Penulis: Tantri Aprilia Vianty

Maros, katasulsel.com — Perubahan iklim tidak hanya dibahas di ruang seminar. Di Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, upaya menghadapi tantangan lingkungan itu dimulai dari sebuah peta.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) menyusun Peta Tutupan Lahan Desa Ampekale sebagai data dasar untuk mendukung pengelolaan wilayah dan mitigasi perubahan iklim.

Program yang berlangsung sejak 11 Juli hingga 9 Agustus 2026 itu digagas oleh Tantri Aprilia Vianty, mahasiswa KKN-T Perubahan Iklim Unhas. Melalui pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan perangkat lunak ArcGIS, ia memetakan kondisi aktual wilayah desa secara rinci.

Berbagai sumber data digunakan dalam penyusunan peta tersebut, mulai dari data Badan Informasi Geospasial (BIG), Lapak GIS, citra Google Satellite, data Pemerintah Desa Ampekale, hingga hasil survei lapangan mahasiswa KKN.

Hasilnya, peta mampu menggambarkan beragam jenis tutupan lahan di Desa Ampekale, seperti kawasan permukiman, tambak, sawah, sungai, bekas tambak, area pemakaman, hingga kawasan hutan bakau atau mangrove yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

Tak hanya itu, berbagai fasilitas dan infrastruktur desa juga turut dipetakan, di antaranya kantor desa, masjid, koperasi, dermaga, sarana kesehatan, PAUD, sekolah, jaringan jalan, batas administrasi, hingga saluran irigasi.

Menurut Tantri, peta tersebut disusun sebagai baseline atau gambaran awal kondisi wilayah yang dapat digunakan untuk memantau perubahan tutupan lahan pada masa mendatang.

“Dengan adanya data awal ini, perubahan penggunaan lahan dapat dibandingkan dari waktu ke waktu sehingga memudahkan pemantauan kondisi lingkungan,” ujarnya.

Keberadaan data spasial tersebut dinilai penting karena perubahan tutupan lahan dapat memengaruhi kondisi ekosistem, tata kelola air, keberadaan vegetasi, hingga kemampuan lingkungan dalam menyerap karbon yang menjadi salah satu faktor penting dalam pengendalian perubahan iklim.

Sebagai bagian dari Program KKN Tematik Perubahan Iklim, pemetaan ini diharapkan menjadi referensi bagi pemerintah desa dalam memahami karakteristik wilayah serta mempertimbangkan arah pembangunan yang tetap memperhatikan aspek lingkungan.

Program tersebut ditutup dengan penyerahan resmi Peta Tutupan Lahan Desa Ampekale kepada pemerintah desa pada 10 Agustus 2026 di Kantor Desa Ampekale.

Penyerahan itu menjadi simbol keberlanjutan program, sekaligus memastikan hasil kerja mahasiswa tidak berhenti sebagai luaran akademik semata, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai sumber data dan informasi dalam mendukung perencanaan pembangunan desa yang lebih berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim. (*)