Makassar, Katasulsel.com β Sekarang, ketika seseorang bertanya, “Ke mana arah utara?”, tangan mungkin langsung mencari ponsel.
Buka peta. Cari lokasi. Ikuti garis biru.
Selesai.
Tetapi jauh sebelum Google Maps, kompas digital, dan penunjuk lokasi di telepon genggam, orang-orang di Sulawesi Selatan sudah memiliki cara sendiri untuk membaca arah. Mereka mengenali penjuru melalui bahasa, bentang alam, angin, laut, hingga benda-benda langit.
Jadi, ketika seorang tetua mengatakan sebuah tempat berada di arah tertentu, ia tidak selalu membutuhkan peta untuk menjelaskannya.
Ia tahu ke mana harus menunjuk.
Arah Tidak Selalu Disebut Utara dan Selatan
Dalam bahasa Bugis, arah mata angin memiliki istilah sendiri. Penelitian Khadijah dan Sutamrin dalam Kognitif: Jurnal Riset HOTS Pendidikan Matematika mencatat istilah diawang untuk utara, dilau‘ untuk timur, diattang untuk selatan, dan diaja‘ untuk barat. Penelitian tersebut mengambil informan dari wilayah Bone, Soppeng, Wajo, dan Sinjai.
Bahasa Makassar juga memiliki istilah berbeda. Penelitian yang sama mencatat warakkang atau wara‘ untuk utara, anraik atau raya untuk timur, timborang atau timborok untuk selatan, dan kalauk atau lauβ untuk barat.
Artinya, arah bukan sekadar konsep geografis.
Ia juga hidup di dalam bahasa sehari-hari.
Seseorang dapat menunjukkan posisi suatu tempat dengan istilah yang bagi orang luar terdengar asing, tetapi bagi penuturnya justru terasa biasa.
“Diattang.”
“Diaja’.”
“Dilauβ.”
“Diawang.”
Empat kata itu sudah cukup untuk membuka percakapan tentang arah.
Bagaimana Orang Dulu Tahu Mana Timur dan Barat?
Pertanyaan berikutnya lebih menarik.
Kalau tidak membawa kompas, dari mana mereka tahu?
Jawabannya tidak selalu satu.
Masyarakat memiliki pengetahuan yang dibangun dari lingkungan tempat mereka hidup. Matahari dapat menjadi petunjuk. Bentang alam dapat menjadi acuan. Angin dan kondisi laut dapat dibaca oleh masyarakat pesisir. Bagi pelaut, langit juga menyediakan petunjuk yang jauh lebih luas.
Penelitian mengenai tradisi astronomi masyarakat etnis Sulawesi menunjukkan bahwa masyarakat Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja memiliki pengetahuan tradisional mengenai rasi bintang yang dapat digunakan dalam navigasi.
Jadi, langit bukan sekadar sesuatu yang dilihat ketika malam tiba.
Bagi orang yang memahami tanda-tandanya, langit dapat menjadi petunjuk perjalanan.
Pelaut Bugis Membaca Laut, Angin, dan Bintang
Pengetahuan itu menjadi lebih kompleks ketika masuk ke dunia pelayaran.
Gene Ammarell dalam kajian etnografinya tentang navigasi Bugis mendokumentasikan bagaimana pelaut Bugis menggunakan berbagai tanda untuk menentukan arah dan perjalanan. Pengetahuan tersebut mencakup pola bintang, arah angin, makhluk laut, lanskap pesisir, hingga gerak permukaan laut.
Kajian historis mengenai navigasi Bugis juga mencatat bahwa sebelum alat navigasi modern digunakan secara luas, pelaut Bugis mengandalkan kemampuan dan pengalaman untuk membaca fenomena alam, termasuk angin, bulan, dan bintang.
Ini bukan berarti para pelaut berjalan tanpa sistem.
Justru sebaliknya.
Mereka memiliki sistem pengetahuan sendiri.
Arah angin dipahami.
Perubahan musim diperhatikan.
Bintang diamati.
Garis pantai dikenali.
Permukaan laut dibaca.
Semua informasi itu kemudian dipakai untuk menentukan perjalanan.
Peta Tidak Selalu Berbentuk Kertas
Di sinilah cara masyarakat lama membaca arah menjadi menarik.
Kita terbiasa menganggap peta sebagai gambar dua dimensi dengan garis, simbol, dan nama jalan.
Namun, bagi masyarakat yang hidup dekat laut atau bergantung pada lingkungan, peta bisa hadir dalam bentuk yang berbeda.
