Makassar, Katasulsel.com – Bontoala, Bontonompo, Bontomarannu, Bontobahari, Bontotangnga, Bontosunggu, Bontolebang.
Nama-nama itu tersebar di berbagai wilayah Sulawesi Selatan.
Sebagian merupakan nama kelurahan, desa, kecamatan, bahkan nama wilayah yang sudah begitu akrab di telinga masyarakat. Namun, ada satu hal yang mungkin selama ini luput diperhatikan: kata “Bonto” muncul berulang kali.
Apakah semuanya kebetulan?
Ternyata tidak.
Dalam bahasa Makassar, bonto berkaitan dengan bentang alam berupa bukit atau daratan yang lebih tinggi. Kamus Makassar-Indonesia yang dirujuk dalam penelitian di UIN Alauddin Makassar juga mencatat bonto sebagai istilah untuk “daratan”. Sementara sejumlah sumber kebahasaan mencatat maknanya sebagai bukit atau daratan.
Karena itu, ketika menemukan nama tempat yang diawali “Bonto”, kita sebenarnya sedang melihat jejak cara masyarakat masa lalu mengenali ruang di sekelilingnya.
“Bonto” Bukan Sekadar Awalan Nama Daerah
Dalam bahasa Makassar, bonto digunakan untuk menyebut bentuk bentang alam tertentu.
Makna tersebut menjelaskan mengapa unsur “Bonto” dapat ditemukan pada begitu banyak nama wilayah di Sulawesi Selatan.
Kelurahan Bonto Biraeng di Kota Makassar, misalnya, secara resmi menjelaskan unsur namanya sebagai “Bonto” dan “Biraeng”. Pemerintah Kecamatan Mamajang menyebut Bonto sebagai tanah atau daratan, sementara Biraeng merupakan nama tumbuhan yang memiliki kisah tersendiri dalam legenda setempat.
Ada pula Bontoala.
Sebuah publikasi Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan mengenai nama-nama wilayah di Kota Makassar menjelaskan Bontoala sebagai gabungan bonto yang berarti bukit dan ala yang berarti tempat.
Artinya, nama tempat tidak selalu dibuat secara sembarangan.
Kadang-kadang, nama tersebut merupakan catatan geografis yang diwariskan oleh masyarakat.
Dari Bentang Alam Menjadi Nama Tempat
Bayangkan Sulawesi Selatan pada masa ketika jalan raya, kendaraan, dan peta digital belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Masyarakat mengenali wilayah berdasarkan apa yang mereka lihat.
Ada sungai.
Ada pesisir.
Ada lembah.
Ada hutan.
Ada gunung.
Ada bukit atau tanah yang lebih tinggi dibandingkan daerah di sekitarnya.
Bentang alam semacam itu kemudian menjadi bagian dari cara masyarakat membedakan satu tempat dengan tempat lainnya.
Dalam konteks bahasa Makassar, bonto menjadi salah satu unsur yang dapat merekam kondisi tersebut.
Karena itulah toponimi—ilmu yang mempelajari nama tempat—menjadi menarik.
Nama sebuah wilayah dapat menjadi semacam arsip kecil tentang bagaimana masyarakat dahulu membaca lingkungannya.
Bontomarannu, Bontomanai, hingga Bontobahari
Makna bonto menjadi lebih mudah dipahami ketika kita melihat contoh-contohnya.
Di Kabupaten Gowa terdapat Kecamatan Bontomarannu. Nama ini juga muncul pada sejumlah wilayah lain di Sulawesi Selatan.
Salah satu penelitian mengenai Desa Bontomarannu di Kepulauan Selayar mencatat bahwa masyarakat setempat menjelaskan bonto sebagai gunung dan marannu sebagai tempat bergembira. Nama tersebut dikaitkan dengan kondisi daerah yang berada di kawasan pegunungan serta cerita masyarakat mengenai Kerajaan Gantarang.
Contoh tersebut memperlihatkan satu hal penting:
makna sebuah nama tidak selalu dapat dipukul rata hanya berdasarkan kamus.
