Maros, Katasulsel.com — Jauh sebelum manusia mengenal tulisan, kamera, atau buku cerita, sebuah kisah sudah lebih dulu ditinggalkan di dinding gua.

Di kawasan karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, para peneliti menemukan gambar cadas di Leang Karampuang yang setidaknya berusia 51.200 tahun. Lukisan itu bukan sekadar gambar seekor hewan. Di dalamnya terdapat sosok-sosok menyerupai manusia yang tampak berinteraksi dengan seekor babi.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Nature pada 3 Juli 2024. Penanggalan dilakukan menggunakan metode laser-ablation uranium-series imaging, teknik yang memungkinkan peneliti membaca usia lapisan kalsit yang berada di atas gambar dengan ketelitian spasial lebih tinggi.

Hasilnya, satu bagian gambar di Leang Karampuang memiliki usia minimum 51.200 tahun.

Angka itu bukan sekadar penanda umur sebuah lukisan. Ia membuka pertanyaan yang jauh lebih besar: sejak kapan manusia mulai menggunakan gambar untuk menyampaikan sebuah adegan?

Bukan Sekadar Gambar Hewan

Lukisan di Leang Karampuang menarik perhatian karena komposisinya.

Peneliti menemukan figur menyerupai manusia yang digambarkan berhadapan atau berinteraksi dengan seekor babi. Karena terdapat hubungan antarelemen dalam satu bidang gambar, para peneliti menilainya sebagai sebuah komposisi naratif.

Dengan kata lain, manusia pada masa itu tidak hanya menggambar apa yang mereka lihat. Mereka tampaknya sudah menyusun beberapa unsur menjadi sebuah adegan.

Inilah yang membuat Leang Karampuang penting dalam sejarah seni dan perkembangan kebudayaan manusia.

Dalam penelitian yang diterbitkan Nature, gambar tersebut disebut sebagai contoh tertua yang diketahui pada saat penelitian itu dilakukan dari seni representasional dan penceritaan visual yang masih bertahan.

Gua itu dengan demikian tidak hanya menyimpan warna merah pada permukaan batu. Ia menyimpan jejak cara manusia purba memandang dunia dan mengubah pengalaman menjadi gambar.

Usianya Dihitung dari Lapisan di Atas Lukisan

Menentukan umur gambar cadas bukan perkara sederhana.

Pigmen yang digunakan manusia purba tidak selalu dapat langsung ditentukan usianya. Karena itu, penelitian di Leang Karampuang menggunakan lapisan mineral yang terbentuk di atas gambar.

Metode laser-ablation uranium-series imaging digunakan untuk menganalisis endapan kalsit yang menutupi bagian gambar. Dari hubungan antara lapisan mineral dan pigmen, peneliti dapat memperoleh batas minimum usia gambar.

Dalam penelitian tersebut, sebuah adegan baru di Leang Karampuang memperoleh usia minimum 51.200 tahun. Penelitian yang sama juga memperbarui penanggalan gambar berburu di Leang Bulu’ Sipong 4. Gambar tersebut sebelumnya diperkirakan berusia minimal 43.900 tahun, tetapi metode baru menghasilkan usia minimum sekitar 50.200 tahun.

Artinya, teknologi penanggalan baru tidak hanya memperkuat usia gambar di Maros-Pangkep, tetapi juga menunjukkan bahwa tradisi menggambar figur dan adegan di Sulawesi telah berlangsung jauh lebih lama daripada yang sebelumnya diperkirakan.

Maros Menyimpan Arsip Kehidupan Manusia Purba

Kawasan karst Maros-Pangkep telah lama dikenal sebagai salah satu wilayah penting dalam penelitian gambar cadas dunia.

Berbagai gua di kawasan ini menyimpan gambar tangan, hewan, hingga figur yang memiliki bentuk lebih kompleks. Penelitian sebelumnya bahkan telah menunjukkan keberadaan gambar cadas di Maros yang berusia sekitar 40.000 tahun.

Temuan di Leang Karampuang memperpanjang catatan tersebut.

Yang menjadi penting bukan hanya karena gambar itu tua, tetapi karena bentuknya menunjukkan adanya upaya menghubungkan beberapa figur dalam satu adegan.

Jejak semacam ini memberi gambaran bahwa kemampuan manusia untuk menggunakan simbol dan menyampaikan pengalaman melalui gambar telah berkembang sangat awal.

Dinding gua akhirnya berfungsi seperti arsip.

Bedanya, arsip itu tidak ditulis dengan huruf.

Ia dibuat dengan pigmen dan batu.

Temuan Baru Membuat Ceritanya Semakin Panjang

Pada 2026, penelitian lain yang juga diterbitkan Nature kembali mengubah pemahaman mengenai usia seni cadas di Sulawesi.

Peneliti menemukan stensil tangan di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang memiliki usia minimum 67.800 tahun. Temuan tersebut kini menjadi bukti dengan batas usia minimum tertua yang diketahui untuk seni cadas yang dapat dikaitkan dengan manusia modern.

Temuan di Muna tidak menghapus arti penting Leang Karampuang.

Justru sebaliknya.

Keduanya menunjukkan bahwa Sulawesi memiliki tradisi gambar cadas yang sangat tua dan tersebar di lebih dari satu kawasan.

Jika Leang Karampuang penting karena memperlihatkan salah satu bukti paling awal tentang manusia menyusun sebuah adegan visual, Liang Metanduno memperlihatkan bahwa praktik membuat gambar di dinding gua sudah berlangsung lebih jauh ke belakang.

Sulawesi ternyata bukan sekadar tempat ditemukannya lukisan gua tua.

Pulau ini menyimpan salah satu jejak penting perjalanan kebudayaan manusia.

Gua yang Tidak Sekadar Menjadi Tempat Wisata

Kawasan karst Maros selama ini lebih mudah dikenali sebagai bentang alam dengan tebing batu kapur, gua, dan panorama alam.

Namun, di balik dinding-dinding batu itu tersimpan informasi yang nilainya jauh melampaui kepentingan wisata.

Setiap gambar menyimpan pertanyaan tentang siapa yang membuatnya, apa yang mereka lihat, apa yang mereka pikirkan, dan mengapa mereka merasa perlu meninggalkan gambar tersebut.

Sebagian gambar bahkan menghadapi persoalan pelestarian. Pelapukan permukaan batu dan pertumbuhan endapan mineral dapat mengaburkan atau merusak gambar yang telah bertahan selama puluhan ribu tahun.

Karena itu, gua-gua prasejarah Maros tidak semestinya dipandang hanya sebagai latar untuk berfoto.

Ia adalah ruang penyimpan memori manusia.

Dan 51.200 tahun lalu, ketika belum ada tulisan untuk merekam cerita, seseorang memilih dinding gua sebagai tempat untuk meninggalkannya.(*)