Makassar, Katasulsel.com – Bagi warga Makassar, Tallo bukan nama yang asing.

Nama itu ada di papan jalan, alamat rumah, nama kecamatan, hingga percakapan sehari-hari.

Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa di balik nama Tallo terdapat sejarah tentang sebuah kerajaan, bandar perdagangan, jaringan pelayaran, penyebaran Islam, hingga hubungan Makassar dengan berbagai wilayah di Nusantara.

Bahkan, riset multidisipliner Universitas Hasanuddin pada 2025 kembali menelusuri jejak Tallo kuno sebagai kerajaan sekaligus negeri maritim awal di Sulawesi Selatan.

Pertanyaannya sederhana: mengapa Tallo begitu penting dalam sejarah Makassar?

Jawabannya membawa kita jauh sebelum Tallo menjadi salah satu kecamatan di Kota Makassar.

Sebelum Menjadi Kecamatan, Tallo Adalah Kerajaan

Tallo bukan pertama-tama dikenal sebagai wilayah administratif seperti sekarang.

Dalam sejarah Sulawesi Selatan, Tallo merupakan salah satu kerajaan penting yang berkembang di kawasan Makassar.

Kompleks Makam Raja-Raja Tallo yang tercatat sebagai salah satu tinggalan sejarah menunjukkan pentingnya kawasan ini dalam perjalanan politik Kerajaan Tallo dan hubungan kekuasaannya dengan Gowa.

Dari perkembangan itulah Tallo kemudian tumbuh sebagai kekuatan tersendiri.

Posisinya menjadi semakin penting karena wilayahnya berada di sekitar Sungai Tallo dan memiliki akses menuju kawasan pesisir.

Pada masa ketika sungai dan laut merupakan jalur utama mobilitas manusia, lokasi di sekitar muara sungai memiliki nilai strategis.

Barang datang.

Pedagang berlayar.

Orang berpindah.

Dan kekuasaan berkembang.

Tallo Pernah Menjadi Bandar Perdagangan

Inilah bagian yang sering luput ketika orang membicarakan Tallo.

Tallo bukan hanya cerita tentang kerajaan.

Ia juga merupakan cerita tentang perdagangan dan kemaritiman.

Pemerintah Kota Makassar mencatat bahwa bandar Makassar pada masa awal berkembang di kawasan muara Sungai Tallo. Sumber-sumber Portugis bahkan telah memberitakan keberadaan bandar Tallo pada penghujung abad ke-15.

Riset Universitas Hasanuddin pada 2025 juga menempatkan Tallo sebagai salah satu kawasan penting dalam jaringan pelayaran dan perdagangan Nusantara.

Posisi geografis tersebut membuat Tallo menjadi ruang pertemuan berbagai manusia dan kebudayaan.

Pedagang datang membawa barang.

Pelaut membawa informasi.

Orang-orang dari berbagai wilayah bertemu di pelabuhan.

Dari interaksi semacam itulah sebuah kawasan dapat berkembang menjadi pusat kekuasaan dan kebudayaan.

Tallo dan Gowa: Dua Kerajaan, Satu Kekuatan

Ketika membicarakan Tallo, nama Gowa hampir tidak mungkin dipisahkan.

Keduanya kemudian membentuk persekutuan politik yang sangat kuat.

Dalam sejarah Gowa-Tallo dikenal prinsip β€œRua Karaeng Na Se’re Ata”, yang secara umum dipahami sebagai dua raja tetapi satu rakyat.

Persekutuan tersebut menjadikan Gowa dan Tallo sebagai dua kekuatan yang saling berkaitan dalam menjalankan pemerintahan dan politik.

Pemerintah Kota Makassar mencatat bahwa pada pertengahan abad ke-16, Tallo bersatu dengan Gowa dan kemudian berkembang sebagai kekuatan besar di kawasan tersebut.

Jadi, ketika orang menyebut Kerajaan Gowa-Tallo, itu bukan sekadar penyebutan dua nama secara berdampingan.

Ada hubungan politik yang membuat keduanya menjadi salah satu kekuatan utama dalam sejarah Makassar.