Kata yang sama dapat memperoleh makna yang lebih khusus ketika digabungkan dengan kata lain dan ditempatkan dalam sejarah lokal tertentu.
Itulah sebabnya membaca nama tempat harus dilakukan bersama konteks masyarakat yang menggunakannya.
Lalu, Apa Hubungannya dengan Bontobahari?
Bontobahari di Kabupaten Bulukumba memberikan contoh yang menarik.
Secara administratif, Bontobahari merupakan salah satu kecamatan di Bulukumba, wilayah yang berada di pesisir tenggara Sulawesi Selatan.
Nama Bontobahari terdiri atas unsur bonto dan bahari.
Dalam berbagai sumber mengenai wilayah tersebut, Bontobahari dijelaskan berkaitan dengan kawasan laut atau tanah di sekitar laut. Wilayah ini juga dikenal sebagai salah satu kawasan penting bagi tradisi pembuatan perahu masyarakat Konjo.
Di sini kita bisa melihat bahwa nama tempat bukan hanya menggambarkan satu unsur geografis.
Nama dapat mempertemukan bentang alam dengan kehidupan masyarakat.
Bonto menunjukkan unsur ruang, sedangkan kata yang mengikutinya memberi keterangan atau identitas yang lebih spesifik.
Nama akhirnya menjadi penanda yang membantu masyarakat mengenali suatu wilayah.
Mengapa “Bonto” Bisa Muncul di Banyak Tempat?
Karena bahasa bekerja dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Jika suatu masyarakat hidup dan bergerak di lingkungan yang memiliki banyak bukit, dataran tinggi, atau tanah yang menonjol, unsur geografis tersebut sangat mungkin masuk ke dalam penamaan tempat.
Hal yang sama terjadi di berbagai wilayah dunia.
Nama sungai dapat menjadi nama desa.
Nama gunung dapat menjadi nama kabupaten.
Nama tumbuhan dapat menjadi nama kampung.
Begitu pula bentuk permukaan tanah dapat menjadi nama suatu wilayah.
Dalam konteks Sulawesi Selatan, bonto menjadi salah satu contoh bagaimana bahasa dan geografi bertemu dalam sebuah nama.
Jadi, banyaknya nama tempat yang mengandung “Bonto” bukan berarti semua wilayah tersebut memiliki sejarah yang sama.
Yang sama adalah adanya unsur bahasa yang merujuk pada bentuk ruang tertentu.
Tetapi Tidak Semua “Bonto” Harus Diartikan Persis Sama
Ini bagian yang penting.
Jangan sampai setelah mengetahui bahwa bonto berkaitan dengan bukit atau daratan tinggi, setiap nama yang mengandung kata tersebut langsung diterjemahkan secara harfiah dengan satu arti yang sama.
Toponimi tidak sesederhana kamus.
Sebuah nama dapat mengalami perubahan pengucapan, perubahan ejaan, perubahan administrasi, bahkan perubahan makna dalam ingatan masyarakat.
Contohnya dapat dilihat pada Bontomarannu di Kepulauan Selayar.
Sumber lokal-akademik mengenai sejarah desa tersebut menyebut bonto sebagai gunung dalam bahasa Selayar, sementara sumber mengenai Bontomarannu di wilayah Maros menyebut bonto dalam bahasa Makassar sebagai bukit atau daratan.
Perbedaan ini justru menarik.
Ia menunjukkan bahwa Sulawesi Selatan memiliki keragaman bahasa dan dialek, sehingga satu unsur bunyi atau kata dapat memiliki konteks penggunaan yang berbeda di wilayah tertentu.
Peta Bahasa Kementerian Pendidikan juga menunjukkan bahwa Sulawesi Selatan memiliki keragaman bahasa dan dialek, termasuk berbagai dialek Bugis yang tersebar di sejumlah wilayah.
Karena itu, sejarah sebuah nama sebaiknya tidak dipisahkan dari masyarakat yang menggunakannya.
Nama Tempat Adalah Ingatan Masyarakat
Ketika sebuah wilayah mengalami pembangunan, bentuk fisiknya dapat berubah.
Bukit bisa dipotong untuk pembangunan.
Sawah bisa berubah menjadi permukiman.
