Luwu Timur, Katasulsel.com — Dari tepian, Danau Matano di Kabupaten Luwu Timur tampak seperti danau pada umumnya. Namun, ada satu angka yang membuatnya berbeda: kedalaman maksimumnya mencapai sekitar 590 meter.

Danau yang berada di Kecamatan Nuha itu memiliki permukaan air sekitar 382 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dengan kedalaman tersebut, titik terdalamnya berada sekitar 208 meter di bawah permukaan laut.

Kondisi seperti ini dikenal dalam ilmu limnologi sebagai cryptodepression, yakni ketika permukaan sebuah danau berada di atas permukaan laut, tetapi dasar terdalamnya justru berada di bawah permukaan laut.

Danau Tektonik Purba

Kedalaman bukan satu-satunya hal yang membuat Danau Matano menarik. Danau ini merupakan danau tektonik purba yang terbentuk dalam proses geologi sangat panjang.

Matano termasuk dalam Kompleks Danau Malili bersama Danau Mahalona dan Danau Towuti. Kompleks ini dikenal sebagai salah satu kawasan danau purba penting di Indonesia dengan tingkat keendemikan fauna yang tinggi. Luas Danau Matano sendiri tercatat sekitar 164 kilometer persegi.

Kondisi geologis dan ekologis tersebut membuat Danau Matano bukan sekadar bentang alam, tetapi juga kawasan penting untuk penelitian.

Sejumlah spesies yang hidup di dalamnya bersifat endemik. Salah satunya adalah Corbicula matannensis, jenis kerang air tawar yang menjadi bagian dari ekosistem khas Danau Matano.

Pada Agustus 2026, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Luwu Timur juga menerima tim peneliti BRIN dalam rangka penelitian konservasi fauna akuatik endemik di kawasan Danau Matano dan Danau Towuti. Penelitian tersebut antara lain menyoroti Corbicula matannensis dan moluska yang berasosiasi dengannya.

Bukan Hanya Tentang Air dan Kedalaman

Di balik permukaannya, Danau Matano juga menyimpan jejak aktivitas manusia pada masa lalu.

Penelitian arkeologi bawah air menemukan tinggalan berupa tembikar dan artefak logam di sejumlah situs terendam di kawasan Danau Matano, termasuk wilayah Pulau Ampat, Desa Matano.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kawasan danau memiliki cerita sejarah yang jauh lebih panjang daripada yang terlihat dari permukaannya. Penelitian arkeologi bawah air di Danau Matano telah dilakukan secara sistematis, termasuk pada 2016 dan 2018.

Karena itu, Danau Matano memiliki setidaknya dua sisi yang menarik untuk ditelusuri. Di satu sisi, ia merupakan danau dengan karakter geologi yang tidak biasa. Di sisi lain, kawasan perairannya menyimpan tinggalan yang berkaitan dengan sejarah aktivitas manusia.

Ekosistem yang Masih Diteliti

Kekayaan Danau Matano juga menghadapi tantangan ekologis.

Universitas Hasanuddin melakukan survei untuk mengidentifikasi dan memetakan keberadaan ikan invasif serta tumbuhan air di Danau Matano. Kegiatan lapangan tersebut berlangsung pada Agustus 2025 dan diberitakan oleh Unhas pada 2026.

Dalam kegiatan tersebut, ikan butini dan kepiting endemik turut menjadi perhatian sebagai bagian dari indikator kondisi ekosistem Danau Matano.

Pemerintah Kabupaten Luwu Timur juga tengah mendorong pengembangan kawasan sekitar danau dengan tetap mempertimbangkan aspek lingkungan. Pada April 2026, Pemkab Luwu Timur berkonsultasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum mengenai penataan ruang di sekitar Danau Matano agar pengembangan kawasan, pariwisata, dan keberlanjutan lingkungan dapat berjalan beriringan.

Bagi pemerintah daerah, pengembangan kawasan tidak hanya berkaitan dengan daya tarik wisata, tetapi juga bagaimana ekosistem danau tetap terjaga.

“Danau Matano ini adalah aset strategis daerah yang harus dijaga keseimbangannya. Kita tidak hanya bicara pengembangan pariwisata, tetapi juga keberlanjutan lingkungan yang menjadi penopangnya,” kata Andi Juana Fachruddin.

Dari permukaannya, Danau Matano mungkin hanya tampak sebagai hamparan air yang dikelilingi daratan. Namun, kedalaman sekitar 590 meter, dasar terdalam yang berada di bawah permukaan laut, fauna endemik, jejak arkeologi bawah air, serta penelitian yang masih berlangsung membuat danau di Luwu Timur ini menyimpan cerita yang belum selesai ditelusuri.