Sulawesi Selatan, Katasulsel.com β Setiap hari orang Sulawesi Selatan menyebut nama tempat tanpa sempat bertanya dari mana nama itu berasal. Kita menyebut Bone ketika hendak pulang, Wajo ketika menjelaskan asal keluarga, Maros ketika menuju utara, atau Makassar ketika memberi tahu arah perjalanan.
Nama-nama itu terdengar biasa karena terlalu sering diucapkan. Padahal, sebuah nama tempat dapat menyimpan jejak bahasa, alam, manusia, perdagangan, kekuasaan, hingga ingatan masyarakat yang hidup jauh sebelum nama tersebut tercetak di papan jalan.
Dalam kajian kebahasaan dan sejarah, nama tempat disebut toponim, sedangkan kajian mengenai asal-usul dan maknanya dikenal sebagai toponimi. Penelitian tentang toponimi di Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa nama ruang tidak hanya berfungsi sebagai penanda lokasi. Ia juga dapat merekam hubungan masyarakat dengan alam, sejarah, kebudayaan, tokoh, dan nilai yang hidup di dalam masyarakat.
Lalu, bagaimana jika nama yang selama ini kita lewati ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih panjang?
Sebuah Nama Bisa Menjadi Arsip
Bayangkan sebuah kampung yang sudah berubah. Rumah-rumah kayu mulai berganti bangunan permanen, jalan tanah menjadi jalan beraspal, sawah berkurang, dan anak-anak muda pindah ke kota. Namun, namanya tetap digunakan.
Generasi berganti, sementara satu kata terus dipakai untuk menunjukkan tempat yang sama. Di situlah nama tempat menjadi menarik. Ia dapat bertahan ketika lingkungan sosial di sekitarnya sudah berubah.
Penelitian Toponimi Daerah Pinrang sebagai Sumber Sejarah yang diterbitkan Direktorat Jenderal Kebudayaan menunjukkan bahwa penamaan wilayah dapat digunakan untuk membaca sejarah dan kebudayaan masyarakat. Kajian tersebut juga menempatkan perkembangan wilayah Sulawesi Selatan dalam konteks sejarah kerajaan-kerajaan seperti Gowa-Tallo, Bone, dan Luwu serta kerajaan lain yang berkembang di kawasan tersebut.
Nama tempat akhirnya tidak hanya menjawab pertanyaan, βDi mana?β Ia juga dapat memancing pertanyaan lain: siapa yang pernah tinggal di sana, apa yang terjadi di sana, dan mengapa masyarakat dahulu memilih nama tersebut?
Pesisir Sulsel Menyimpan Nama dari Jalur yang Pernah Ramai
Jejak itu semakin menarik ketika melihat kawasan pesisir. Penelitian Universitas Hasanuddin mengenai sejarah masyarakat Melayu di Sulawesi Selatan mencatat sejumlah pelabuhan dan kawasan pesisir seperti Suppaβ, Pancana-Tanete, Siang, Tallo, Sanrabone, dan Gowa sebagai tujuan kedatangan orang Melayu sejak sekitar abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-17.
Mereka datang dalam berbagai kepentingan, termasuk pelayaran, perdagangan, hubungan sosial, penyebaran Islam, hingga perpindahan akibat pergolakan politik.
Artinya, nama tempat di pesisir tidak selalu bisa dibaca hanya dari kondisi geografisnya. Ada kemungkinan sebuah nama membawa jejak perjumpaan. Orang datang, kapal berlabuh, barang diperdagangkan, bahasa bertemu, dan masyarakat dari tempat berbeda hidup berdampingan.
Sebagian kemudian menetap. Sebagian lain melanjutkan perjalanan. Kawasan pesisir pun tumbuh sebagai ruang pertemuan, sementara nama-nama lama menjadi salah satu petunjuk bahwa tempat tersebut pernah terhubung dengan dunia yang lebih luas.
