Penulis:
Dzulkarnain

Lutim, Katasulsel.com — Tidak semua program Kuliah Kerja Nyata berakhir dengan seremoni dan foto bersama. Di Desa Pasi-Pasi, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, mahasiswa KKN Tematik Inovasi Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin memilih meninggalkan sesuatu yang lebih bernilai: seperangkat gagasan, data, inovasi, dan peta masa depan yang bisa digunakan warga untuk bertumbuh.

Melalui Seminar Hasil KKN-T yang digelar sebagai penutup rangkaian pengabdian, para mahasiswa mempresentasikan beragam program yang telah mereka kerjakan selama berada di desa pesisir tersebut.

Menariknya, program-program yang lahir tidak berdiri sendiri. Semuanya seperti potongan puzzle yang saling terhubung untuk menjawab kebutuhan dasar desa, mulai dari ekonomi, lingkungan, kesehatan, pariwisata, hingga tata kelola wilayah.

Jika biasanya desa pesisir hanya dikenal karena hasil lautnya, mahasiswa KKN melihat potensi yang jauh lebih besar.

Salah satu program yang mencuri perhatian adalah inovasi pengolahan hasil perikanan menjadi dimsum ikan. Program ini berangkat dari kenyataan bahwa selama ini hasil tangkapan nelayan lebih banyak dijual dalam bentuk mentah.

Melalui inovasi tersebut, ikan tidak lagi sekadar menjadi komoditas, melainkan produk bernilai tambah yang berpotensi membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Dalam istilah ekonomi kreatif, inilah yang disebut value added product—mengubah bahan baku biasa menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.

Namun mahasiswa tidak berhenti pada urusan dapur.

Mereka juga menyentuh persoalan yang selama ini menjadi tantangan banyak desa pesisir: air bersih.

Melalui program filtrasi gravitasi berbasis barang bekas dan agregat alam, mahasiswa mencoba menghadirkan solusi sederhana namun aplikatif. Teknologi yang digunakan relatif murah, mudah dirawat, dan dapat diterapkan oleh masyarakat secara mandiri.

Di sektor lingkungan, pendekatan yang digunakan bahkan lebih menarik.

Alih-alih hanya menggelar sosialisasi, mahasiswa membangun sistem informasi pengelolaan sampah berbasis data melalui program SIGAP (Sistem Informasi Gerakan Pilah Sampah). Mereka juga memperkenalkan pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi pupuk organik cair.

Langkah ini menjadi contoh bagaimana persoalan sampah tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan, tetapi bisa diubah menjadi sumber manfaat ekonomi.

Kawasan mangrove yang selama ini menjadi benteng alami Desa Pasi-Pasi juga mendapat perhatian serius.

Mahasiswa menyusun peta mitigasi bencana pesisir berbasis informasi geospasial sekaligus melakukan edukasi perlindungan ekosistem mangrove kepada masyarakat.

Bagi desa pesisir, mangrove bukan sekadar pepohonan di bibir pantai. Ia adalah pagar alami yang melindungi wilayah dari abrasi, gelombang pasang, hingga ancaman perubahan iklim.

Karena itu, menjaga mangrove berarti menjaga masa depan desa.

Yang paling futuristik adalah lahirnya peta interaktif kawasan wisata mangrove berbasis site plan.

Program ini memungkinkan potensi wisata desa dipetakan secara lebih profesional. Wisatawan, investor, hingga pemerintah desa nantinya dapat melihat arah pengembangan kawasan secara lebih terstruktur.

Dalam bahasa perencanaan wilayah, peta seperti ini merupakan “kompas pembangunan”, karena setiap keputusan dapat dibuat berdasarkan data, bukan sekadar asumsi.

Selain itu, mahasiswa juga menyusun pemetaan fungsi lahan dan kondisi sosial masyarakat berbasis informasi spasial. Data tersebut menjadi fondasi penting bagi pemerintah desa dalam menyusun kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.

Seminar hasil yang digelar bukan hanya menjadi laporan akhir mahasiswa kepada pemerintah desa dan dosen pembimbing.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi momentum refleksi bahwa pembangunan desa hari ini tidak lagi cukup dilakukan dengan pendekatan konvensional.

Desa membutuhkan data. Desa membutuhkan inovasi. Desa membutuhkan gagasan baru yang dapat menjawab tantangan zaman.

Selama beberapa pekan berada di Pasi-Pasi, mahasiswa KKN Unhas mencoba menghadirkan semuanya dalam skala sederhana namun nyata.

Mereka datang bukan membawa proyek besar bernilai miliaran rupiah. Mereka datang membawa ilmu, teknologi, dan semangat kolaborasi.

Ketika masa KKN berakhir, yang tersisa bukan hanya kenangan. Yang tertinggal adalah dimsum ikan yang bisa menjadi usaha baru, sistem air bersih yang bisa terus digunakan, peta wisata yang dapat menarik pengunjung, data spasial yang membantu perencanaan desa, serta kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan pesisirnya.

Di Desa Pasi-Pasi, mahasiswa tidak sekadar menyelesaikan program kerja.

Mereka sedang membantu menggambar masa depan. (*)