Jalan baru bisa membelah kawasan lama.
Gedung-gedung dapat menggantikan ruang terbuka.
Namun, nama tempat sering kali bertahan.
Nama yang dahulu menggambarkan kondisi geografis tetap digunakan meskipun masyarakat modern tidak lagi melihat bentuk lingkungan yang sama seperti generasi sebelumnya.
Di sinilah nama tempat menjadi menarik.
Ia dapat menyimpan kondisi masa lalu yang sudah berubah secara fisik.
Sebuah kawasan yang kini dipenuhi rumah dan pertokoan mungkin dahulu dikenal karena bukitnya.
Generasi sekarang mungkin tidak lagi melihat alasan di balik nama tersebut.
Tetapi namanya masih tinggal.
“Bonto” sebagai Jejak Cara Orang Sulsel Membaca Wilayah
Dari sini, kita bisa melihat bahwa toponimi bukan sekadar persoalan nama di papan jalan.
Ia berkaitan dengan cara manusia memberi makna terhadap ruang.
Masyarakat tidak hidup di ruang yang kosong.
Mereka memberi nama pada tempat yang mereka tinggali, datangi, lalui, dan ingat.
Nama tersebut kemudian diwariskan.
Generasi berikutnya menggunakannya tanpa selalu mengetahui cerita awalnya.
Begitu seterusnya.
Karena itu, sebuah kata seperti bonto dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah sosial yang lebih luas.
Ia memperlihatkan hubungan antara bahasa, lingkungan, mobilitas masyarakat, dan ingatan kolektif.
Bukan Hanya “Bonto”
Menariknya, bonto hanyalah salah satu unsur yang dapat ditelusuri dalam nama-nama tempat di Sulawesi Selatan.
Ada banyak unsur bahasa lokal lainnya yang juga berhubungan dengan lingkungan dan sejarah masyarakat.
Artinya, jika nama-nama wilayah Sulawesi Selatan dibaca dengan pendekatan kebahasaan dan sejarah, kita seperti sedang membuka peta yang memiliki lapisan cerita.
Nama-nama itu bukan sekadar penanda lokasi.
Sebagian di antaranya menyimpan petunjuk tentang seperti apa tempat tersebut dahulu, bagaimana masyarakat mengenalinya, dan apa yang dianggap penting oleh orang-orang yang hidup di sana.
Jadi, Kenapa Banyak Nama Daerah di Sulsel Diawali “Bonto”?
Jawabannya berkaitan dengan bahasa dan bentang alam.
Dalam bahasa Makassar, bonto merujuk pada bukit atau daratan yang lebih tinggi. Karena unsur tersebut digunakan dalam penamaan tempat, kita kemudian menemukan banyak wilayah di Sulawesi Selatan yang memiliki nama dengan awalan atau unsur “Bonto”.
Tetapi setiap nama memiliki cerita masing-masing.
Bontomarannu tidak otomatis memiliki sejarah yang sama dengan Bontoala. Bontobahari tidak dapat begitu saja disamakan dengan Bontomanai.
Kata yang sama dapat bertemu dengan lingkungan, sejarah, bahasa, dan ingatan masyarakat yang berbeda.
Itulah yang membuat nama tempat di Sulawesi Selatan menarik untuk ditelusuri.
Sebab, ketika seseorang menyebut Bontoala, Bontomarannu, Bontobahari, atau Bontomanai, yang terdengar mungkin hanya sebuah nama.
Namun, di balik nama itu ada jejak tentang bagaimana masyarakat masa lalu melihat tanah tempat mereka hidup.
Bukit, daratan, laut, tumbuhan, dan ruang hidup kemudian berubah menjadi kata.
Kata itu berubah menjadi nama.
Dan nama tersebut bertahan hingga hari ini.
Jadi, lain kali melihat nama daerah di Sulawesi Selatan yang diawali “Bonto”, jangan buru-buru menganggapnya sekadar nama tempat. Bisa jadi, di dalam satu kata itu tersimpan potongan kecil sejarah tentang bagaimana orang-orang sebelum kita membaca dan memberi makna pada tanah yang mereka tinggali.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
