Sidrap, Katasulsel.com ā Ada pemandangan yang membuat sejumlah pedagang tersenyum lebih lebar dari biasanya pada Car Free Day (CFD) di Jalan Lanto Daeng Pasewang, Pangkajene, Kabupaten Sidrap, Ahad (4/10/2026).
Di saat sebagian warga masih berjalan santai atau berolahraga, Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif bersama istrinya, Hj. Haslinda Syaharuddin, dan dua anak mereka justru sibuk keluar-masuk lapak pedagang.
Bukan untuk sekadar melihat-lihat.
Mereka membeli.
Satu lapak didatangi, membeli dagangan. Berpindah ke lapak lain, kembali membeli. Begitu seterusnya hingga hampir seluruh deretan pedagang UMKM yang berjualan di kawasan CFD mendapat giliran.
Bagi warga yang menyaksikan, suasana itu lebih mirip keluarga yang sedang berbelanja di pasar rakyat dibanding kunjungan resmi seorang kepala daerah.
Pedagang Tak Menyangka Dagangannya Dibeli Bupati
Di CFD Sidrap, para pedagang biasanya berharap dagangan mereka habis sebelum siang.
Namun pagi itu, beberapa di antara mereka mendapat “pelanggan spesial”.
Ada yang menjual kue tradisional, minuman segar, makanan ringan, parfum hingga aksesoris. Semuanya tak luput dari perhatian keluarga Bupati.
Menariknya, sebagian makanan yang dibeli tidak hanya dibawa pulang. Beberapa di antaranya langsung dibagikan kepada warga yang berada di sekitar lokasi.
Pemandangan sederhana itu membuat suasana CFD terasa lebih hangat dan akrab.
Anak-anak Jadi Magnet Utama
Jika biasanya pejabat menjadi pusat perhatian orang dewasa, kali ini yang mencuri perhatian justru dua anak Bupati Sidrap.
Banyak warga memperhatikan bagaimana mereka ikut memilih jajanan dan berinteraksi dengan para pedagang.
Anak-anak yang sedang bermain di kawasan CFD pun mendekat. Tak sedikit yang kemudian meminta foto bersama keluarga Bupati.
Dalam hitungan menit, kerumunan kecil terbentuk. Bukan karena acara resmi, melainkan karena rasa penasaran dan antusiasme warga.
Beberapa balita bahkan tampak digendong orang tuanya hanya untuk berfoto bersama.
CFD yang Berubah Jadi Ruang Bertemu
Selama ini CFD dikenal sebagai tempat olahraga pagi. Namun di Sidrap, suasananya perlahan berkembang menjadi ruang pertemuan warga.
Ada yang datang untuk jogging, ada yang mencari sarapan, ada yang berjualan, dan ada pula yang sekadar ingin bertemu teman lama.
Kehadiran Bupati di tengah keramaian itu memperlihatkan satu hal sederhana: masyarakat lebih mudah menyampaikan sapaan, keluhan, bahkan sekadar bercanda ketika bertemu di ruang terbuka seperti CFD dibanding dalam suasana formal.
Tak ada pagar pembatas. Tak ada protokoler yang kaku.
Yang terlihat hanya warga dan pemimpinnya berjalan di jalan yang sama.
Ngopi, Tradisi yang Tak Pernah Hilang
Setelah berkeliling dan berbelanja, Syaharuddin Alrif melanjutkan pagi harinya dengan cara yang sangat akrab bagi masyarakat Sidrap: ngopi.
Ia singgah di Warkop Seroeja bersama sejumlah tokoh dan warga.
Di Sulawesi Selatan, warung kopi bukan sekadar tempat menikmati secangkir kopi. Di sana sering lahir obrolan tentang kampung, pertanian, olahraga, harga gabah, hingga masa depan daerah.
Karena itu, bagi sebagian warga, momen ngopi bersama justru menjadi bagian paling “membumi” dari seluruh rangkaian CFD pagi itu.
Lebih dari Sekadar CFD
Di balik aktivitas membeli jajanan dan melayani foto bersama, ada pesan yang ditangkap banyak pedagang.
Bagi mereka, dukungan terhadap UMKM tidak selalu harus diwujudkan dalam program besar atau seremoni panjang.
Kadang, bentuk dukungan paling sederhana adalah datang, membeli, lalu membuat pedagang pulang dengan dagangan yang lebih sedikit dan senyum yang lebih banyak.
Dan pada pagi itu, CFD Sidrap bukan hanya menjadi tempat warga berolahraga, tetapi juga menjadi ruang tempat ekonomi kecil bergerak, anak-anak bergembira, pedagang mendapatkan pembeli, dan masyarakat bertemu langsung dengan pemimpinnya tanpa sekat.(*)