Tallo dan Awal Islamisasi Makassar

Ada satu peristiwa besar lain yang membuat Tallo semakin penting.

Pada 1605, Islam mulai diterima sebagai agama kerajaan di lingkungan Gowa-Tallo.

Tokoh yang berperan dalam proses tersebut adalah Dato’ Ri Bandang, salah satu ulama yang datang ke Sulawesi Selatan dari Minangkabau.

Ia kemudian berperan dalam proses Islamisasi Raja Gowa I Mangngarangi Daeng Manrabia yang bergelar Sultan Alauddin, serta Raja Tallo I Mallingkaang Daeng Manyonri Karaeng Katangka.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik penting dalam sejarah Sulawesi Selatan.

Islam tidak hanya berkembang sebagai agama masyarakat, tetapi juga memperoleh kedudukan penting dalam lingkungan kerajaan.

Jejak proses tersebut masih dapat ditelusuri hingga sekarang, salah satunya melalui tinggalan keagamaan di kawasan Tallo.

Jejak Kerajaan Itu Masih Ada

Kerajaan memang telah lama berlalu.

Namun, jejaknya tidak hilang begitu saja.

Riset Universitas Hasanuddin pada 2025 mengidentifikasi sejumlah tinggalan penting di kawasan Tallo, antara lain Pelabuhan Kalukubodoa, permukiman dan pasar tua Tallo, Masjid Awaluddin, benteng dan bastion Tallo, Batu Pallantikang, kompleks makam raja-raja Tallo, serta toponim Campagayya yang dikaitkan dengan lokasi istana.

Artinya, sejarah Tallo tidak hanya tersimpan dalam buku.

Sebagian masih berada di ruang kota.

Ada yang berupa bangunan.

Ada yang berupa makam.

Ada yang berupa nama kampung.

Ada pula yang hanya dapat dilacak melalui manuskrip dan cerita masyarakat.

Itulah yang membuat penelitian tentang Tallo menjadi penting.

Para peneliti tidak hanya bertanya, β€œApa yang pernah terjadi di Tallo?”

Mereka juga mencoba mengetahui β€œDi mana peristiwa itu terjadi?”

Nama-Nama Kampung Masih Menyimpan Ingatan

Salah satu hal menarik dari kawasan Tallo adalah keberadaan nama-nama lokal yang masih digunakan masyarakat.

Sistem Informasi Cagar Budaya Kota Makassar mencatat sejumlah nama kampung dan tempat di Kelurahan Tallo, seperti Pallantikang, Limbangan Toayya, Agang Pancayya, Mangarabombang, dan Balang Kiti.

Nama-nama tersebut tidak muncul begitu saja.

Sebagiannya berkaitan dengan kondisi ruang, aktivitas masyarakat, maupun sejarah kawasan.

Pallantikang, misalnya, berkaitan dengan tradisi pelantikan atau penobatan raja.

Artinya, bahkan ketika bentuk kerajaan sudah tidak lagi menjadi sistem pemerintahan, nama ruang masih dapat menyimpan ingatan mengenai fungsi masa lalu sebuah tempat.

Bagi masyarakat kota, nama jalan, kampung, dan wilayah yang mereka lewati setiap hari sebenarnya dapat menjadi pintu masuk untuk membaca sejarah kotanya sendiri.

Tallo Bukan Hanya Bersejarah, tetapi Juga Maritim

Selama ini, sejarah Makassar sering lebih populer ketika berbicara mengenai Sultan Hasanuddin, Benteng Somba Opu, atau Fort Rotterdam.

Nama-nama tersebut memang penting.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa cerita Tallo juga perlu mendapat tempat lebih besar dalam pembahasan mengenai sejarah maritim Makassar.

Tallo tumbuh di kawasan sungai dan pesisir.

Pada masa lalu, sungai bukan sekadar saluran air.

Ia merupakan jalur transportasi, jalur perdagangan, sekaligus pintu menuju laut.

Karena itu, sejarah Tallo tidak dapat dilepaskan dari sejarah pelayaran dan perdagangan di kawasan timur Nusantara.

Ketika Sungai Ikut Mengubah Sejarah

Ada satu perubahan geografis yang ikut memengaruhi perkembangan kawasan Makassar.