Nama Jalan Pun Punya Cerita
Kalau nama kabupaten terasa terlalu jauh, coba lihat jalan yang kita lewati setiap hari.
Di Makassar, penelitian mengenai toponimi jalan menemukan bahwa nama jalan dapat dikelompokkan berdasarkan unsur alam, kemasyarakatan, dan kebudayaan. Sejumlah nama juga berkaitan dengan tokoh sejarah, mitos, legenda, flora, sungai, serta nilai filosofis masyarakat.
Pemerintah Kota Makassar juga mencatat sejarah sejumlah nama jalan. Nama Ranggong, misalnya, merujuk kepada Ranggong Daeng Romo, tokoh perjuangan dari Sulawesi Selatan. Sementara Jalan Lasinrang merujuk kepada Lasinrang, pejuang dari Pinrang yang dikenal memimpin perlawanan di wilayah Kerajaan Sawitto terhadap Belanda.
Menariknya, orang bisa saja mengenal sebuah jalan karena tempat makan yang ada di sana. Nama yang sebenarnya menyimpan sejarah justru bisa kalah terkenal dari apa yang dijual di sepanjang jalannya.
Di situlah sebuah papan nama bekerja dengan cara yang sederhana. Ia berdiri diam, orang-orang terus melewatinya, tetapi nama yang tertulis di sana membawa seseorang dari masa sekarang kepada orang yang hidup jauh sebelumnya.
Alam Juga Bisa Meninggalkan Namanya
Tidak semua nama tempat berkaitan dengan manusia atau tokoh. Sebagian dapat berhubungan dengan lingkungan tempat masyarakat hidup.
Gunung, sungai, tumbuhan, hewan, bentuk tanah, dan karakter kawasan dapat menjadi bagian dari penamaan ruang. Kajian toponimi jalan di Makassar menemukan kategori penamaan yang berkaitan dengan flora, fauna, dan lanskap geografis. Penamaan tersebut memperlihatkan bagaimana lingkungan tidak hanya menjadi ruang hidup, tetapi juga masuk ke dalam bahasa yang digunakan masyarakat untuk mengenali ruang.
Hal ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Masyarakat masa lalu tidak memiliki Google Maps atau koordinat yang bisa langsung dibagikan melalui telepon seluler. Untuk menjelaskan sebuah tempat, mereka membutuhkan sesuatu yang mudah dikenali, seperti sungai, pohon, bukit, pantai, tokoh, atau kampung.
Dari penyebutan yang berulang, sebuah nama dapat lahir, digunakan, lalu diwariskan. Setelah bertahun-tahun, nama yang dahulu mungkin hanya digunakan dalam percakapan sehari-hari dapat masuk ke dalam peta dan administrasi pemerintahan.
Cerita tentang Nama Tempat Tidak Selalu Tunggal
Di bagian ini kita perlu berhenti sebentar. Sebab setiap nama tempat sering memiliki cerita, dan satu tempat bahkan bisa mempunyai beberapa versi asal-usul.
Versi pemerintah bisa berbeda dengan cerita masyarakat. Cerita orang tua bisa berbeda dengan catatan sejarah. Tradisi lisan bisa berbeda dengan hasil penelitian linguistik.
Itu bukan berarti salah satunya harus langsung dibuang. Tradisi lisan tetap penting karena dapat menyimpan ingatan masyarakat yang tidak selalu tercatat dalam dokumen. Namun, dalam penulisan jurnalistik, cerita tersebut perlu dibedakan dari fakta yang telah terverifikasi.
Karena itu, kalimat βkonon nama tempat ini berasal dari…β tidak boleh otomatis diperlakukan sebagai fakta sejarah. Perlu dilihat siapa yang mengatakan, dari mana sumbernya, apakah ada arsip, dokumen lama, penelitian, atau bukti lain yang dapat mendukung cerita tersebut.
Menarik bukan berarti boleh sembarangan. Justru semakin menarik sebuah cerita, semakin penting kita memeriksa asalnya.
