme yang tinggi.
Di satu sisi, proses tektonik membentuk cekungan yang sangat dalam.
Di sisi lain, isolasi ekologis dalam waktu panjang memberi ruang bagi munculnya keanekaragaman hayati yang khas.
Karena itu, Danau Matano memiliki setidaknya tiga lapisan nilai.
Ia penting secara geologi.
Ia penting secara ekologis.
Dan ia penting secara arkeologis.
Lebih dari Sekadar Danau Terdalam
Danau Matano memang memiliki angka yang mudah diingat.
590 meter.
Namun, angka itu hanya pintu masuk.
Di balik kedalamannya terdapat proses tektonik yang membentuk cekungan purba. Di balik permukaannya yang berada 382 meter di atas laut terdapat dasar yang justru mencapai sekitar 208 meter di bawah permukaan laut.
Di bawah airnya pula, peneliti menemukan tembikar dan jejak aktivitas pengolahan logam yang membuka cerita tentang masyarakat masa lalu.
Karena itu, menyebut Matano hanya sebagai danau terdalam di Asia Tenggara terasa belum cukup.
Danau di Luwu Timur ini bukan hanya menyimpan air dalam jumlah besar.
Ia menyimpan jejak perubahan bumi, kehidupan endemik, dan sejarah manusia dalam satu cekungan yang sama.
Dan sebagian ceritanya masih berada di bawah permukaan air.(*)