Pemerintah Kota Makassar mencatat bahwa aktivitas pertanian yang semakin intensif di hulu Sungai Tallo menyebabkan pendangkalan. Akibatnya, aktivitas bandar kemudian bergeser ke muara Sungai Jeneberang.

Peristiwa ini memperlihatkan betapa erat hubungan antara lingkungan dan perkembangan kota pada masa lalu.

Sebuah bandar membutuhkan akses air yang memadai.

Ketika kondisi sungai berubah, aktivitas perdagangan dan kekuasaan juga dapat berubah.

Dengan kata lain, sejarah kota tidak hanya dibentuk oleh raja dan peperangan.

Sungai juga ikut menentukan arah sejarah.

Tallo Setelah Masa Kerajaan

Kekuasaan kerajaan akhirnya mengalami perubahan besar seiring perang dan masuknya kekuatan kolonial.

Perang Makassar 1666–1669 menjadi salah satu titik penting dalam perubahan politik kawasan Gowa-Tallo.

Setelah kekalahan Gowa, VOC memperluas kekuasaannya di Makassar.

Kekuasaan politik kerajaan kemudian mengalami perubahan besar.

Namun, berakhirnya kekuasaan kerajaan tidak berarti berakhirnya Tallo.

Nama tersebut tetap hidup.

Jejak fisiknya tetap ada.

Dan ingatan masyarakat mengenai kawasan tersebut terus diwariskan.

Dari Kerajaan Menjadi Kecamatan

Hari ini, ketika seseorang mengatakan β€œTallo”, yang mungkin langsung terbayang adalah sebuah kecamatan di Kota Makassar.

Namun, nama itu memiliki umur sejarah yang jauh lebih panjang daripada struktur administratif modern.

Di dalam satu kata β€œTallo” terdapat lapisan yang berbeda:

kerajaan, sungai, bandar, perdagangan, pelayaran, Islamisasi, kekuasaan, perang, hingga kehidupan kota modern.

Itulah sebabnya nama tempat tidak pernah benar-benar sederhana.

Satu nama dapat melewati berbagai zaman.

Kerajaannya bisa hilang.

Pelabuhannya bisa berubah.

Bangunannya bisa mengalami kerusakan.

Sistem pemerintahannya bisa berganti.

Tetapi nama tetap hidup dalam percakapan sehari-hari.

Jadi, Tallo Itu Apa?

Tallo bukan sekadar nama kecamatan di Makassar.

Ia adalah nama yang berkaitan dengan salah satu kerajaan penting dalam sejarah Sulawesi Selatan dan bagian dari persekutuan Gowa-Tallo yang kemudian menjadi kekuatan besar di kawasan Makassar.

Letaknya di sekitar Sungai Tallo juga membuatnya berkembang sebagai kawasan perdagangan dan maritim sejak berabad-abad lalu.

Karena itu, ketika melewati kawasan Tallo hari ini, kita sebenarnya sedang berada di ruang yang memiliki lapisan sejarah sangat panjang.

Ada jejak kerajaan di dalamnya.

Ada jejak pelabuhan.

Ada jejak Islamisasi.

Ada jejak perdagangan Nusantara.

Ada makam para penguasa.

Dan ada nama-nama kampung yang masih bertahan.

Tallo mungkin kini terlihat sebagai bagian dari kota yang terus tumbuh. Namun, jauh sebelum jalan-jalan modern membelah kawasan itu, Tallo telah menjadi tempat orang berlayar, berdagang, membangun kekuasaan, menyebarkan agama, dan bertemu dengan dunia yang lebih luas.

Maka, lain kali mendengar nama Tallo, jangan hanya menganggapnya sebagai nama kecamatan.

Sebab di balik satu nama itu, ada sebuah kerajaan yang pernah ikut membentuk wajah Makassar.

Dan mungkin, justru di situlah pelajaran paling menarik dari sejarah kota: masa lalu tidak selalu berada jauh di museum. Kadang-kadang, ia masih hidup dalam nama tempat yang kita lewati setiap hari.(*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Makassar hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Makassar terbaru di sini