Ketika Peta Berubah, Nama Bisa Tetap Tinggal
Wilayah administratif dapat berubah. Desa bisa dimekarkan, kecamatan dapat mengalami perubahan batas, jalan baru dibangun, dan kawasan yang dahulu berupa sawah dapat berubah menjadi permukiman.
Namun, nama lama tidak selalu hilang.
Ia bisa tetap digunakan masyarakat meskipun secara administratif tempat tersebut sudah mengalami perubahan. Sejarah Kota Makassar memperlihatkan bahwa nama-nama jalan juga mengalami perubahan seiring perkembangan kota. Catatan sejarah menunjukkan adanya nama jalan lama pada masa kolonial yang kemudian berganti dengan nama baru. Beberapa nama lama bahkan menyimpan informasi mengenai bentuk ruang kota pada masa sebelumnya.
Di sinilah peta modern memiliki keterbatasan. Ia menunjukkan kepada kita tempat berada di mana, tetapi belum tentu menjelaskan mengapa tempat itu disebut demikian.
Untuk mengetahuinya, kita membutuhkan arsip, penelitian, peta lama, manuskrip, wawancara, dan ingatan masyarakat.
Nama Tempat Akhirnya Menjadi Bagian dari Identitas
Ada alasan lain mengapa nama daerah terasa begitu dekat dengan manusia. Nama tempat tidak berhenti di peta. Ia ikut menempel pada identitas.
βOrang Bone.β
βOrang Wajo.β
βOrang Gowa.β
βOrang Pinrang.β
βOrang Makassar.β
Ketika seseorang merantau jauh, nama daerah asal sering menjadi salah satu hal pertama yang ditanyakan.
βDari mana?β
Seseorang menyebut nama daerahnya. Percakapan kemudian bisa melebar. Kenal siapa? Kampung mana? Sekolah di mana? Orang tuanya siapa?
Ternyata punya saudara yang sama-sama dikenal.
Jarak yang semula jauh mendadak memiliki jalan kecil untuk dipertemukan.
Nama tempat bekerja seperti itu. Ia menunjukkan lokasi, tetapi sekaligus dapat membuka hubungan sosial.
Satu Nama Bisa Membawa Banyak Zaman
Mungkin itu sebabnya kita perlu sesekali membaca ulang nama-nama yang sudah terlalu akrab.
Nama yang tertulis di papan jalan. Nama kecamatan yang tercetak di dokumen. Nama kampung yang disebut orang tua. Nama sungai yang dilewati setiap pagi. Nama pasar yang menjadi tempat bertemu.
Kita mungkin hanya melihat satu kata.
Peneliti bisa melihat bahasa. Sejarawan bisa melihat perubahan wilayah. Antropolog bisa melihat kebudayaan. Warga bisa mengingat cerita keluarganya. Sementara seorang anak yang tumbuh di sana mungkin hanya mengenalnya sebagai nama rumahnya.
Semua bisa memiliki konteks masing-masing, selama kita tahu mana yang merupakan bukti sejarah, mana yang merupakan hasil penelitian, dan mana yang masih berupa cerita yang diwariskan.
Maka, lain kali ketika melewati sebuah papan nama di jalan, mungkin tidak perlu buru-buru. Tidak perlu membuka buku sejarah yang tebal.
Cukup lihat sebentar.
Baca pelan-pelan.
Lalu tanyakan dalam hati:
Siapa yang pertama kali menyebut tempat ini dengan nama tersebut?
Mungkin jawabannya ada dalam arsip. Mungkin dalam manuskrip. Mungkin dalam penelitian yang baru ditemukan. Mungkin masih hidup dalam ingatan seorang tetua kampung.
Atau mungkin belum pernah benar-benar dicari.
Kendaraan terus bergerak. Orang-orang tetap menuju tujuan masing-masing. Papan nama itu tetap berdiri di tempatnya.
Nama yang sama terus dibaca, sementara ceritanya masih menunggu seseorang untuk bertanya.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