Garis pantai dapat menjadi patokan.
Gunung dapat menjadi penanda.
Sungai dapat menjadi jalur.
Arah angin dapat menjadi petunjuk.
Bintang dapat membantu menentukan orientasi.
Pengetahuan tersebut tersimpan dalam ingatan dan pengalaman orang yang menggunakannya.
Kajian tentang navigasi Bugis bahkan mencatat adanya sistem orientasi ruang yang menggunakan istilah arah tertentu, sementara pelayaran di laut membutuhkan pembacaan arah angin, posisi bintang, kompas, serta ciri-ciri daratan dan bentang laut.
Jadi, seseorang bisa saja tidak membawa peta.
Tetapi bukan berarti ia tidak memiliki pedoman.
Ketika Bahasa Menjadi Penunjuk Jalan
Menariknya, pengetahuan tentang arah tidak hanya berada di laut.
Ia juga masuk ke percakapan sehari-hari.
Penelitian mengenai arah mata angin dalam bahasa Bugis-Makassar menemukan bahwa istilah arah digunakan untuk menunjukkan posisi seseorang maupun suatu tempat.
Ini membuat arah menjadi bagian dari cara masyarakat menjelaskan ruang.
Bukan hanya:
“Rumahnya di sebelah sana.”
Melainkan arah tertentu yang dipahami bersama.
Bagi orang yang tumbuh dalam lingkungan tersebut, satu istilah dapat langsung menghasilkan gambaran ruang.
Bagi orang luar, mungkin tidak.
Di sinilah bahasa bekerja seperti peta kecil yang dibawa di kepala.
Tetapi Pengetahuan Itu Tidak Sama di Semua Tempat
Ada satu hal yang penting dicatat.
Tidak semua masyarakat Sulawesi Selatan menggunakan istilah atau cara membaca arah yang sama.
Bugis dan Makassar memiliki istilah berbeda. Bahkan dalam satu kelompok masyarakat, penggunaan istilah dapat dipengaruhi wilayah dan kebiasaan setempat. Penelitian yang mengkaji istilah arah dalam bahasa Bugis-Makassar juga menunjukkan adanya variasi penyebutan.
Karena itu, tidak tepat jika semua cara tersebut disebut sebagai satu βsistem arah masyarakat Sulselβ.
Sulawesi Selatan memiliki banyak komunitas, lingkungan geografis, dan pengalaman sosial.
Orang yang hidup di pesisir menghadapi ruang yang berbeda dari orang yang hidup di pegunungan.
Nelayan membaca laut.
Petani membaca bentang lahan.
Pelaut membaca angin dan bintang.
Masing-masing membangun pengetahuan dari ruang yang mereka hadapi.
Lalu, Apa yang Berubah Setelah Ponsel Datang?
Hari ini, kita tidak perlu menghafal posisi matahari untuk mencari arah.
Tidak perlu menunggu malam untuk mencari bintang.
Tidak perlu mengenali garis pantai untuk mengetahui posisi sebuah tempat.
Ponsel memberi jawaban dalam hitungan detik.
Tetapi teknologi juga membuat kita semakin jarang menggunakan pengetahuan yang dahulu terasa biasa.
Anak muda mungkin lebih cepat menemukan lokasi sebuah desa melalui peta digital daripada bertanya kepada orang tua di rumah.
Seseorang bisa mengetahui jarak antarkota tanpa pernah mengenali arah angin.
Pelaut menggunakan perangkat navigasi modern yang membuat perjalanan jauh lebih terukur.
Perubahan itu tentu bukan sesuatu yang harus ditolak.
Teknologi membuat navigasi lebih aman dan praktis.
Tetapi ada sesuatu yang menarik ketika kita melihat ke belakang.
Dulu, orang tidak memiliki layar untuk menunjukkan titik biru yang bergerak mengikuti posisi mereka.
Mereka memiliki mata.
Mereka memiliki ingatan.
Mereka memiliki bahasa.
Dan mereka belajar membaca tempat tinggalnya sendiri.
Mungkin karena itu, ketika seseorang tua menunjuk suatu arah tanpa membuka ponsel, kita sebaiknya tidak buru-buru menganggapnya sekadar kebiasaan lama.
Bisa jadi, ia sedang menggunakan peta yang tidak pernah kita lihat.
Peta itu ada di bahasa, di angin, di garis pantai, di posisi matahari, dan pada langit yang sejak dulu berada di atas kepala siapa pun yang sedang mencari jalan pulang.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Soppeng Hari Ini .
