Jakarta , Katasulsel.com β Kepercayaan baru Presiden Prabowo Subianto kepada Bahlil Lahadalia mendapat perhatian dari Strategic Political Analyst, Abd Hafid Baso, S.Pi., M.I.Kom.
Bahlil resmi dilantik sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi pada Kamis, 1 Oktober 2026. Dalam penugasan tersebut, Bahlil tetap mengemban amanah sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Kepada katasulsel.com di Jakarta, Abd Hafid Baso, mengatakan, mandat tersebut tidak semestinya dilihat hanya sebagai penambahan jabatan.
Ia melihat keputusan tersebut membawa pesan penting mengenai arah kebijakan pemerintahan, terutama karena hilirisasi dan transisi energi merupakan dua agenda strategis yang kini dikoordinasikan dalam satu payung.
βSelamat dan sukses kepada Kanda Bahlil Lahadalia atas kepercayaan baru sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, dengan tetap mengemban amanah sebagai Menteri ESDM,β kata Abd Hafid Baso, Senin, 5 Oktober 2026.
Menurutnya, ketika Presiden memberikan mandat untuk mengoordinasikan dua agenda besar tersebut, terdapat kapasitas, pengalaman, dan karakter kepemimpinan yang diharapkan mampu mengawal agenda strategis negara.
Abd Hafid menilai ada sejumlah karakter kepemimpinan yang selama ini melekat pada Bahlil dan relevan dengan tugas barunya.
Di antaranya kemampuan membaca persoalan, keberanian mengambil keputusan, serta energi politik untuk menerjemahkan kebijakan menjadi kerja nyata.
βKepercayaan sebesar ini tentu bukan sekadar penambahan tugas, tetapi sebuah pesan politik dan pemerintahan yang kuat,β ujarnya.
Hilirisasi bukan sekadar urusan industri
Abd Hafid mengatakan tantangan yang dihadapi Bahlil tidak sederhana.
Hilirisasi, menurut dia, bukan hanya berbicara mengenai pembangunan industri pengolahan. Di dalamnya terdapat persoalan nilai tambah sumber daya alam, investasi, lapangan kerja, penerimaan negara, hingga kedaulatan ekonomi.
Sementara transisi energi juga tidak berhenti pada pergantian sumber energi.
Agenda tersebut berkaitan dengan masa depan ketahanan energi Indonesia, kebutuhan industri, investasi, teknologi, dan kemampuan negara menjaga ketersediaan energi di tengah perubahan ekonomi global.
Pemerintah sendiri menyebut penyatuan koordinasi hilirisasi dan transisi energi diarahkan untuk mempercepat eksekusi program dan memperkuat nilai tambah sumber daya alam serta ketahanan energi nasional.
Bahlil juga menyatakan bahwa hilirisasi dan transisi energi perlu dilakukan secara komprehensif dan terukur. Ia menyebut sektor ESDM memiliki keterkaitan besar dengan agenda hilirisasi.
Abd Hafid: Kepercayaan harus dijawab dengan prestasi
Bagi Abd Hafid, jabatan baru tersebut pada akhirnya akan dinilai bukan dari besarnya kewenangan, tetapi dari hasil yang mampu diwujudkan.
Ia berharap mandat tersebut menjadi momentum bagi Bahlil untuk membuktikan bahwa kepercayaan politik harus dibayar dengan kerja.
βSemoga amanah baru ini menjadi momentum bagi Kanda Bahlil untuk membuktikan bahwa kepercayaan politik harus dibayar dengan kerja, dan mandat negara harus dijawab dengan prestasi,β katanya.
Ia menilai keberhasilan agenda tersebut nantinya akan terlihat dari seberapa jauh hilirisasi mampu memberikan nilai tambah di dalam negeri dan seberapa efektif transisi energi diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Karena itu, Abd Hafid memberikan ucapan selamat sekaligus menyampaikan pesan agar amanah tersebut dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
βSelamat bekerja, Kanda Bahlil. Kepercayaan telah diberikan, sejarah akan mencatat bagaimana amanah itu dijalankan,β ujarnya.
Bagi Abd Hafid, mandat baru Bahlil kini bukan lagi sekadar soal posisi.
Ada pekerjaan besar yang menunggu di belakangnya.
Hilirisasi harus menghasilkan nilai tambah. Transisi energi harus memiliki arah yang jelas. Dan keduanya harus bermuara pada kepentingan ekonomi serta ketahanan energi Indonesia.
βYakin usaha sampai,β tutup Abd Hafid Baso. (*)
