Oleh: Dinda Fatimah Zahra


Kulempar namaku
ke sebuah lembah.
Ia kembali,
lebih lantang daripada berangkat.


Kulempar sekali lagi.
Lembah itu
menghafalku
lebih cepat daripada aku sendiri.


Lama-kelamaan,
aku tak lagi memanggil.
Aku belajar
menunggu suara pulang.


Setiap gema kembali
dengan tubuh yang lebih besar.
Sedang suaraku
semakin ringan.


Orang-orang berkata,
lembah itu murah hati.
Apa pun yang dilempar,
selalu pulang berlipat.


Maka kulempar lagi
namaku sendiri.


Ketika gema itu kembali,
aku tak lagi tahu
siapa yang sedang mencari siapa.

Tanjung Priok, 4 Agustus 2026